Tampilkan postingan dengan label Edisi III. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi III. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Salam Redaksi edisi III
Teknologi Murah Bagi Petani
Dewasa ini,
sebagian besar lahan pertanian diberbagai wilayah Indonesia (terutama Pulau Jawa) banyak mengalami
kerusakan, menurut data litbang Departemen Pertanian, carbon atau C organik
sudah berada di bawah 1%. Kondisi ini, sangat memprihatinkan. Karena itu,
petani sangat bergantung sekali dengan pupuk kimia untuk mempertahankan
produksi hasil pertaniannya.
Namun sayangnya,
pupuk sedang langka sekarang ini, pupuk yang disubsidi pemerintah menjadi
rebutan petani. ‘’Tak ada pupuk, tak bisa menanam,’’begitu keluh petani. Bahkan
untuk meningkatkan atau minimal menghasilkan produsi yang sama dengan panen
sebelumnya, dosis pengunaan pupuk kimia harus ditambah.
Di Indonesia,
pada awal sistim bimas diperkenalkan,
dosis pemupukan tanaman padi hanya sekitar 50 - 70 Kg per hektar, dalam
rentang waktu 25 tahun terjadi peningkatan dosis pupuk 17 - 24 kali lipat.
Kebutuhan pemupukan (Urea, TSP, NPK dan KCL) untuk tanaman padi saat ini, telah
mencapai dosis total lebih dari 1.200 Kg per hektar.
Intensitas
pemakaian bahan - bahan kimia dalam intensifikasi lahan baik sebagai pupuk, dan pestisida, telah
terbukti meningkat dari waktu ke waktu. Pengunaan bahan - bahan kimia tersebut
memang memberikan peningkatan hasil panen yang signifikan dibanding sebelumnya,
sehingga dalam waktu singkat penggunaan bahan-bahan kimia menjadi sangat
populer terutama di daerah - daerah pertanian dan per kebunan.
Salah satu
dampak negatif intensifikasi lahan pertanian dan perkebunan dengan pengunaan
bahan - bahan kimia terhadap ekosistem tanah adalah, pengerasan struktur tanah,
tanah kehilangan materi organik, dan kontaminasi logam berat. Tak hanya itu,
jasad remik yang ada di dalam tanah menjadi mati.
Untuk membangun
masyarakat desa yang mandiri, perlu
dikembangkan suatu teknologi yang mudah, murah, tepat, dan aman untuk jangka
panjang. Yakni, aplikasi teknologi yang mampu menciptakan dan menjaga
keseimbangan alami secara ekologis dalam usaha pertanian yang mampu
meningkatkan daya dukung lingkungan dan memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman
agar dapat berproduksi maksimal melalui pemberian input yang optimal ke dalam
lingkungan tempat tumbuh tanaman. Teknologi semacam ini adalah teknologi
pertanian organik yang bekerja secara terpadu dalam memperbaiki dan meningkatkan
kualitas tanah, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman secara
bersamaan
Tak dipungkiri,
model pertanian organik dinilai lebih efisien, bernilai ekonomis tinggi,
produknya pun aman dikonsumsi masyarakat, dan ramah lingkungan. Para pakar pertanian menilai, sistem pertanian organik
menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pangan dan
lingkungan.
Jika saja, model
pertanian organik ini dikembangkan menurut teknik yang tepat, secara ekonomis
dapat berkembang, secara kultur pun dapat diterima. Tak hanya itu, sekarang ini
pertanian organik dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi kelangkaan pupuk
dan ketergantungan petani terhadap input pertanian. Petani sering gagal panen
karena tidak mendapat pasokan pupuk, padahal banyak alternatif yang dapat
dilakukan sebagai pengganti pupuk kimia.
Dalam dunia
pertanian, tanah merupakan bagian terpenting dari proses budidaya pertanian.
Tanah yang sehat dan subur akan menjadi tempat tumbuh ideal bagi tanaman. Agar
usaha pertanian bisa berkelanjutan, perlu adanya pengelolaan tanah yang baik.
Menghentikan
kecenderungan negatif ini, tidak bisa dilakukan hanya dengan memberi pupuk pada
tanah. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa sebenarnya yang ‘’diberi makan’’
adalah tanahnya, bukan tanamannya.
Menjaga
kesuburan tanah tak hanya sekadar memperhatikan komposisi unsur-unsur kimia
(yang menjadi nutrisi bagi tanaman) di dalam tanah. Lebih dari itu, perlu
memperhatikan mikroorganisme yang
hidup di dalamnya. Makhluk renik ini sangat penting keberadaannya. Karena
membantu ‘’kehidupan’’ tanah. Mereka
membantu proses pelapukan yang menambahkan materi organik ke dalam tanah.
Selain menyuburkan, materi organik memperbaiki komposisi air dan udara di dalam
tanah. Ini membuat tanah memiliki
struktur dan tekstur yang baik untuk perakaran tanaman.
Memperbaiki dan
memelihara tanah yang ‘’hidup dan subur’’ bisa dilakukan melalui sejumlah
teknik pertanian. Misalnya menggunakan sistem tumpang sari, tanaman gilir,
penambahan mulsa, menerapkan strategi Tanpa Olah Tanah (TOT) atau melakukan
pengomposan (bokashi) dan daur ulang
sumber daya yang ada di lahan. Seluruh
upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kandungan bahan organik di dalam tanah
akan membantu tanah menjadi produktif dan OLES (Organik Lestari dan Sehat).
Dan Media EM FORUM hadir membawa inovasi baru
untuk mengembalikan kesuburan tanah, menjaga lingkungan, mengajarkan ber-ahklak
dengan alam raya dan hidup sehat bersama komoditi organik.
Salam
EM FORUM
Selasa, 31 Januari 2012
Coloum Pak Oles edisi III
Menangkap Peluang Industri Pertanian Organik
Pada zaman kakek dan buyut kakek saya bertani,
mereka semua menerapkan pertanian organik tanpa disuruh-suruh, mungkin juga
tanpa kesadaran. Karena saat itu, pupuk kimia dan pestisida kimia belum
diproduksi. Kondisi lahan pun masih alami.
Demikian juga lingkungan hidup belum diperkosa oleh keinginan manusia, agar
tanahnya tetap berproduksi tinggi untuk memenuhi kebutuhan perut dan permintaan
pasar. Artinya pada zaman itu, pertanian organik berjalan secara alami.
Gaya hidup alami petani
tempo doeloe, menyebabkan mereka menjadi sehat dan panjang umur. Bisa dibayangkan
bagaimana kualitas hidup mereka saat itu, mungkin kita merasa iri dengan
kebahagiaan mereka. Karena hidup di zaman modern ini, kesehatan,
keindahan alam dan makanan yang berkualitas sangatlah mahal dan susah
dicari. Mengapa demikian? Karena kalau sudah merasakan dan
mengalami sakit, melihat alam yang rusak, serta merasakan sakit akibat
memakan makanan yang tercemar, mungkin barulah kita rasakan bahwa,
kesehatan, keindahan alam dan umur panjang, yang dihasilkan dari
pertanian organik sangatlah mahal dan langka.
Pemikiran
manusia yang selalu ingin memberontak mencari kemajuan yang lebih baik, ingin
meningkatkan produksi pertanian beberapa kali lipat, ingin mendapatkan
keuntungan yang maksimal, ingin hidup serba praktis dan mewah, semuanya itu
dilakukan dengan teknologi intensifikasi pertanian, yaitu bagaimana menggunakan
lahan yang terbatas dengan intensif, dengan menggunakan teknologi kimia,
pupuk kimia, pestisida kimia, herbisida dan hormon kimia dan zat pengatur
tumbuh kimia. Semua teknologi itu, memberikan dampak secara
langsung ataupun tak langsung kepada lingkungan, kehidupan lain di alam, termasuk
manusia.
Kesadaran akan gaya hidup organik muncul di era 90-an.
Dan sejak tahun 2000, setelah ada ledakan informasi melalui dunia
internet, gaya
hidup organik mulai menyebar. Manusia mulai menyadari bahwa kualitas
makanan, air dan udara adalah hal yang sangat penting untuk mendapatkan
kesehatan yang prima. Badan kita akan menjadi lebih cepat sakit, tua dan
mati, jika mengabaikan ketiga hal tersebut. Karena manusia modern
mengetahui bahwa kesehatan adalah produk yang langka dan mahal, maka muncullah
kebutuhan akan produk-produk organik. Kebutuhan itu menciptakan
permintaan yang dilayani dengan penawaran, sehingga terciptalah pasar.
Hukum pasar berlaku, barang yang langka jika dikemas dengan eksklusif akan
menciptakan harga dan keuntungan yang tinggi.
Pada
awalnya pertanian organik itu dilakukan dan dikonsumsi oleh kelompok-kelompok
vegetarian-spiritual, kemudian berkembang ke kelompok pemerhati kesehatan
alami, mereka umumnya adalah kelompok orang berada. Selanjutnya pertanian
organik berkembang ke bidang kesehatan dan kecantikan, sehingga pertanian
organik menemukan suatu bentuk baru sebagai industri produk kosmetik dan
makanan – minuman kesehatan organik. Pada tahap ini pertanian organik
sudah mendapatkan tempat yang terhormat sebagai pencipta lapangan kerja dan
penghasil devisa negara. Peluang ini segera disambar oleh Amerika
dan Australia.
Kedua negara itu telah berhasil memproklamirkan dirinya sebagai
negara industri produk makanan kesehatan dan kosmetik organik. Sayangnya, Indonesia
sebagai negara pertanian yang besar masih terbengong-bengong melihat Peluang bisnis raksasa ini. Pasar produk pertanian organik sangat
terbuka luas. Tapi kalau kita masih memandangnya sebelah mata, maka
janganlah disalahkan produknya, tapi salahkanlah diri kita yang melihat.
Visi kita terlalu rendah untuk melihat peluang pertanian organik dalam industri
pertanian.
Jangan
khawatir...! Tidak ada istilah terlambat bagi yang mau memulai.
Lebih baik terlambat tapi bisa bergerak lebih cepat dan gesit daripada tidak
memulai sama sekali. Dari mana memulainya? Bentuklah
kelompok-kelompok kecil pemerhati dan pekerja pertanian organik.
Kelompok-kelompok tersebut akan menciptakan informasi dan pasar pertanian
organik. Pekerja pertanian organik menghasilkan produk pertanian organik yang
bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Pemerintah dan organisasi masyarakat
akan mengawasi sertifikasi pertanian organik. Jika kelompok-kelompok
tersebut bekerja dalam skala yang lebih luas, maka pertanian organik sudah
menjadikan suatu gaya
hidup masyarakat untuk mencapai hidup sehat dan berkualitas dalam lingkungan
alam yang harmoni. Dengan cara demikian, lapangan kerja dan sumber-sumber
pemasukan devisa negara mulai terbuka. Semoga sukses...!
