Tampilkan postingan dengan label Edisi 13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 13. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Caver Edisi 13


SALAM REDAKSI

Bisnis Kambing
‘’Tak Ada Matinya’’

Melihat permintaan pasar yang cukup besar, potensi pengembangan budidaya ternak kambing di Indonesia sangat terbuka lebar. Pasalnya, dengan besarnya penduduk Indonesia sekarang ini, kebutuhan daging konsumsi menjadi sangat besar.

Terlebih ketika menjelang hari Raya Idul Adha, pedagang ternak kambing menjamur dipinggir-pinggir jalan. Daging kambing juga sangat dibutuhkan dalam berbagai acara pesta maupun acara keagamaan seperti selamatan, aqiqah, resepsi perkawinan (kambing guling dan sate kambing) dan sebagainya. Tidak heran jika dikatakan  budidaya kambing merupakan bisnis yang potensial dan ‘tidak ada matinya’..

Karena itu budidaya kambing sudah layak menjadi bisnis dalam skala besar dan bukan hanya sekedar usaha sampingan saja, karena  terdapat banyak potensi di dalamnya, seperti penjualan susu kambing, penjualan daging dan anakakan kambing, penjualan pupuk dan lain-lain.

Lengkapnya ada tiga manfaat untuk jangka pendek atau harian yakni berupa susu kambing,  jangka menengah atau bulanan memanfaatkan pupuk kambing baik bokashi padat (kotoran)  dan bokashi cair (air seni kambing), dan jangka panjang atau tahunan yaitu berupa daging dan bibit kambing. Jika diseriusi maka tidak mustahil keuntungan besar akan diperoleh.

Kalau ditilik lebih jauh, ternak kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai lingkungan, sehingga mudah dipelihara dan dikembangkan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah bahkan di daerah kering seperti di Timur Tengah sekalipun.  Kambing memiliki perkembangbiakan yang cepat. Umur 1,5 tahun sudah mulai beranak dan dalam dua tahun dapat beranak tiga kali. Setiap kali beranak dapat melahirkan dua ekor. 

Keberhasilan usaha ini tergantung perawatan (kualitas makanan, perawatan kesehatan,dan lain-lain.) Untuk sanitasinya agar tidak menggangu lingkungan sekitar karena bau kotoran kambing yang menyengat, pembudidayaannya seyogyanya  menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Sebab, menjaga kebersihan ternak berarti menjaga kesehatannya agar terhindar dari serangan penyakit. Kandang yang bersih memudahkan kambing berkembang biak. Minimal 2 hari sekali kandang dibersihkan dari kotoran dan sisa pakan. Tunggu apalagi, ternak kambing yuu!!!

Coloum Pak Oles

BUDIDAYA KAMBING ORGANIK

Perkembangan budidaya organik  dalam bidang peternakan, pertanian dan perikanan memberikan indikasi bahwa pemahaman masyarakat akan kebutuhan produk pangan yang sehat dan berkualitas, serta akrab lingkungan menjadi semakin meningkat.  Budidaya peternakan organik  disesuaikan dengan produk yang dihasilkannya.  Sama juga halnya dengan produk pertanian, misalnya:  beras organik, jagung organik, kedele organik, kopi organik, sayur organik, buah organik, dsb;  maka produk peternakan juga menghasilkan produk sesuai dengan yang dihasilkannya, misalnya: susu organik, telor organik, daging sapi organik, daging ayam organik, daging kambing organik, dsb.    Produk – produk organik bukan saja dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman, tetapi hasilnya juga diolah untuk kesehatan dan kecantikan.   Keuntungan yang dihasilkan dari usaha produk organik adalah dari usaha pengolahannya,  berupa produk kesehatan dan kecantikan.

Kambing organik dibudayakan untuk mendapatkan hasil daging dan susu organik.  Dari segi makanan, karena makanan kambing  adalah mahluk “vegetarian,”  alias pemakan daun dan ranting tanaman muda, maka daging yang dihasilkan cenderung organik.  Jika kambing sakit, maka perlu dirawat dengan menggunakan obat-obat kimia yang minimum dan mengutamakan tindakan pencegahan penyakit daripada pengobatannya, serta mengusahakan pengobatan berbasis tanaman herbal.   Penyakit kambing yang sering dijumpai adalah: sakit mata, sakit kulit/kudis/koreng, batuk, putting susu bengkak, cacingan, mencret, tetanus.   

Untuk penyakit tetanus memang sulit diobati, tetapi bisa diusahakan tindakan pencegahan saat pemotongan tali pusar pada bayi kambing dengan cara mengolesinya dengan air perasan kunyit yang diparut.   Untuk mengatasi penyakit Mencret pada kambing  cukup menggunakan mahkota dewa, jika di daerah anda tersedia buah mahkota dewa itu bisa kita gunakan untuk obat mencret, caranya adalah dengan mengiris iris beberapa buah mahkota dewa kemudian campurkan dengan garam serta air panas ,sesaat setelah dingin minumkan pada kambing yang terserang diare atau mencret tersebut , jika di daerah anda susah menemukan buah mahkota dewa anda bisa melakukan terapi makanan kambing dengan mencampur daun jambu biji yang di campur dengan garam secukupnya. 

Gejala Susu bengkak (ngrangkak) atau tidak keluar air susu disaat induk kambing menyusui anaknya kadang sering menyerang.  Untuk mengatasi penyakit ini  bisa digunakan beberapa siung bawang putih yang ditumbuk, kemudian  dicampur dengan air hangat dan diberi  garam.  Selanjutnya ramuan air tersebut digunakan untuk mengompress bagian yang sakit . 
Untuk pengobatan dan penanganan penyakit koreng, dilakukan dengan memisahkan kambing yang sakit dengan yang sehat.  Kemudian pengobatannya dilakukan dengan mengoleskan campuran berbagai jenis bubuk rempah dan bumbu dapur yang digoreng dengan minyak kelapa, kemudian dioleskan pada kulit yang sakit.  Kutu kambing juga bisa dihilangkan dengan menjaga kebersihan kandang dan memandikan kambing secara teratur.  Air perasan daun papaya, atau daun srengenge (sejenis bunga matahari liar) juga bisa digunakan untuk memandikan kambing yang terserang kutu.   

Untuk pengobatan sementara dan pertama pada penyakit mata dilakukan dengan  membersihkan mata kambing dengan daun sirih yang direndam dalam air panas dan dicampur dengan garam.   Cara pembuatan obatnya cukup mengambil 3 lbr daun sirih,kemudian di tuangkan air panas kedalam gelas yang di campur oleh garam,Setelah air garam bercampur daun sirih tersebut agak dingin, kemudian dikompreskan ke bagian mata kambing yang sakit tiga kali sehari, sampai sembuh. 

Untuk pengobatan penyakit pilek dan batuk pada kambing bisa digunakan beras kencur, dengan cara menumbuk beberapa  potong kencur yang dicampur dengan beras kemudian di kasih air panas, kemudian didinginkan dan selanjutnya diminumkan pada kambing yang sakit. 

Untuk pengobatan penyakit cacingan dilakukan dengan memberikan minuman campuran temu hitam  dengan gula merah setiap tiga bulan sekali.  Jika kurang nafsu makan juga bisa digunakan temu ireng di campur dengan garam sebagai perangsang nafu makan, untuk kambing yang terserang cacingan cukup parah hingga kurus sekali sebaiknya di berikan makanan daun jinitri untuk beberapa hari.

Menyemprot kandang dan memandikan kambing dengan campuran air dan EM dapat menyehatkan lingkungan kandang dan mengurangi bau khas kambing.  Jika kambing mencret juga bisa diberikan air yang dicampur dengan EM.  Kotoran kambing yang telah bercampur dengan EM dapat langsung digunakan untuk pupuk organik.

Susu kambing organik bisa dipasarkan dalam bentuk kemasan plastic agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat secara luas.  Pengolahan produk susu bisa dibuat yoghurt, susu bubuk, sabun, krim pelembab, lulur, masker, tablet, krupuk, permen, dodol, dll.  Kemajuan teknologi pengolahan susu kambing dan kemajuan informasi dapat meningkatkan permintaan masyarakat akan produk olahan susu kambing.  Bahkan pengolahan lemak kambing juga bisa digunakan untuk membuat produk kecantikan untuk meremajakan dan mengencangkan kulit.

Daging kambing muda organik juga rasanya sangat lezat.  Daging kambing muda dikenal karena kelembutan rasa dan rendahnya kolesterol.  Peternak kambing memiliki pasar yang jelas setiap tahunnya pada hari kurban.  Orang Indonesia juga memiliki budaya menyantap daging kambing.  Budidaya kambing organik masih terbuka luas dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.  Asal Pemerintah tetap memproteksi impor daging kambing, atau impor hewan kambing, maka harga daging kambing akan tetap pada batas harga yang menguntungkan peternak.  Jika kran impor daging kambing/ hewan kambing dibuka, maka harga pasar kambing akan merugikan peternak.  Jika peternak rugi dan terus merugi akibat kebijakan pemerintah yang salah, maka secara dbertahap akan terjadi penurunan populasi peternak dan ternak, yang mengakibatkan bangsa Indonesia akan terus ketergantungan akan daging kambing dari luar negeri.  Hal yang sama sudah terjadi pada peternakan sapi.  Ini merupakan tugas pemerintah dalam membuat kebijakan pengembangan peternakan kambing yang tepat, agar bisa menyejahterakan peternak kambing di Indonesia.  Selamat beternak.  Semoga sukses…..!

FOKUS UTAMA

Ternak Kambing
Tingkatkan Ekonomi Masyaralat

Adalah  potensi yang sangat luar biasa jika daerah-daerah ingin mengembangkan pembangunan agrobisnis. Pemerintah bisa memanfaatkan potensi agrobisnis domba/kambing ini untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Ternak kambing merupakan ternak yang sudah sangat lama dikenal oleh masyarakat petani maupun masyarakat umumnya. Di Indonesia terutama di pedesaan kambing merupakan salah satu ternak yang sangat banyak dipelihara. baik secara tradisional maupun secarar intensif. Karena kambing adalah ternak yang sangat mudah dipelihara dan dikembangbiakkan, baik dengan modal besar maupun dengan modal yang sangat kecil sekalipun.
Karena itu, sudah sewajarnya budidaya ternak kambing ini harus mulai  dilakukan dengan carar intensif, sehingga dapat menunjang ekonomi keluarga terutama masyarakat di pedesaan. 

Kambing sudah lama menjadi usaha masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50-150 gr/hari.

Usaha ternak di pedesaan tidak memerlukan modal yang besar, karena dapat dilakukan dengan sistem bagi hasil (bagi hasil anak), ataupun dengan pembelian induk yang tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan ternak besar. Penyediaan sumber pakan hijauan yang ada di pedesaan umumnya cukup berlimpah, seperti rumput, limbah pertanian (limbah sayuran, tanaman pangan, perkebunan), dan lainnya.

Selain itu, dalam berusaha ternak kambing tidak perlu memiliki lahan yang luas, hanya diperlukan kandang (sesuai dengan jumlah yang akan dipelihara), pakan yang dapat diambil dari kebun, atau digembalakan di lahan-lahan umum (lapangan, di perkebunan, dan tempat lainnya).

Dalam pemasarannya, menjelang  hari Raya Idul Adha merupakan moment yang paling ditunggu pedagang kambing.  Banyak sekali pedagang yang jual ternak kambingnya  untuk kepentingan qurban. Pada H-7 sudah banyak sekali para pedagang besar kambing  mengirimkan hewan tersebut ke daerah Jakarta atau kota besar lainnya.
Menghadapi hari Idul Qurban, petani mendapatkan harga yang cukup lumayan. Minimal domba jantan biasanya mencapai 1 juta rupiah per ekor, sementara yang agak besar biasanya mencapai 1 juta lebih. Harga domba itu selalu tergantung pada permintaan pasar. Di kota-kota besar banyak lembaga pemasok hewan yang biasanya selalu butuh cadangan hewan minimal 1000 ekor setiap bulan. Dengan segmentasi yang bervariasi, peluang usaha domba atau kambing memang selalu menggiurkan. Belum lagi kalau bisa memenuhi kebutuhan ekspor.

Sejauh ini, terbuka lebar potensi peningkatan pemasaran domba dan kambing. Dengan segmentasi pasar bervariasi berdasarkan klasifikasi kualitas, karakter, umur dan lain-lain yang selama ini belum sepenuhnya terisi, baik kebutuhan lokal maupun ekspor.
Melihat peluang usaha itu, upaya pembangunan agrobisnis ternak domba dan kambing kini dibangun dibeberapa daerah salah satunya di  Jawa Barat. Bukan hanya produk daging, makanan olahan, tetapi juga industri pupuk organik, pakaian, tas, dan banyak lagi. Pengembangan agrobisnis ternak domba dan kambing diharapkan pula mampu menjadikan daging ternak ini makin luas,
Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan menyatakan, Jawa Barat berencana mengekspor daging kambing ke Uni Emirat Arab (UEA) yang potensi permintaannya mencapai 2.000 ton per hari. "Pasar ekspor ke UEA cukup terbuka. Mereka suka daging kambing asal Indonesia, khususnya Jawa Barat," kata Ahmad Heryawan. Ahmad mengungkapkan, permintaan daging kambing asal Jawa Barat disampaikan perwakilan dagang negara Timur Tengah itu ketika mengunjungi  Bandung.

Selain Uni Emirat Arab, beberapa negara Timur Tengah lain juga menyatakan membutuhkan pasokan daging kambing untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri mereka.
"Konsumsi daging kambing di Timur Tengah paling tinggi dibandingkan lainnya, sedangkan di Indonesia tertinggi tingkat konsumsi daging sapi," katanya.

Di lain pihak, peluang ekspor daging kambing ke UEA itu belum dapat terpenuhi karena produksi daging kambing di Jawa Barat belum memadai mengingat populasi kambing di daerah ini baru lima juta ekor atau baru untuk mencukupi kebutuhan lokal.

