Selasa, 31 Januari 2012

Forum Usaha Edisi III



Usaha Buah Strawbery Organik Untung Besar

 

Walau belum berpengalaman dalam usaha budidaya buah strawbery, Gede Pinton petani asal Dusun Asah Gobleg, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali meraih untung besar bahkan mengalahkan petani strawbery yang telah berpengalaman.


            Pada perayaan IPSA ke-11 tahun, panitia menjajakan buah strawbery organik yang cukup laris terjual. Bukan karena  dijual murah, tetapi buah strawbery organik memiliki rasa yang manis dan menyegarkan yang dibudidaya oleh Gede Pinton.
Cukup menarik juga budidaya salah satu tanaman buah-buahan beriklim sedang yang banyak mengandung vitamin C yang setara dengan jeruk dan lemon  serta mengandung zat besi yang relatif tinggi ini. Berbekal pengalaman menerapkan Teknologi EM, nekat membongkar tanaman bunga pecah seribu yang masih produktif untuk diganti tanaman strawbery organik.
Padahal kebun itu telah membantu mengepulkan asap dapurnya. Sebagai gantinya dipilih strawbery, tanaman yang sama sekali tidak pernah diusahakan. Untuk memahami strawbery, Pinton terlebih dahulu melakukan studi banding ke Desa Pancasari, di kawasan agrowista Bedugul yang memang terkenal sebagai penghasil sayur-sayuran di Pulau Dewata.
Di atas lahan bekas tanaman bunga pecah seribu seluas 8 are itu Pinton mengeluarkan Rp 7,2 juta. Jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran petani dan di tengah lesunya perekonomian nasional. Modal itu untuk biaya pengolahan lahan, membeli 3000 bibit dan sarana lain. Meski masih pemula hasilnya ternyata mengalahkan petani yang telah berpengalaman. “Sangat jelas bedanya dibandingkan kebun lain yang pernah saya lihat,” kata Pinton sambil menunjuk satu tanaman dan membentangkan sehelai daunnya.
Memang budidaya strawberinya tumbuh bongsor, daunnya lebar dan berwarna hijau segar alami. Karenanya petani yang melihat langsung akan berdecak kagum. Pasalnya, pertumbuhan strawbery  di atas rata-rata. Saking suburnya tanaman yang baru berumur dua bulan seperti sudah berumur 4 bulan.
Melihat perkembangannya, pria berkumis tebal ini yakin modal yang ditanamkan tidak akan sia-sia dan lebih cepat balik. Keyakinannya cukup beralasan, dua bulan setelah tanam modalnya sudah kembali Rp 800 ribu hanya dari penjualan bibit. Sedangkan hasil utama berupa buah pada umur yang baru belajar berbuah. sudah tujuh kali dengan produksi rata-rata 4-5 kg. Umur produktif tanaman strawbery mencapai 3 tahun bila dipelihara dengan baik. Sepanjang musim kemarau panen buah strawbery bisa setiap hari.
Sambil menunggu puncak produksi, Pinton membuat bibit dari sulur-sulur yang tumbuh dari tanaman pokok. Bibitnya diincar oleh para petani sekitarnya karena subur dan sehat. Pinton sudah mendapatkan pesanan 2.000 bibit tanaman. Salah seorang pemesan, Kadek Neksen dihubungi terpisah mengatakan bahwa bibit yang dihasilkan Pak Pinton sangat bagus sehingga persentase kematiannya kecil.
Harga per bibit dipatok Rp. 1.200 sehingga dari hasil sampingan ini saja modalnya sudah kembali 2,4 juta rupiah. Satu tanaman paling sedikit bisa menghasilkan 5 bibit tanaman baru yang sudah siap dipasarkan pada umur 20 hari. Untuk menghasilkan bibit yang baik Pinton menggunakan Bokashi Kotaku dicampur dengan tanah sebagai media.
Beberapa pengaruh EM4 yang menguntungkan dalam pupuk bokashi tersebut  seperti dikatakan Kepala Cabang PT. Songgolangit, Ir. Ilham Rasidi, dapat memperbaiki perkecambahan bunga, buah, dan kematangan hasil tanaman, memperbaiki lingkungan fisik, kimia, dan biologi tanah serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit dalam tanah. Meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman, menjamin perkecambahan dan pertumbuhan tanaman yang lebih baik serta meningkatkan manfaat bahan organik sebagai pupuk.
Bagaimana Pinton yang sejatinya petani jeruk bisa menghasilkan kebun strawbery dengan keuntungan besar? Pemeliharaan dilakukan biasa-biasa saja, tidak ada cara khusus. Saat pengolahan lahan ditaburkan pupuk kandang yang sebelumnya disirami EM4. Pupuk organik Bokashi Kotaku digunakan saat penanaman dengan metode pop up, menabur di setiap lubang tanam. ‘’Pupuk Bokashi Kotaku mengandung unsur hara yang siap diserap akar tanaman dan aman meski bersentuhan langsung dengan akar. Resikonya terlalu tinggi bila menggunakan pupuk kandang karena kemungkinan masih mengandung penyakit,’’ jelas Pinton.
Lantas berapa dosis per tanaman? Pria yang menjadi petani sejak usia belasan tahun ini mengaku tidak ingat, tetapi yang pasti satu bedeng dengan populasi 96 tanaman menghabiskan dua zak pupuk Bokashi Kotaku. Setelah dikonversikan satu tanaman mendapat jatah 0,625 kg, satu zak pupuk Bokashi Kotaku berisi 30 kg. Pemeliharaan selanjutnya berupa penyiraman larutan EM4 sebanyak 200 ml per tanaman dua kali seminggu pada bulan pertama dan sekali seminggu memasuki bulan kedua.@ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar