Tampilkan postingan dengan label Edisi V. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi V. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Salam Redaksi Edisi V
Mengolah Sampah Rumah Tangga
Sampah rumah
tangga memang klihatnnya sepele, tapi jangan salah, sampah rumah tangga ini penyumbang
terbesar sampah yang menggunung di tempat pembuangan sampah. Seperti di
ketahui, untuk wilayah Jakarta
saja, setiap hari mengirim 6000 ton sampah ke Tempat Pengiriman Sampah Terpadu
Bantar Gebang Bekasi.
Volume produksi
sampah yang besar ini, melebihi
kemampuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengolahnya. Untuk itu, sangat
diperlukan partisipasi warga masyarakat agar masalah sampah yang tak pernah
putus ini, dikit demi sedikit bisa tertangani.
Perlu
dicermati, perilaku warga seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, di
jalan di sungai dan di tempat lain masih sulit diubah. Berbagai slogan,
larangan edukasi ke warga tak henti dilakukan. Namun karena prilaku jelek ini
sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit diubah.
Walhasil,
masalah sampah rasanya tidak kunjung bisa diselesaikan dengan tuntas. Meskipun
sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, LSM yang cinta
lingkungan dan lembaga lain yang peduli dengan masalah sampah
Sampai
sekarang ini, sampah tetap saja terlihat menumpuk di mana-mana. Masyarakat
masih suka membuang sampah sembarangan. Tempat sampah khusus sudah disediakan, misalnya
tempat sampah bahan organik, sampah
khusus plastik, dan tempat sampah khusus logam. Anehnya tempat sampah itu
sepertinya tidak berfungsi. Tempat sampah organik isinya plastik, sandal, dan
sampah-sampah lain campur jadi satu.
Karena
itu, masalah sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah khusus saja.
Penyelesaian masalah sampah sebaiknya dimulai dari tingkat yang paling rendah
yakni penghasil sampah. Cara praktis mengelola sampah rumah tangga itu
merupakan alternatif yang mudah bagi warga kota-kota besar dan bermanfaat bagi dunia
pertanian.
Dari
mengolah sampah sendiri secara bertahap diharapkan terjadi perubahan perilaku
masyarakat. Masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan. Masyarakat tidak
membuang sampah di selokan atau saluran air. Masyarakat membuang sampah pada
tempatnya.
Masyarakat
tidak lagi membakar sampah. Dan yang lebih penting muncul ’social control’ dari
masyarakat itu sendiri untuk mengelola sampah dengan baik. Misalnya saja ada
semacam hukuman sosial jika ada orang yang membuang sampah sembarangan. Atau
orang akan menegur orang lain yang membuang sampah sembarangan. Lebih jauh
lagi, orang malu dan takut membuang sampah sembarangan.
Cara
terbaik mengatasi masalah sampah adalah mengolah sampahnya masing-masing (sampah
rumah tangga). Lalu bagaimana mengolah dengan praktis, tentunya dengan
teknologi daur ulang sampah yang efektif menggunakan bakteri pengurai yang
ramah lingkungan dan terjangkau di masyartakat sambil menciptakan sistem
edukasi yang tepat bagi masyarakat.
Justru
pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat, dan menyelesaikan sampah sejak
dari rumah, sudah bisa memutus mata rantai masalah sampah di perkotaan. Tak ada
salahnya kalau masyarakat kota
bergerak sendiri untuk mengolah sampahnya sendiri. Maka, marilah beramai-ramai
mengelola sampah sendiri.#
Coloum Pak Oles Edisi V
MENGELOLA SAMPAH ADALAH TUGAS KITA
BERSAMA
Setiap orang,
keluarga, unit usaha, industri, masyarakat dan sebagian besar aktivitasnya
selalu menghasilkan sampah. Untuk lebih halusnya sampah disebut
limbah. Produk buangan dari hasil proses menghasilkan sesuatu disebut
sampah atau limbah. Limbah itu harus dikelola dengan baik agar tidak
merusak lingkungan dan kehidupan. Tempat mengelola limbah juga harus
terisolir dalam area tertentu agar tidak bercampur dengan area yang
bersih. Limbah juga harus dipilah antara yang beracun dengan yang tidak
beracun, antara yang organik dengan yang anorganik. Limbah dapur
dipisahkan sendiri, demikian juga limbah kaleng, kaca, besi, plastik semuanya
dipisah-pisahkan agar gampang mengelolanya.
Siapa yang
bertanggung jawab terhadap masalah sampah? Jawabannya adalah
masing-masing orang atau kelompok orang yang menghasilkan sampah itulah yang
bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Pemerintah mengelolanya
dengan membuat peraturan dan menyediakan infrastruktur pengelolaan
sampah. Masing-masing orang, keluarga, unit usaha, pabrik, tempat
fasilitas umum, perkantoran, sekolah, rumah sakit, semuanya harus bertanggung
jawab terhadap sampahnya masing-masing. Dalam skala yang lebih besar
pemerintah harus memiliki rancangan besar tentang pengelolaan sampah di
daerahnya, dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi. Rancangan
besar ini mencakup penentuan lokasi, luas area, pengangkutan, teknologi
pengolahan, sistim daur ulang dan pembiayaan.
Masalahnya
sekarang adalah masing-masing orang, kelompok orang, organisasi, industri dan
pengelola fasilitas umum belum maksimal bertanggung jawab terhadap
sampahnya masing-masing. Semuanya lempar batu sembunyi tangan.
Contohnya? Dari kebiasaan masyarakat yang masih suka membuang sampah
sembarangan, merokok dan membuang puntung rokok sembarangan, jalan raya yang kotor, jalan kecil dan gang yang jorok,
selokan yang tidak terawat, tempat fasilitas umum yang berbau parfum pesing dan
sengak, sampah pasar yang berserakan, pertokoan dan mall yang tidak
menyesuaikan jumlah toilet dengan jumlah pengunjungnya, pemulung yang
berkeliaran merobek dan mengais sampah yang sudah dibungkus, sampah rumah tangga yang dicampur-campur, semuanya itu membuat
kita pusing sendiri. Ditambah lagi dengan ketidak seriusan pemerintah
dalam menangani sampah, sehingga sampah itu merupakan beban besar yang tidak
bisa ditangani dengan baik.
Apa akibatnya
jika sampah tidak dikelola dengan baik? Fatal! Pertama, kesehatan
masyarakat terganggu, masyarakat bisa sakit dan biaya pengobatan sangat mahal
yang harus ditanggung oleh masyarakat itu sendiri dan juga oleh negara.
Kedua, investasi menurun. Sedikit orang atau pengusaha yang mau
berinvestasi di daerah jorok dan kumuh, sehingga perputaran ekonomi menjadi
lambat, lapangan pekerjaan sedikit. Perkembangan dan pembangunan
daerah menjadi lambat. Ketiga, daerah jorok dan kumuh
merupakan sarang tindak kriminal, kekerasan dan prostitusi. Keempat,
daerah jorok dan kumuh mencerminkan kehidupan masyarakat dan kehidupan
pemerintahnya juga jorok dan kumuh. Oleh karena itu penting sekali
dilakukan pengelolaan sampah yang baik, yang terpadu dengan teknologi yang
tepat dan efisien, sehingga memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih
baik bagi masyarakatnya.
Dari mana dan
kapan memulainya? Dari diri sendiri dan sekarang. Masing-masing
dari kita harus memiliki komitmen untuk mengelola sampah yang kita hasilkan
secara serius. Masing-masing orang harus memiliki rasa malu untuk jorok
dan takut untuk sakit akibat sampah yang tidak dikelola dengan baik.
Pemerintah harus membuat peraturan daerah yang
tepat dan bermanfaat untuk mengelola sampah masyarakatnya. Pemerintah
harus serius memikirkan dan merancang gambaran besar pengelolaan sampah
daerahnya sendiri. Pemerintah harus kreatif, inovatif mencari solusi
pengelolaan sampah baik dalam jangka pendek, maupan jangka panjang. Kita
semua harus bersatu padu memikirkan dan menyelesaikan pengelolaan sampah dengan
baik. Jangan setengah-setengah, jangan sendiri-sendiri. Masalah
sampah bisa diselesaikan jika kita serius, sinergis dan kontinyu. Selamat
bekerja, semoga sukses. @
Forum Utama Edisi V
Sulitkah Mengolah
Sampah?
Banyak yang
beranggapan, sampah merupakan bahan buangan yang tak berharga. Padahal, sampah
sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik yang berguna
bagi tanaman dan memiliki nilai ekonomis jika dikelola secara baik.
Tak hanya itu,
dengan mengolah sampah secara kontinyu, akan mengurangi permasalahan yang terus
meningkat seiring perjalanan waktu, terutama disebabkan oleh terus meningkatnya
populasi dan kebutuhan manusia secara langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan
semakin meningkatnya volume sampah
(limbah) dan tentunya menjadi beban bagi lingkungan.
Aktifitas
manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam selalu meninggalkan sisa (sampah) yang
dianggapnya sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukanya sebagai barang
buangan.
Sampah akan
sangat menjadi bermasalah, untuk kota yang padat
penduduknya seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Sebab dengan
penduduk yang besar, volume sampah juga akan sangat besar bahkan sampai malebihi kapasitas daya tampung Tempat Pembuangan
Akhir (TPA).
Tak berlebihan
jika permasalahan sampah ini menjadi krusial dan tidak bisa disepelekan.
Bahkan, dapat diartikan sebagai masalah kultural karena dampaknya juga
bersinggungan dengan berbagai sisi kehidupan, terutama di kota besar. Berdasarkan perkiraan, volume
sampah yang dihasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari, sehingga
untuk kota besar seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 12 juta orang
menghasilkan sampah sekitar 6000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara
benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah
berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran
air, udara, tanah, dan sumber penyakit.
Sampah sebagai
barang yang memiliki nilai tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang
menjijikan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan
yang berguna lainnya. Pengolahan sampah harus dilakukan dengan efektif dan
efisien, yaitu sedekat mungkin dengan sumbernya, seperti RT/RW, sekolah, rumah
tangga, walhasil jumlah sampah dapat
dikurangi.
Sampah merupakan
sumber daya alam yang sangat besar, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik akan
menjadi sangat berguna berupa pupuk yang sangat penting sebagai unsur hara di
dalam tanah dan tentunya nutrisi bagi tanaman.
Pengelolaan
sampah rumah tangga itu dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair dan pupuk padat organik.
Pupuk organik ini sangat baik bagi tanaman dan bermanfaat bagi kesehatan
manusia, karena tidak meninggalkan residu dalam tanaman seperti terjadi pada
penggunaan pupuk kimia secara serampangan sehingga hasil tanaman akan aman bila
dikonsumsi.
Menurut pakar
lingkungan dari Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan (IPPL) Jakarta. Prof. Dr. M. Soerjani, pemanfaatan sumber daya (ruang,
air, energi, waktu dan sebagainya) oleh kebanyakan manusia, telah dilupakan
efektivitas serta faktor optimalisasi penggunaan sumber daya. manusia telah
mendahulukan peningkatan keuntungan yang didorong oleh ketamakan atau kerakusan
sehingga terjadi persaingan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
Hal
ini terjadi dengan pengurasan sumber daya secara berlebihan sehingga
menghasilkan sisa sumber daya yang sebagian tersia-sia dengan nilai atau mutu
yang rendah. Padahal melalui konsep
pemanfaatan sumber daya yang optimal tidak perlu dihasilkan sisa yang
berlebihan atau sisa yang tercemar. Oleh karena itu sebenarnya semua sisa
pemanfaatan sumber daya harus dipikirkan pemanfaatannya yang memungkinkan.
Karena itu yang dituju dalam pengelolaan sumber daya adalah konsep resource
cycle atau material cycle.
‘’Misalnya, sisa
kertas mungkin masih bisa dipergunakan untuk pembungkus, dan lain-lain. Sisa
sayuran di pasar mungkin masih bisa dipergunakan untuk acar dan lain-lain,’’katanya
Soerjani juga
mengatakan, limbah kota
yang masih berguna, baik dari pasar, kantor, rumah makan atau dari rumah tangga langsung dibawa ke
tempat sampah atau penimbunan limbah secara sia-sia. Padahal, limbah yang masih
bisa dimanfaatkan semestinya diupayakan untuk diproses terlebih dahulu. Limbah
sisanya yang dapat dibakar dapat dimanfaatkan energinya dengan menggunakan
insinerator, misalnya digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga
listrik seperti di Jepang. Atau dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan
pertanian, dengan teknologi fermentasi menggunakan mikroorganisme aktif.
Untuk itulah dalam memanfaatkan dan mendaur
ulang limbah menjadi bahan-bahan lain yang bernilai ekomonis, diperlukan
perencanaan yang konseptual, menyeluruh dan penanganan dengan menggunakan
teknologi yang memadai. Sehingga permasalahan limbah dapat diatasi dan dapat
tercipta lapangan kerja dan wirausaha baru yang profesional berbasis
pemanfaatan sampah kota
dengan produk utama berupa komoditas pupuk organik, pakan ternak dan lain-lain.
Sementara itu
Bagong Suyoto, Ketua Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional mengatakan, pengelolaan
sampah dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti yang kita bayangkan. Sampah
banyak dijumpai dimana-mana tanpa adanya pengelolaan yang baik. Pengelolaan
yang buruk mengakibatkan pencemaran baik pencemaran udara, air di dalam dan
atas permukaan, tanah, serta munculnya berbagai macam penyakit yang mengancam
kesehatan warga
‘’Keberadaan
sampah dikehidupan sehari-hari tak lepas dari tangan manusia yang membuang
sampah sembarangan, mereka menganggap barang yang telah dipakai tidak memiliki
kegunaan lagi dan membuang dengan seenaknya sendiri. Kurang kesadaran akan
pentingnya kebersihan menjadi faktor yang paling dominan, disamping itu
kepekaan masyarakat terhadap lingkungan harus dipertanyakan. Mereka tidak
mengetahui bahaya apa yang akan terjadi apabila tidak dapat menjaga lingkungan
sekitar,’’katanya.
Menurut Bagong,
sampah dalam kehidupan sehari-hari memiliki manfaat dan kerugian, bermanfaat jika
dimanfaatkan dengan baik dan merugikan jika dibiarkan tanpa ada pengelolaan
yang baik. Dampak negatif dari pengelolaan pengolahan sampah yang tidak tepat
akan menyebabkan beberapa kerugian.
Pengelolaan yang
buruk lanjut Bagong, mengakibatkan pencemaran baik pencemaran udara, air di
dalam dan atas permukaan, tanah, serta munculnya berbagai macam penyakit yang
mengancam kesehatan warga. Pencemaran diberbagai elemen akan terjadi, sampah
yang menumpuk menyebabkan pencemaran udara, sampah yang dibuang sembarangan di
sungai menyebabkan pencemaran air, membuang sampah anorganik seperti plastik
dan kaleng akan menyebabkan pencemaran tanah karena benda tersebut sulit
diuraikan oleh bakteri pengurai tanah.
Pencemaran-pencemaran
itu nantinya akan membuat kerugian bagi masyarakat sendiri karena menyebabkan
beberapa penyakit. Pola hidup kotor dengan membuang sampah sembarangan yang
merupakan salah satu pengelolaan dan pengolahan sampah yang tidak tepat yang
kedepannya akan menyebabkan kerugian yang fatal bagi lingkungan dan masyarakat
sekitarnya.
Jika sampah
dikelola dan diolah dengan baik, akan menghasilkan manfaat positif bagi
masyarakat. Lingkungan menjadi bersih, pencemaran dapat diminimalisir, dapat
tercipta beberapa barang yang bermanfaat bagi manusia jika di daur ulang,
Sampah bisa dimanfaatkan sebagai kompos untuk pupuk organik, selain itu juga
bisa diolah menjadi energi bio arang, biomass dan energi untuk listrik. Lebih
jauh sampah dapat dijadikan barang-barang aksesoris, barang fungsional dan
sebagai bahan bangunan.
Untuk keperluan
pupuk organik dari sampah kota ini, apabila
rata-rata luas lahan di Kabupaten yang ada di Indonesia minimal 60.000 ha, maka
khusus pulau jawa yang mencapai 90 % lahan sawah dan perkebunan yang sudah
rusak kandungan bahan organiknya itu membutuhkan pupuk organik antara 5 hingga
10 ton/ha. Dan kebutuhan pupuk organik sebanyak itu jelas tidak akan terpenuhi
apabila sampah di kota-kota tidak diolah menjadi pupuk organik.
Sampah kota menjadi masalah di
perkotaan namun di desa menjadi tumpuan harapan. Hanya saja kualitas pupuk
organiknya harus bagus, kontinuitasnya terjamin, kemudahannya dapat terjangkau
oleh petani di pedesaan dan yang pasti harganya harus terjangkau dibawah pupuk
anorganik yang kini semakin meningkat.*
Masalah sampah
memang bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Kesadaran
masyarakat untuk mengelola sampah dengan terlibat secara aktif tentu akan
mengurangi beban pemerintah. Sehingga, jika Pemprov DKI merasa kewalahan akibat
kekurangan kendaraan pengangkut sampah, volume sampah tidak terlalu menumpuk
seperti saat ini. (A)
Forum EM Edisi V
Mengolah Sampah Dengan EM4
EM4 Sangat dipercaya dalam mengolah sampah
rumah tangga, karena disamping murah, efektif,
cepat dan ramah lingkungan.
Setidaknya ini
pengakuan beberapa warga masyarakat dalam sosialisasi sampah rumah tangga di
lingkungan RT/RW baik ketika sosialisasi di Kecamatan Sukolilo Surabaya Jawa
Timur dan berbagai sosialisasi sampah rumah tangga di Jakarta serta di kota-kota besar lainnya..
Menurut Hadi, memproses
sampah menjadi kompos merupakan langkah yang paling positif, apalagi menggunakan
teknologi EM4 Pengolahan limbah dalam proses penguraiannya, walhasil lebih
cepat, lebih efektif dan ramah lingkungan. ’’Kami memang mempercayakan EM4
sebagai bahan pengurai yang sangat efektif dalam membuat kompos, karena
disamping murah, dan ramah lingkungan, kompos atau bokashi yang dihasilkan
memiliki kualitas yang baik, ‘’kata Hadi, warga Sukolilo Surabaya ini .
Begitu juga dikatakan
Mukri yang hadir dalam sosialisasi pada Program Bintaroku Peduli, Majalah
Trubus dan PT. Songgolangit Persada Cabang Jakarta, membuat bokashi dengan EM4
lebih efektif, karena tidak memakan tempat dan dilakukan secara cepat.’’Dengan
teknologi ini saya rasa masyarakat akan lebih terdorong dalam upaya mencari solusi menanggulangi sampah yang akhir-akhir
ini meresahkan warga karena menimbulkan bau yang tidak sedap,’’katanya.
Menurut Mukri seorang
warga yang peduli dengan lingkungan dari Kecamatan Bintaro ini telah mempraktekkan
mendaur ulang sampah menjadi kompos dan berbagai barang-barang bermanfaat
lainnya.
‘’Di lingkungan kami, warga juga telah memakai
dua tong sampah yang berbeda, yakni tong sampah untuk bahan organik dan on
organik. Dengan pemisahan tempat pembuangan ini, maka pengelolaan sampah baik
di rumah maupun di tempat pembuangan akhir akan lebih mudah,’’katanya.
Sampah
organik bisa dimanfaatkan untuk kompos, sedangkan sampah non-organik bisa
dimanfaatkan untuk didaur ulang menjadi berbagai macam barang. Misalnya, Mukri
membuat topi dari kantong plastik bekas pembungkus makanan, sedotan untuk bunga
atau taplak meja, dan kantong plastik bekas detergen atau pelembut pakaian
untuk tempat sepatu.
‘’Kami
menyiapkan satu tong plastik besar untuk menampung sampah organik satu RT.
Sejak dari rumah, warga telah memisahkan sampah hijau. Sampah itu lalu disetor ke
tong yang besar. Jadi, tidak perlu setiap rumah memiliki tong plastik sendiri
untuk membuat kompos,’’katanya.

EM4 dikembangkan
oleh Profesor Teruo Higa dari Jepang. Dia adalah Guru Besar Fakultas Pertanian
Universitas Ryukyu di Okinawa, Jepang. Di Indonesia, teknologi EM dikembangkan
oleh oleh Ir. G N Wididana M.Agr atau Pak Oles yang terhimpun dalam Indonesia
Kyusei Nature Farming Societies.
EM4 Pengolahan limbah
merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan dengan
konsep mutakhir dalam bidang mikrobiology daur ulang limbah untuk memfermentasi
limbah organik cair dan padat secara efektif. Sedang manfaat EM4 Pengolahan Limbah ini
adalah mempercepat proses penguraian limbah organic cair maupun
padat, menekan bau yang tidak sedap
( H2S dan NH3 ), menurunkan kadar BOD dan COD,
menekan perkembangan mikroorganisme pathogen dan dapat digunakan untuk mendaur
ulang limbah organik menjadi kompos atau
bokashi
EM4 sering
digunakan sebagai bioaktivator dalam pembuatan pupuk kompos padat dan juga
untuk mengolah limbah cair.
Lalu bagaimana
membuat kompos atau bokashi dari sampah rumah tangga? Sampah yang bisa
dijadikan kompos adalah sampah apa saja yang berasal dari rumah tangga yang
bersifat organik seperti potongan sayuran bayam, kangkung, singkong, jagung,
dan sayuran basi, sampah daun-daunan pekarangan rumah dan lain-lain..
Sebelum
dijadikan bokashi, sampah harus dipisahkan antara yang organik dan non organik
seperti sampah plastik, kardus, kertas, bekas minyak, oli, air sabun, dan
sebagainya Untuk membuat kompos atau bokashi skala rumah tangga diperlukan ember plastik atau gentong plastik. Apakah itu bekas kaleng cet yang berdiameter 30 cm, atau yang baru, pokoknya wadah yang bisa ditutup. Dibagian bawah dalam tong tersebut diberi tutup panci yang telah dilobangi atau batu bata agar air lindi yang menjadi pupuk cair bisa terpisah dengan pupuk bokashi padat.
Setelah tong
atau ember siap, sampah hijau berupa sisa sayuran, buah, potongan rumput, daun
segar, dan sebagainya bisa dimasukkan. Sebaiknya sampah hijau ini dicincang
dulu, atau diiris kecil- kecil agar mempercepat proses penghancuran.
Untuk menambah pengayaan nutrisi kompos yang
dihasilkan bisa juga dicampur serbuk gergaji, sekam, kotoran ternak dan dedak. Bahan-bahan
tambahan ini memakai perbandingan 1:1, diaduk dengan bahan kompos tadi
Kemudian disemprotkan
larutan EM4 (Effective Microorganism yang sudah dicampur dengan molase (limbah
kecap), larutan gula merah, atau gula putih. Pembuatan kompos bisa dilakukan
sekaligus, atau selapis demi selapis. Misalnya setiap dua hari ditambah sampah
yang baru. Kapasitas komposter ini sekitar 5 - 20 kg. Untuk sekali pengolahan, komposter bisa menghasilkan kompos sebanyak 5 - 10 kg, tergantung besar kecilnya komposter tersebut . Komposter ini cocok disimpan di halaman belakang ataupun di halaman depan. Nah, komposnya bisa langsung dipergunakan untuk pupuk tanaman disekitar rumah dan pupuk cairnya (air lindinya) bisa juga dipakai untuk memupuk tanaman tetapi dicampurkan air terlebih dahulu. ‘’Mudahkan mengolah sampah rumah tangga dengan EM4?.’’kata Zakky Husein, Staf Ahli dari PT. Songgolangit. (A)
EM Coner Edisi V
EM4 Perikanan Genjot Produksi Ikan Lele
Untuk
menghasilkan produksi Ikan lele secara cepat dan maksimal, terpenting adalah
pemberian pakan yang maksimal dan menjaga kesehatan ikan. Untuk menjaga
kesehatannya, perlu teknologi pengurai berbagai macam lemak dan kotoran pada
kolam ikan, sehingga oksigen terlalut tetap terpenuhi, gas-gas beracun terurai
dan ikan pun terhindar dari penyakit dan stress.
‘’Dan
yang tepat mengurai kotoran ikan yang menjadi penghambat pertumbuhan ikan itu
adalah perlakukan EM4 Perikanan pada media ikan tersebut secara
rutin,’’demikian dikatakan Sueng pemilik budidaya Ikan lele dari Desa Cogreg,
Ciseeng Parung.
Menurut
Sueng, dengan teknologi EM4 Perikanan, produksi ikan lele bisa terjamin.
Apalagi untuk anakan lele, dengan menggunakan EM4 Perikanan air tetap
terjaga Menjaga anakan ikan lele boleh
dibilang gampang-gampang susah. Sulitnya, karena anakan sangat sensitif,
terutama pada kondisi air. ‘’Saya dulu kesulitan memelihara anakan ikan lele,
hampir 5000 anakan dari 10.000 anakan ikan lelenya mati, karena kondisi air
yang buruk, namun dengan EM4 sekarang sudah aman, tingkat kematian anakan bisa
ditekan,’’jelasnya..
Dalam
sosialisasi yang diadakan Kacab PT. Songgolangit Jakarta, Ir. Agoes Wibisana,
memang banyak sekali perlakukan terhadap anakan keliru. Menurut Agues,
penggunaan EM4 Perikanan pada anakan ikan leleh sebenarnya sangat mudah, namun
terlebih dahulu, perlu diperhatikan kondisi air termasuk pH, suhu air. Bahkan
pemberian pakan buatan mengakibatkan menumpuknya kotoran yang menimbulkan zat-zat berbahaya seperti amoniak, H2S dan lain-lain.
Karena
itulah Sueng secara khusus mengundang
Tim EM4 Jakarta untuk menangani dan memberikan solusi terbaiknya dalam
mengaplikasikan EM4 pada ikan tersebut.
Menurut
Agues, pada analisis awal, terdapat pH yang tidak seimbang, kemungkinan
kedua, ikan lele milik Sueng ini
mengalami keracunan air yang mengandung amoniak, CO2, H2S dan gas berbahaya
lainnya, sehingga harus diberikan EM4. (A)
Jawa Tengah
Kelinci Teknologi EM4 Lebih Cepat Besar
Ini
dibuktikan Peternak kelinci, Sri Warno dari Kelurahan Patrobangsan, Magelang
Utara Jawa tengah, ternak kelinci lebih cepat besar dan mudah berkembang biak. ‘’Baru tiga bulan saja kelinci sudah
besar-besar dan sudah berkembang biak,’’katanyanya.
Menurut Sri,
memelihara kelinci gampang-gampang susah. Kelangsungan hidupnya sangat
ditentukan oleh perhatian dan perawatan peternaknya. Jenis, jumlah dan mutu
makanan yang diberikan sangat menentukan pertumbuhan, kesehatan dan
perkembangbiakannya termasuk memberikan minum dengan EM4.
Makanan kelinci
yang baik adalah yang terdiri dari sayuran hijau, jerami, biji-bijian, umbi dan
konsentrat. Makanan hijau yang diberikan antara lain semacam rumput lapangan,
sayuran seperti kangkung dan wortel, daun pepaya, daun talas dan lain-lain. ‘’Sayuran
hijau yang akan diberikan pada kelinci ini kalau bisa telah dilayukan dan
jangan dalam keadaan segar. Proses pelayuan selain untuk mempertinggi kadar
serat kasar, juga untuk menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan
kejang-kejang atau mencret,’’Jelas Sri
Dengan rutin
memberikan minuman yang telah difermentasi dengan EM4, kelinci terlihat sangat
sehat. ‘’Ciri-ciri kelinci sehat bisa dilihat dari penampilannya yang lincah,
serta mata yang tajam tidak layu,’’katanya.
Kandang
yang dipakai sebaiknya berukuran minimal 60 x 40 sentimeter untuk seekor
kelinci. Kandang itu harus bersih, tidak lembab, cukup penyinaran, dan anam
dari makhluk predator semisal musang, tikus, dan ular.
Penyakit yang
sering diderita kelinci adalah scabbies, sejenis kudis di kulit yang
amat gatal. Penyakit ini biasanya muncul bila ia berada di tempat yang lembab
tapi bisa diatasi dengan Minyak Oles
Bokashi.
Kebanyakan
kelinci yang dipotong dan dimasak begitu adalah yang berasal dari Selandia Baru,
atau Australia.
Jenis lain adalah Flaam Reuss yang berasal dari eropa. Biasanya berat kelinci
ini mencapai 5-6 kg per ekor. ‘’Sebenarnya semua jenis kelinci bisa dipotong,
tapi orang sayang karena bulunya yang menarik dan binatangnya lucu. Jadi, kelinci
dipelihara saja,’’katanya.(A)
Jawa Timur
Dengan EM4 Melon
Berbuah Manis
Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini buah melon milik
Heru Purnomo asal desa Bagorejo, Banyuwangi Jawa Timur. Berbuah banyak, dan
besar-besar. Dan yang uniknya rasa manisnya itu sangat berbeda sesali pada
tahun lalu. Tahun lalu memang berbeda dengan tahun sekarang, dulu tidak memakai
EM4 alias pemupukan konfensional, sekarang menggunakan EM4.
Dulu
berbuah sedikit, sekarang berbuah banyak dan manis. Walhasil, melon Heru banyak
diminati masyarakat. Bahkan banyak masyarakat Banyuwangi yang langsung membeli
dari ladang Heru yang luasnya sebanyak 1 hektar. Di lahan tersebut tak
hanya Melon tetapi juga memiliki perkebunan semangka yang terkenal
juga manisnya.
‘’Sejak
saya memakai EM4, rasa buah melon saya lebih manis dan banyak masyarakat yang
langsung membeli di ladang. Di ladang ini silahkan saja, konsumen memilih mana
yang menurut mereka paling manis,’’katanya bangga.
Berbeda
dengan tahun lalu, Heru mengingat kebunnya ini jarang sekali dikunjungi
masyarakat. Karena selain rasanya kurang manis hasil produksinya juga sedikit.
‘’ Saya hanya mengandalkan bokashi padat dan cair untuk pemupukan dan hasilnya
cukup memuaskan,’’kata Heru yang juga memiliki ternak ayam potong.
Apalagi
kata Heru, biaya pemupukannya lebih irit dibandngkan menggunakan pupuk kimia
sepeti NPK. Dan yang pasti buahnya lebih aman untuk dikonsumsi. ‘’Karena itu
banyak masyarakat yang menyukai buah
melon saya ini karena sangat organik,’’katanya.
Disamping
memberikan hasil yang baik, penggunaan bokashi juga dapat menekan biaya
produksi. Karena penggunaan EM4 itu sangat irit. Dengan menggunakan EM4 tanah
menjadi subur, lebih gembur dan perkembangan tanaman melon lebih cepat dan
buahnya lebih manis. Heru juga berharap, lahan perkebunan melon nya menjadi
percontohan bagi petani yang ingin mengembangan
tanaman ini. (A)
Forum Usaha Edisi V
Belimbing Dewa Organik
Depok
Pilihan Usaha
Belimbing
Depok kini makin dikenal masyarakat. Bahkan sudah sampai pasaran eropa. Warnanya
kuning kemerahan, ukurannya cukup besar (150 gram-350 gram per buah), serta
rasanya manis dan segar karena itu tidak salah, buah ini dijadikan maskot Kota
Depok sebagai salah satu primadona agrobisnis masyarakat Kota Depok Jawa Barat.
Varietas
Belimbing Dewa-Dewi ini banyak dibudidaya masyarakat Depok di 6 kecamatan yaitu
Sawangan, Pancaran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Limo dan Beji. Salah satu petani
Belimbing Dewa yang berhasil dari Kecamatan Sawangan adalah Syukron Muchtar
(36th)
Syukron yang
asli putra Depok ini merupakan petani belimbing organik yang cukup berhasil. Dengan
usaha ini, Syukron yang juga memiliki usaha catering mampu menciptakan lapangan
kerja baru bagi masyarakat sekitar. Tak hanya itu, Syukron yang memiliki lahan 1 hektar budidaya Belimbing di
percaya memimpin Kelompok Tani Prima Nusantara (KTPN)
yang ada diwilayah itu. Kelompok ini beranggotakan petani Belimbung, petani
Buah Jambu Merah dan peternak hewan kambing.
‘’Ketertarikan saya
memulai usaha bididaya belimbing dan jamu merah ini terdorong karena
pemanfaatan limbah dari usaha catering yang saya jadikan pupuk organik bokashi
dengan teknologi EM4. Dulu saya sanksi dengan pupuk organik, namun setelah
ditritmen buah belimbing berbuah lebih lebat, pohon kelihatan sehat, buahnya besar-besar,
lebih manis, tahan lama, dan organik tentunya,’’katanya. Budidaya Tanaman Belimbing, (Averrhoa Carambola) memang tak mudah Perlu dilakukan perawatan. Untuk mendapatkan buah belimbing yang bagus, penampilannya mulus, dan rasanya manis, tanaman butuh perawatan yang memadai. Perawatan tanaman dimulai sejak bibit ditanam hingga tanaman tersebut terus berproduksi (25 - 30 tahun). Perawatan itu meliputi penyiraman, pemangkasan, dan penjarangan buah dan yang tak kalah pentingnya adalah pemupukan.‘’Saya merasakan pupuk organik dengan teknologi EM4 mampu memberikan hasil yang berkualitas disamping bebas residu kimia,’’jelasnya.