Forum Utama Edisi III
Pertanian Organik Solusi Kelangkaan Pupuk
Kelangkaan
pupuk dibeberapa daerah sentra produksi
di seluruh Indonesia, dapat berimplikasi serius terhadap ketahanan
pangan nasional. Kelangkaan pupuk bersubsidi ini, mendongkrak harga pupuk di pasaran,
khususnya pupuk urea, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan
pemerintah Lalu, bagaimana dengan pertanian organik?
Lepas dari permainan distribusi atau oknum
tertentu yang mencari keuntungan, sadar atau tidak sadar salah satu kelangkaan
pupuk, juga disebabkan pemakaian pupuk oleh petani yang terus meningkat. Selama
ini, jumlah alokasi pupuk disuatu daerah didasarkan pada rekomendasi pemupukan yang dikeluarkan Departemen
Pertanian. Misalnya, rekomendasi pemupukan urea untuk padi 250 kg/ha, jagung
400 kg/ha, tetapi petani memupuk padi melebihi itu antara 300 hingga 400 kg/ha.
Jagung hingga 600 – 1000kg/ha.
Jumlah alokasi
pupuk dari awal sudah tidak berimbang. Subsidi yang diberikan pemerintah tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pupuk yang diajukan daerah. Karena itulah, Indonesia
sedang menghadapi ancaman penurunan produksi padi, terutama di tingkat mikro
petani dan lokalitas produksi.
Sedikit saja
akses faktor produksi penting tersebut gangguan, ancaman terhadap penurunan
produksi pertanian amatlah besar. Suka atau tidak suka, kini pupuk kimia,
terutama yang berbahan baku
nitrogen (urea) dan fosfat (SP-36/ TSP), sangat dibutuhkan petani.
Kerisauan
terhadap produktivitas padi cukup beralasan mengingat selama ini, kondisi lahan
sawah sudah manja dengan praktek pemberian pupuk anorganik dengan dosis tak terkendalikan. Akibatnya,
jika dalam sekali musim tanam kurang dosis apalagi tidak dipupuk, maka produksi
bakal turun drastis.
Sekarang ini, masyarakat petani melakukan unjuk rasa akibat
kelangkaan pupuk. Mereka hidup dari pertanian dan mengandalkan hasil pertanian.
Bisa dirasakan, ada pergeseran visi atau cara pandang dalam hubungan manusia
dengan tanah, hasil pertanian dan produksi.
Pada masa
revolusi hijau terkesan pertanian merupakan kegiatan mengeksploitasi lahan
dengan menghasilkan kebutuhan manusia sebanyak-banyaknya dengan masukan input
kimia yang diperlukan tanaman. Tepatnya, lebih kearah eksploitatif agar tanah
dengan sedikit input menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Dampaknya bisa dirasakan
sekarang, tanah yang merekah (pecah-pecah) dimusim kemarau dan dimusim hujan
tak mampu menyerap air sehingga menyebabkan banjir.
Pertanian Organik
Sistem Pertanian
organik sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi petani, tetapi karena pola pikir
dan serba ‘instan’, sistem pertanian organik hanya dijadikan
semboyan saja. Seperti
dikatakan Menteri Pertanian Apriyantono, tidak jarang pertanian organik dipahami secara teknis
bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti
modernisasi. Bahkan, disamakan dengan pertanian tradisional. Padahal, pertanian
organik bukan sekedar teknik atau metode bertani tetapi cara pandang, sistem
nilai, sikap dan keyakinan hidup.
Padahal,
penggunaan pupuk organik, memberi nilai tambah tersendiri. Tak bergantung
dengan pupuk kimia, dapat meningkatkan produksi tanpa harus meningkatkan dosis
pupuk setiap musim tanamnya, padi atau beras organik lebih sehat, karena itu
bisa dihargai lebih tinggi.
‘’Pertanian
organik pada dasarnya adalah sistem bertani dengan menggantungkan pada kearifan
alam untuk mengendalikan populasi mahluk hidup dan menyediakan hara untuk
pertumbuhan tanaman. Artinya dengan memperkaya tanah dengan berbagai nutrisi dan mikroorganisme
sebagai akibatnya, akan memberikan produk pertanian yang lebih
banyak,’’katanya.
Sementara itu Ketua Masyarakat Pertanian
Organik Indonesia
(Maporina) Zaenal Sudjais menilai, pertanian organik dapat dijadikan alternatif
pilihan dalam upaya mengatasi kelangkaan pupuk dan ketergantungan petani terhadap
input pertanian dari luar.
Karena itu, model pertanian organik ini harus terus
dikembangkan dan didukung. Sebab sistem ini telah diakui dunia sebagai
pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Secara umum model pertanian
ini secara teknik tepat, secara ekonomi dapat berkembang, secara kultur dapat
diterima, dan berdasarkan sains yang holistik.
Sistem ini juga, dapat menjawab keprihatinan terhadap
timbulnya berbagai permasalahan pada sebagian lahan pertanian. "Kita semua
tahu, akibat menggunakan pupuk non organik dan pestisida kimia yang berlebihan,
mengakibatkan terjadinya degradasi lahan pertanian,’’ katanya.
Selain itu
semboyan “kembali ke alam” agaknya harus gencar disosialisasikan kepada petani
terutama dalam menggalakkan penggunaan pupuk organik berupa pupuk kandang,
jerami, sampah, pupuk hijau dengan sentuhan teknologi pengomposan cepat
(bokashi). Pupuk organik diyakini dapat memperbaiki struktur dan tekstur tanah
sawah yang cenderung semakin rusak akibat pemupukan terus menerus dengan pupuk
kimia.
Namun inipun
akan terhadang kendala di lapangan, karena untuk menghasilkan 1 ton pupuk
organik saja tidaklah mudah, sementara selama ini petani sudah terbiasa
menggunakan pupuk produk pabrik yang tingkat respons serapan oleh tanaman
relatif cepat. Tapi bagaimanapun wacana itu harus dimulai dari sekarang, sebab
kelangkaan pupuk terutama pupuk bersubsidi terjadi setiap waktu di saat petani
membutuhkan.(A)
Forum EM Edisi III
EM4 Pelopor Pertanian Organik
Siapa tak kenal Teknologi
Effective Microorganisms (EM4) dalam dunia pertanian, karena
produk asal Jepang ini salah satu pelopor pertanain organik di Dunia
Pertanian organik sebenarnya sudah sering didengar Sugeng (40) petani asal Desa Sudimoro, Kec. Sidomulyo, Kab. Candimulyo Magelang Jawa Tengah. Namun untuk beralih ke sistem yang bebas kimia itu, ia masih ragu - ragu, jangan-jangan hasil produksi padinya menurun dan gagal.
Berkali-kali
disarankan menggunakan pupuk organik, berkali-kali pula ditolaknya. Sekarang
ini, pupuk bersubsidi sedang langka, walaupun ada di pengecer harganya cukup
mahal. Sugeng yang memiliki lahan sawah sekitar 1 hektar ini, pusing tujuh
keliling mencari pupuk.
Sedang Abi
Royani (41) petani yang sudah lama mengusung
organik dengan teknologi EM4, tak terpengaruh dengan kondisi perpupukan yang
carut marut, bahkan produksi padi terus meningkat dan mampu menembus angka 8 -
10 ton/ha. Bagi Abi, 10 ton/ha masih belum ideal, menurutnya ia akan memaksimal
hingga mencapai 12 ton/ha.
Sedang Sugeng
yang menggunakan pupuk kimia dengan dosis yang terus ditambah, hanya mampu
menghasilkan padi sebanyak, 5 – 6 ton/ha. Hal ini disebabkan, karena penggunaan
pupuk kimia akan terjadi kejenihan peningkatakan produksi padi (levelling off),
pemakaian pupuk yang berlebihan meskipun dosis pupuk yang digunakan semakin
tinggi tetapi peningkatan produksi yang diperoleh semakin menurun.
Perbedaan yang cukup mencolok dengan sistem pertanian
organik. ‘’Kalau mau jujur, untuk beralih ke pertanian organik tak serta merta
produksi bertambah, bisa jadi mengalami penurunan produksi pada awal-awalnya.
Karena sistem ini, harus memperbaiki dulu kondisi tanah yang rusak akibat
penggunaan pupuk kimia. Dan setelah itu, secara bertahap produksi akan
meningkat tergantung bokashi yang ditanam dilahan tersebut. Semakin banyak
semakin baik dan semakin cepat
berproduksi,’’kata Abi.
Karena
itulah, Abi selalu mengajak petani lain untuk mengikuti langkahnya
menggunakan EM4 dan beralih ke pertanian
organik sehingga petani yang lainnya juga dapat memperoleh manfaat yakni tidak
bergantung dengan pupuk kimia.
EM4 Tingkatkan Produksi Pertanian
Sepintas
penggunaan bahan kimia menunjukan hasil memuaskan dalam meningkatkan produksi,
namun penggunaan bahan kimia secara terus menerus mempunyai efek merusak tanah,
air dan lingkungan. Karena itulah teknologi EM4 merupakan solusi bagi persoalan
pertanian sekarang ini.
Teknologi
EM4 merupakan bioteknologi yang sejalan
dengan prinsip-prinsip pertanian yang berwawasan lingkungan, mengurangi atau
menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida dengan memanfaatkan sistem alami
untuk meningkatkan produktivitas tanah, mengurangi biaya produksi, menghasilkan
bahan pangan yang tidak terkontaminasi bahan kimia.
Teknologi
yang berasal dari Jepang ini, menggunakan bahan baku alami hasil-hasil limbah pertanian dan
pupuk kandang. Bahan-bahan organik yang difermentasi oleh EM4 tersebut,
dimasukkan kembali ke dalam tanah sebagai pupuk untuk meningkatkan kualitas
tanah.
Effective
Microorganisms ( EM ) merupakan kultur campuran mikroorganisme bermanfaat, yang
terdiri dari bakteri fotosintetik ( Rhodopseudomanas Sp. ), Sreptomyces Sp.,
Actinomycetes Sp., Bakteri Asam Laktat ( Lactobacillus Sp. ), dan ragi/yeast (
Sacharomyces Sp. )
Menurut Pakar
Pertanian Organik, G.N Wididana, EM4
bertindak sebagai agen pengendali secara biologis dengan cara menghambat efek
fitopatogenik mikroorganisme tanah dan
memfasilitatori dekomposisi senyawa beracun di dalam tanah. Teknologi
yang menggabungkan berbagai mikroorganisme menguntungkan ini, dapat digunakan
untuk meningkatkan penganekaragaman biologi tanah, meningkatkan kualitas air,
mengurangi kontaminasi tanah dan merangsang penyehatan dan pertumbuhan tanaman
yang semua ini berarti meningkatkan hasil.
‘’Perlakukan EM4
ke dalam tanah dapat meningkatkan ketersediaan kandungan nutrisi yang dapat diserap oleh perakaran tanaman. Mikroorganisme
yang menguntungkan dalam EM4, dapat menyuburkan tanah melalui menyediaan
nitrogen bagi tanaman kurang lebih 30%, meningkatkan serapan P tanah dan
melarutkan fosfat. Selain itu, mikroorganisme yang berasal dari EM4 juga dapat
menghasilkan asam-asam organik yang mampu bereaksi melarutkan meneral-mineral
tanah,’’katanya.
Pemberian EM4 ke
dalam tanah juga mampu meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme tanah
sehingga jumlah dan aktivitas mikroorganisme juga meningkat. Mikroorganisme
yang terdapat dalam kultur EM4 juga dapat mengatur keseimbangan mikroorganisme
tanaman dan tanah.
Tak hanya itu, peningkatan
konsentrasi EM4 menyebabkan populasi mikroorganisme dalam tanah meningkat dan
aktivitas penguraian bahan organik berupa gula, alkohol, asam asetat, asam
amino dan senyawa organik lain termasuk CO2 juga meningkat.
Melihat
prilakuk petani yang serba instan dan praktis dalam pemberian pupuk, pupuk yang
difermentasi (bokashi) dapat dibuat dalam 4 - 7 hari dan siap dipakai dalam
waktu singkat. Selain itu, pembuatan
bokashi tak memerlukan biaya yang mahal, sehingga sangat efektif dan efisien
bagi pertanian dalam peningkatan produksi.
Dimensi
Baru Pertanian Modern
Teknologi EM (
Effective Microorganisms ) pertama kali dikembangkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa,
seorang guru besar Fakultas
Holtikultura University
of the Ryukus Okinawa Jepang. Sampai saat ini, Teknologi EM telah dimanfaatkan
dan dikembangkan oleh lebih dari 55 negara di dunia.
Teknologi EM
berkembang sebagai dimensi baru dalam pertanian modern, terbukti dengan didirikannya Pusat Penelitian
EM yaitu International Nature Farming Research Centre (INFRC) yang berpusat di
Atami, Jepang. Pada tahun 1989 diadakan suatu Konferensi Internasional untuk
memperkenalkan Teknologi EM ke wilayah Asia Pasifik. Dalam konferensi tersebut
dibentuklah APNAN (Asia Pasific Natural Agriculture Network).
Tujuan utama APNAN
adalah membentuk suatu jaringan internasional antara para ilmuan dalam wilayah asia pasific, dalam rangka peningkatan penelitian,
pendidikan, praktek dan teknologi pertanian alami yang akrab lingkungan.
Kegiatan-kegiatan APNAN didasarkan pada prinsip-prinsip pertanian alami yang
akrab lingkungan.
Pada tahun 1991
di Brazil dibentuk organisasi SANAN (South American Nature Agricultural
Network) yaitu organisasi-organisasi negara-negara Amerika Latin atau Amerika
Selatan yang bergerak dalam bidang pertanian alami menggunakan teknologi EM.
SANAN menyelenggarakan penelitian dibeberapa negara anggota tentang sistem
pertanian dengan biaya rendah (Low Input Farming System) dengan menggunakan
teknologi EM.
Keberhasilan penerapan
teknologi EM pada pertanian, menelurkan banyak badan atau lembaga peneliti yang
mendukung pengembangan teknologi ini antara lain, NFRD (Nature Farming Research
and Development Foundation) berpusat di Santa Rosa, Lompoc, California.
Mokichi Okada
Foundation Nature Farming Departement
berpusat di Villa Marienna, Sao
Paulo, Brazil.
Kyusei Nature Farming Societies berpusat di Jepang. Korea
Nature Farming
Research Center
berpusat di Kwonsonku, Suwon,
Korea Selatan.
Effektive Microorganisme Research Organisation
(EMRO) berpusat di Jepang. EMRO ini,
membiayai proyek penelitian dan penerapan teknologi EM dalam skala yang luas
dan besar, mensponsori seminar dan konferensi Internasional tantang hasil-hasil
penelitian teknologi EM. Di Indonesia sendiri, pengembangan teknologi EM
dilakukan sejak tahun 1990 oleh Indonesia Kyusei Nature Farming Sicieties
(IKNFS).
Sekarang ini, EM4
menjadi pelopor pertanian organik di Indonesia
terus berkembang di bawah bendera PT. Songgolangit Persada sebagai agen tunggal
pemasaran EM4 keseluruh wilayah Indonesia.
Jadi tak beralasan jika petani seperti Sugeng ragu-ragu menggunakan teknologi
EM4 akan menyebabkan penurunan hasil produksi panen padinya, sementara Abi Rohani menikmati hasil yang
memuaskan. (A)
Forum Usaha Edisi III
Usaha
Buah Strawbery Organik Untung Besar
Walau
belum berpengalaman dalam usaha budidaya buah strawbery, Gede Pinton petani
asal Dusun Asah Gobleg, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali meraih untung besar bahkan mengalahkan petani
strawbery yang telah berpengalaman.
Pada
perayaan IPSA ke-11 tahun, panitia menjajakan buah strawbery organik yang cukup
laris terjual. Bukan karena dijual
murah, tetapi buah strawbery organik memiliki rasa yang manis dan menyegarkan
yang dibudidaya oleh Gede Pinton.
Cukup menarik
juga budidaya salah satu tanaman buah-buahan beriklim sedang yang banyak
mengandung vitamin C yang setara dengan jeruk dan lemon serta mengandung zat besi yang relatif tinggi
ini. Berbekal pengalaman menerapkan Teknologi EM, nekat membongkar tanaman
bunga pecah seribu yang masih produktif untuk diganti tanaman strawbery organik.
Padahal kebun
itu telah membantu mengepulkan asap dapurnya. Sebagai gantinya dipilih
strawbery, tanaman yang sama sekali tidak pernah diusahakan. Untuk memahami
strawbery, Pinton terlebih dahulu melakukan studi banding ke Desa Pancasari, di
kawasan agrowista Bedugul yang memang terkenal sebagai penghasil sayur-sayuran
di Pulau Dewata.
Di atas lahan
bekas tanaman bunga pecah seribu seluas 8 are itu Pinton mengeluarkan Rp 7,2
juta. Jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran petani dan di tengah lesunya
perekonomian nasional. Modal itu untuk biaya pengolahan lahan, membeli 3000
bibit dan sarana lain. Meski masih pemula hasilnya ternyata mengalahkan petani
yang telah berpengalaman. “Sangat jelas bedanya dibandingkan kebun lain yang
pernah saya lihat,” kata Pinton sambil menunjuk satu tanaman dan membentangkan
sehelai daunnya.
Memang budidaya strawberinya
tumbuh bongsor, daunnya lebar dan berwarna hijau segar alami. Karenanya petani
yang melihat langsung akan berdecak kagum. Pasalnya, pertumbuhan strawbery di atas rata-rata. Saking suburnya tanaman
yang baru berumur dua bulan seperti sudah berumur 4 bulan.
Melihat
perkembangannya, pria berkumis tebal ini yakin modal yang ditanamkan tidak akan
sia-sia dan lebih cepat balik. Keyakinannya cukup beralasan, dua bulan setelah
tanam modalnya sudah kembali Rp 800 ribu hanya dari penjualan bibit. Sedangkan
hasil utama berupa buah pada umur yang baru belajar berbuah. sudah tujuh kali
dengan produksi rata-rata 4-5 kg. Umur produktif tanaman strawbery mencapai 3
tahun bila dipelihara dengan baik. Sepanjang musim kemarau panen buah strawbery
bisa setiap hari.
Sambil menunggu
puncak produksi, Pinton membuat bibit dari sulur-sulur yang tumbuh dari tanaman
pokok. Bibitnya diincar oleh para petani sekitarnya karena subur dan sehat.
Pinton sudah mendapatkan pesanan 2.000 bibit tanaman. Salah seorang pemesan,
Kadek Neksen dihubungi terpisah mengatakan bahwa bibit yang dihasilkan Pak
Pinton sangat bagus sehingga persentase kematiannya kecil.
Harga per bibit dipatok Rp. 1.200 sehingga dari hasil
sampingan ini saja modalnya sudah kembali 2,4 juta rupiah. Satu tanaman paling
sedikit bisa menghasilkan 5 bibit tanaman baru yang sudah siap dipasarkan pada
umur 20 hari. Untuk menghasilkan bibit yang baik Pinton menggunakan Bokashi
Kotaku dicampur dengan tanah sebagai media.
Beberapa pengaruh EM4 yang menguntungkan dalam pupuk bokashi
tersebut seperti dikatakan Kepala Cabang
PT. Songgolangit, Ir. Ilham Rasidi, dapat memperbaiki perkecambahan bunga,
buah, dan kematangan hasil tanaman, memperbaiki lingkungan fisik, kimia, dan
biologi tanah serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit dalam tanah. Meningkatkan
kapasitas fotosintesis tanaman, menjamin perkecambahan dan pertumbuhan tanaman
yang lebih baik serta meningkatkan manfaat bahan organik sebagai pupuk.
Bagaimana Pinton
yang sejatinya petani jeruk bisa menghasilkan kebun strawbery dengan keuntungan
besar? Pemeliharaan dilakukan biasa-biasa saja, tidak ada cara khusus. Saat
pengolahan lahan ditaburkan pupuk kandang yang sebelumnya disirami EM4. Pupuk
organik Bokashi Kotaku digunakan saat penanaman dengan metode pop up, menabur
di setiap lubang tanam. ‘’Pupuk Bokashi Kotaku mengandung unsur hara yang siap
diserap akar tanaman dan aman meski bersentuhan langsung dengan akar. Resikonya
terlalu tinggi bila menggunakan pupuk kandang karena kemungkinan masih
mengandung penyakit,’’ jelas Pinton.
Lantas berapa
dosis per tanaman? Pria yang menjadi petani sejak usia belasan tahun ini
mengaku tidak ingat, tetapi yang pasti satu bedeng dengan populasi 96 tanaman
menghabiskan dua zak pupuk Bokashi Kotaku. Setelah dikonversikan satu tanaman
mendapat jatah 0,625 kg, satu zak pupuk Bokashi Kotaku berisi 30 kg.
Pemeliharaan selanjutnya berupa penyiraman larutan EM4 sebanyak 200 ml per
tanaman dua kali seminggu pada bulan pertama dan sekali seminggu memasuki bulan
kedua.@
EM CONER Edisi III
Dengan EM4 Tambak Udang
Lebih Besar
Tak perlu banyak
pakan jika tampak udang sudah diaplikasi dengan EM4 seperti yang dialami tambak
udang Hok warga Sumber beras, Banyuwangi, Surabaya. ‘Dengan
menggunakan bokashi untuk dasar media tambak, udang sudah memperoleh pakan alami (Plankton) yang
dihasilkan oleh bokashi,’’kata Hokyang
mantap menjadi petambak udang.
‘’Dengan menggunakan EM4 perikanan, dalam
waktu tiga bulan saja, tambak sudah kelihatan besar,’’tutur Hok. Namun pria
keturunan Tionghoa ini, masih kesulitan
menggunakan dosis yang tepat untuk tambak seluas 6 hektar yang dimilikinya.
Karena itu, ia mengundang PT. Songgolangit Persada untuk mengontrol dan
memberikan penjelasan yang tepat pengenai aplikasi yang benar tentang
penggunaan EM4 perikanan.
Sebenarnya pola
aplikasi tambak dengan EM4 mempunyai
prospek cerah untuk menaklukan tambak tradisional yang selama ini tengah resah
mencari jawaban problem yang dihadapi para petambak tersebut. Persoalan yang
dihadapi itu misalnya pertumbuhan udang yang lambat, daya tahan serta mudahnya
terserang penyakit.
‘’Diharapkan dengan adanya pola aplikasi
tambak dengan EM4 secara tepat, petani akan puas dengan hasil tambaknya yang
maksimal,’’kata Kepala Cabang PT. Songgolangit Surabaya, Raharko.
Keuntungan
lain menggunakan teknologi EM4 perikanan adalah, meningkatkan daya tahan,
kesehatan serta penampilan udang, memfermentasikan sisa pakan, kotoran dan
cangkang yang terdapat di dasar tambak,
juga menguraikan gas amoniak, methan dan hidrogen sulfida yang dapat mengganggu
kehidupan udang.
EM4 juga mampu
meningkatkan oksigen terlarut (DO) sehingga air menjadi bersih dan tidak
diperlukan penggantian berulang-ulang karena
kualitas air tetap terjaga serta aman bagi lingkungan.
Kemerosotan
kualitas air yang disebabkan limbah merupakan masalah utama yang sering
dihadapi petambak tradisional. Limbah-limbah tersebut akan menimbulkan gas-gas
beracun yang menyebabkan terjangkitnya penyakit pada udang karena mengalami
stress. Limbah tersebut juga mengakibatkan produksi akan merosot dan
menimbulkan kematian.
Raharko
juga menyarankan agar mengatur penanaman yang tepat, karena faktor Iklim dan
temperatur juga dapat berpengaruh terhadap kualitas air seperti suhu, pH air
dan penetrasi oksigen dalam air. Untuk menghindari kegagalan karena iklim dan
temperatur juga dapat dilakukan dengan mengatur waktu penanaman yang tepat. (A)
EM4 Limbah
Puaskan Pihak Hotel Alam Kulkul
Dengan
mempercayakan produk EM4 limbah dalam penanganan air limbah dapur dan STP (
Sewage Treatment Plant) di Hotel Alam Kulkul Boutique Resort yang terletak di
Pantai Legian Kuta Bali, itu berarti selama ini konsemen puas dengan produk
asal Jepang ini, demikian dikatakan Kepala PT. Songgolangit Persada Cabang
Bali, Ir. Irkham Rasidi
Menurut Ilham,
selama treatment limbah di Alam Kulkul,
pengujian laboratorium dilakukan tiap tiga bulan untuk mengetahui
kandungan kimia maupun biologi dari air limbah. Kandungan tersebut diharapkan akan terus di
bawah ambang batas yang ditetapkan.
Sedang yang
diamati diantaranya pengamatan fisik dilihat dari baunya apakah pekat atau
tidak, kejernihan airnya dan penggumpalan lemak semakin berkurang sehingga
hasil olahan bisa dimanfaatkan kembali.‘’Sedang pengontrolan, dan aplikasi EM aktif secara
rutin dilakukan setiap hari sesuai dengan jadwal,’’katanya.
Memang, penanganan limbah dengan teknologi
EM merupakan cara penanganan limbah secara biologis, yaitu melalui proses
fermentasi. Dalam pelaksanaannya dibagi dua tahap, pertama EM
Aktifasi ( mengaktifkan bakteri EM ). Aktifasi EM dimaksudkan untuk
mengkatifkan mikroorganisme efektif sebelum dituangkan ke sinks inlet atau IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), aktifasi
juga memberikan kesempatan kepada mikroorganisme tersebut untuk berkembangbiak
lebih banyak sehingga dapat bekerja dengan efisien dan optimal. Aktifasi EM
ini, baru dapat dituangkan ke sinks inlet
dan IPAL apabila pH £ 4 atau sekitar 5x24 jam.
Langkah
ke dua adalah Inokulasi EM Aktif. Mikroorganisme yang telah aktif dan
berkembangbiak dari hasil fermentasi molasses tersebut dituangkan secara
kontinyu melalui dapur restaurant Sinks Inlet
yaitu, tempat pencucian peralatan maupun bahan – bahan dan peralatan pada areal
dapur. Penuangan melalui sinks dapat dilakukan pada saat selesai aktivas
didapur yaitu malam hari dengan dosis 5 - 10 liter EM Aktif dilakukan seminggu
sekali.
Kemudian, Instalasi Pengolahan Air Limbah Aeartion
Tank yaitu, suatu bagian dari
IPAL, Penampungan limbah yang dimana pada bagian tersebut dilakukan penambahan
oksigen, dosis penuangan sesuai dengan debit air limbah dan kapasitas limbah
yang ditampung jika memungkinkan ditambahkan pompa back wash pada tanki
berikutnya yang dialirkan menuju tanki pengendapan sehingga bakteri akan
bekerja secara efektif Pengamatan pada
IPAL dapat dilakukan dengan melihat perkembangan flok pada air limbah yang
telah diinokulasi. (A)
Fermentasi Air Seni Kambing
Tingkatkan Produktivitas Tanaman
Tak
hanya air seni Kelinci saja yang banyak dicari petani. tetapi sekarang air seni
ternak kambing fermentasi banyak diburu petani. Pasalnya, Air seni ternak
tersebut diyakini dapat meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan.’’ Untuk
lebih meningkatkan pertanian dan perkebunan air seni ternak harus difermentasi
terlebih dulu dengan EM4 sehingga kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman
(Unsur makro dan mikro) lebih lengkap sehingga mampu meningkatkan produktivitas
pertanian,’’kata Kelompok Tani Prima Nusantara (KTPN)
Syukron Muchtar, wilayah Depok.