"Kami akan menggenjot populasi kambing di Jabar untuk bisa meraih peluang ekspor," kata Heryawan. Setiap peternak yang selama ini memelihara 3-5 ekor kambing, ditingkatkan menjadi minimal 20 ekor kambing.(AGS)
 

FORUM EM

Dengan EM-4 Bobot Kambing Cepat Meningkat 

Sekarang air seni ternak kambing yang difermentasi  dengan EM4 banyak diburu petani. Pasalnya, Air seni ternak tersebut diyakini dapat meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan.karena kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman (unsur makro dan mikro) lebih lengkap sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

Ketua Kelompok Tani Prima Nusantara (KTPN) Depok Jawa Barat, Syukron Muchtar mengatakan, air seni kambing yang difermentasi dengan EM4 sangat baik  untuk meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, terbukti setelah memberikan bokashi padat, dan pupuk cair secara rutin setiap 4 hari sekali, tanaman selalu berbunga dan menghasilkan produksi yang berkualitas. 

Bagi Syukron, usaha ternaknya, sangat bermanfaat untuk usaha agrobisnis yang mulai digelutinya. Apalagi dengan teknologi EM4 yang membuah ternak lebih sehat dan gemuk. ‘’ Dengan teknologi EM4kenaikan berat badan cukup signifikan, ini merupakan trobosan baru yang inovatif dalam dunia pertanian’’katanya. 

Memang, permintaan pasar yang cukup besar, potensi pengembangan budidaya ternak kambing di Indonesia sangat terbuka lebar. Pasalnya, kebutuhan daging di dalam negeri masih sangat besar.  Dengan kondisi sekarang ini, bisnis penjualan kambing sangat menguntungkan. terlebih ketika menjelang hari Raya Idul Adha, selamatan, aqiqah, dan sebagainya. Tidak heran jika banyak yang memprediksi bahwa sampai kapan pun, ternak kambing merupakan bisnis yang potensial.

Selain itu, Syukron pun sangat bangga menggunakan EM4 pada ternak kambingnya. Pria bersahaja ini tak segan-segan mengajak tetangga dan masyarakat sekitar untuk melihat ternak kambingnya. Apalagi  sanitasi dengan EM4 kandang kambingnya tak berbau dan tidak mengganggu lingkungan.

                 ‘’Ada beberapa keuntungan yang sangat mencolok jika beternak menggunakan teknologi EM4. Pertama, ternak cepat besar, rata-rata 4 kilogram perbulan rata-rata kenaikannya. Kedua bisa memangkas biaya produksi, karena tidak setiap hari harus mencari pakan ternak (tenaga kerja). Ketiga, ternak tidak mudah terserang penyakit (selalu sehat). Keempat, sangat efektif untuk sanitasi sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar. Dan kelima  menghasilkan pupuk organik yang berkualitas baik cair maupun padat,’’katanya.

           Tak dipungkiri penggunaan teknologi Effective Mikroorganisme untuk ternak kambing sangat memberikan manfaat. Seperti dialami syukron. ‘’Awalnya saya coba-coba memelihara ternak kambing hanya 5 ekor, kemudian 30 ekor, 45 ekor dan terakhir saya memiliki 75 ekor, mau sedikit atau banyak sama saja, pokoknya dengan EM4 segalanya menjadi mudah,’’katanya bangga.

                 Untuk tahun depan, Syukron sudah menargetkan akan memelihara ternak kambing hingga mencapai 300 ekor.’’Saya akan buktikan beternak kambing bukan sesuatu yang sulit tetapi sesuatu yang menyenangkan serta memberikan keuntungan yang sangat luar biasa.’’ Tetapi tentunya dengan menggunakan teknologi EM4.’’katanya.

              ‘’Masyarakat di desa ini banyak yang beternak kambing dan mereka sepertinya kewalahan mengurusinya karena harus mencari pakan setiap hari dan biaya yang tinggi, sedang saya beternak kambing masih bisa ‘kongko-kongko’ dan menerima tamu., pokoknya  tidak membutuhkan waktu  banyak untuk mencari pakan dan biaya produksi  sangat minim sehingga saya masih bisa mengerjakan pekerjaan lain seperti bercocok tanam dan lain sebagainya. Kuncinya itu cukup dengan menggunakan teknologi EM4,’’katanya. 

            Dengan aplikasi EM4 pada ternak kambing ini, sekarang  semakin banyak masyarakat bahkan dinas-dinas peternakan yang berminat menggunakan EM4 baik untuk pakan, minuman ternak, jamu ternak dan juga sanitasi. ‘’ Saya juga memberikan penyuluhan ke peternak lain, tentang bagaimana aplikasi EM-4 serta kegunaannya.  Dan Alhamdulillah, masyarakat menyambut baik usaha  ini,”katanya bangga.

Jadi tunggu apalagi !!! Beralihlah ke Teknologi EM4. Beternak Kambing pasti menyenangkan.* (AGS)