Untuk memenuhi keperluan pupuk organik, baik bokashi padat maupun bokashi cair, Sukron membuatnya sendiri.’’Saya memiliki 100 ternak kambing yang siap menghasilkan pupuk organik, tak hanya itu air seni ternakpun saya manfaatkan untuk pupuk cairnya,’’katanya Penggunaan bokashi juga sedikit, untuk satu lubang bibit buah belimbing jarak 6 x 6 cm hanya 20 kg bokashi selama 1 tahun, kemudian setiap seminggu sekali disirami pupuk cair yang telah difermentasi. Setelah umur 2 tahun diberi pupuk bokashi padat kembali perpohon 30 kg dan pupuk cair fermentasi air seni ternak yang telah diencerkan dengan air 1 liter / pohon. Setelah usia 3 tahun belimbing sudah aktif berproduksi. ‘’Sebetulnya satu tahun juga sudah mulai belajar berbuah tapi untuk menghasilkan produksi yang bagus, diusia 3 tahun 1 pohon belimbing bisa menghasilkan antara 100 -150 buah. Sedang pada usia 4 dan selanjutnya, 1 pohon belimbing bisa menghasilkan 200 – 500 buah bahkan lebih. Menurut Pria bersahaja ini, budidaya belimbing sangat menguntungkan, apalagi dengan menggunakan pupuk organik. Karena biayanya lebih murah dengan hasil yang berkualitas tentunya. ‘’Jadi Belimbing Dewa dewi organik memiliki beberapa kelebihan diantaranya kandungan air lebih tinggi daripada belimbing-belimbing lain, sehingga lebih tahan lama. Dalam ruangan sejuk, belimbing ini mampu mempertahankan kesegarannya hingga satu minggu, sedangkan yang lain hanya dua hingga tiga hari,’’katanya.
Untuk memenuhi keperluan pupuk organik, baik bokashi padat maupun bokashi cair, Sukron membuatnya sendiri.’’Saya memiliki 100 ternak kambing yang siap menghasilkan pupuk organik, tak hanya itu air seni ternakpun saya manfaatkan untuk pupuk cairnya,’’katanya Penggunaan bokashi juga sedikit, untuk satu lubang bibit buah belimbing jarak 6 x 6 cm hanya 20 kg bokashi selama 1 tahun, kemudian setiap seminggu sekali disirami pupuk cair yang telah difermentasi. Setelah umur 2 tahun diberi pupuk bokashi padat kembali perpohon 30 kg dan pupuk cair fermentasi air seni ternak yang telah diencerkan dengan air 1 liter / pohon. Setelah usia 3 tahun belimbing sudah aktif berproduksi. ‘’Sebetulnya satu tahun juga sudah mulai belajar berbuah tapi untuk menghasilkan produksi yang bagus, diusia 3 tahun 1 pohon belimbing bisa menghasilkan antara 100 -150 buah. Sedang pada usia 4 dan selanjutnya, 1 pohon belimbing bisa menghasilkan 200 – 500 buah bahkan lebih. Menurut Pria bersahaja ini, budidaya belimbing sangat menguntungkan, apalagi dengan menggunakan pupuk organik. Karena biayanya lebih murah dengan hasil yang berkualitas tentunya. ‘’Jadi Belimbing Dewa dewi organik memiliki beberapa kelebihan diantaranya kandungan air lebih tinggi daripada belimbing-belimbing lain, sehingga lebih tahan lama. Dalam ruangan sejuk, belimbing ini mampu mempertahankan kesegarannya hingga satu minggu, sedangkan yang lain hanya dua hingga tiga hari,’’katanya.
Analisis Usaha Budidaya
Potensi produksi
buah belimbing yang ditanam di kebun secara permanen dan dipelihara intensif,
dengan jarak tanam antara 6x 6 m, bila
populasi tanaman belimbing per hektar antara 250–400 pohon dengan potensi
produktivitas 150–300 buah/pohon/tahun, dan berat per buah rata-rata 160 gram,
maka dapat dihasilkan/tingkat produksi per hektar mencapai 6–19 ton buah
belimbing.
Pada panen raya
belimbing, harga belimbing rata-rata mencapai Rp. 5.000,- per kg. Maka kita
dapat menghitung berapa Rupiah besar penghasilan yang didapat dalam 1 hektar
per tahun. Tentunya setelah dikurangi biaya-biaya produksi yang dikeluarkan,
seperti: pembibitan, pemeliharaan, pemupukan, panen/pascapanen, dan lain-lain.
Prospek
pemasaran belimbing di dalam negeri diperkirakan makin baik. Hal ini antara
lain disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan semakin banyaknya konsumen
menyadari pentingnya kecukupan gizi dari buah-buahan. Maka untuk mencapai
kecukupan gizi yang sesuai dengan anjuran FAO menargetkan rata-rata 60 Kg per
kapita per tahun.
Salah satu jenis
buah potensial yang mudah dibudidayakan untuk mendukung pencapaian target
tersebut adalah belimbing. Perkiraan permintaan setiap tahun semakin meningkat,
peningkatan permintaan tersebut adalah sebesar 6,1 %/tahun (1995–2000), 6,5
%/tahun (2000–2005), 6,8 %/tahun (2005–2010), dan mencapai 8,9 %/tahun (2010 -
2015).
Jelaslah bahwa prospek usahatani (agribisnis) belimbing amat cerah bila dikelola secara
intensif dan komersial, baik dalam bentuk kultur perkebunan, pekarangan, maupun Tabulampot.*
Langganan:
Postingan (Atom)