Menurut
Syukron, selain dipakai sendiri, Muchtar yang
memiliki kurang lebih 100 ekor domba dan kambing, juga menjual air seni
fermentasi EM4 ini kepada petani lain di sekitar Depok.’’ Sekarang ini, pupuk
cair air seni ternak, kita pasok
sebagian besar ke kelompok tani Prima Nusantara yang memiliki komoditi
pertanian buah belimbing dan jambu merah. Namun dikemudian hari kita akan jual
ke kelompok tani lain di wilayah Depok dan sekitarnya,’’katanya.
Air
seni fermentasi sangat baik sekali untuk meningkatkan produktivitas buah jambu
dan belimbing, terbukti setalah memberikan pupuk cair secara rutin dan
sebelumnya memberikan bokashi padat pada
tanaman jambu dan belimbing, buah khas kota
Depok ini selalu berbunga dan hampir setiap 4 hari sekali selalu panen. Begitu
juga dengan buah blimbung selalu
berbunga dan menghasilkan produksi yang berkualitas.
Selain
memanfaatkan Air seni ternak sebagai pupuk cair, Syukron
juga mempergunakan kotoran kambing untuk membuah pupuk bokashi.’’ Bahan buangan
dari ternak kambing ini sangat bermanfaat untuk mendukung dunia pertanian
terutama di kelompok tani Prima Nusantara,’’katanya.
Bagi
Syukron, ternak kambing selain untuk memenuhi
bisnis Catering yang 5 tahun digelutinya itu, sangat
bermanfaat untuk usaha agrobisnis yang mulai digelutinya. Apalagi dengan
teknologi EM4 yang membuah ternak lebih sehat dan gemuk. ‘’ Dengan teknologi
EM4, dalam waktu 3 bulan ternak bisa mencapai 20 – 25 kilogram, ini merupakan
keuntungan buat saya,’’katanya.
Budidaya jambu merah juga sangat menguntungkan, karena
jambu merupakan salah satu usaha di bidang agribisnis yang menjanjikan keuntungan.
Permintaan pasarnya cukup besar, karena jambu merah atau dikenal juga sebagai
jambu biji atau jambu klutuk ini, banyak mengandung vitamin A dan C.
Pemasarannya tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga di supermarket.
‘’Sekarang ini kelompok Tani Prima Nusantara, memiliki
lahan 5 ha dengan 13 anggota tani ini, setiap bulan dapat meraih Rp 50 juta
dengan menjual Jambu Biji dan Belimbing Dewi. Produk itu dijual ke pedagang di
sekitar pasar Kramatjati,’’katanya.
Dengan EM4
Hasilkan Terong Berkualitas Ekspor
Karena
kualitas yang bermutu (memenuhi persyaratan produk organik), Anto (50) petahi asal Temanggung Jawa Tengah ini,
setiap bulannya mengeksport Terong Jepang ini ke negara asalnya, negeri sakura.
Hampir dua
tahun ini, Anto dapat memenuhi permintaan suplayer terong Jepang yang nantinya
akan di eksport ke Jepang.’’Orang Jepang itu selektif sekali dengan produk
organik sehingga mengirimkan tim ahlinya untuk mengawasi proses
pertaniannya,’’kata Anto.
Menurut
Anto hanya dengan EM4-lah, impian untuk mengekspor terong Jepang organik dapat
terwujud. Terong Jepang memang belum banyak dipasarkan di Indonesia Terong
Jepang yang di Jepang dikenal dengan ‘Nasubi’ ini, banyak digunakan masyarakat Jepang sebagai bahan
membuat tempura sayuran. Bentuknya mirip dengan terong kopek namun dengan warna
lebih gelap (ungu tua) dan lebih kecil.
Terong yang bahasa latinnya Solanum Melongena
L ini, memang sangat disukai masyarakat Jepang yang berfungsi untuk
meningkatkan vitalitas. Terung ungu atau
terong Jepang memiliki rasa ‘juicy’ yang khas. Teksturnya yang lembut sangat
serasi dengan rasa cabai yang pedas menyengat. Sedikit daging, paprika dan mentimun
membuat sajian sayuran ini jadi makin kaya rasa.
‘’Kepercayaan
suplayer terong Jepang ini, setelah saya menggunakan Bokashi dengan fermentasi
dari EM4 sesuai dengan perlakukan orang Jepang terhadap tanaman tersebut, jadi
terong kami ini sangat memenuhi standar mereka,’’katanya.
Walau
hanya ½ hektar lahan yang dipergunakan
untuk lahan Terong, namun hasilnya mampu mensuplay kebutuhan yang ditargetkan.
Selain Terong Jepang, juga ada cabai organik dan jenis sayuran lainnya.
Sementara itu, Kecab PT. Songgolangit cabang
Magelang Jawa Tengah, Sarmo Saputro, merasa bangga karena EM4 dapat memenuhi
standar organik seperti yang ditetapkan para suplayer sayuran organik dari
Jepang ini. ‘’Dari pertanian terong Pak Anto yang menggunakan EM4 ini, menjadi
salahsatu demplot PT. Songgolangit persada untuk wilayah Tumanggung. Dan dengan
keberhasilan ini, tentunya memberikan point positif bagi pemasaran EM4 di masa
yang akan datang,’’katanya.(A)
Langganan:
Postingan (Atom)









