Tampilkan postingan dengan label Edisi VI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi VI. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Februari 2012
Salam Redaksi Edisi VI
Mencoba
Teknologi Baru
Ada terobosan inovatif teknologi dalam upaya peningkatan produksi pertanian yang selama
ini sangat bergantung dengan penggunaan pupuk kimia. Tak perlu biaya tinggi karena tanpa pupuk kimia. Tak perlu membeli benih hybrid
karena benih bisa dikembangkan dari varietas local. Tak perlu rebutan air antar
petani. Inovasi ini disebut Methode SRI (System Of Rice Intensification)
Methode SRI ini
sudah diperkenalkan ke petani di Indonesia sejak tahun 1999. Namun, perkembangannya
tak begitu menggembirakan. Banyak petani
yang tak berani mencoba dengan trobosan inovasi ini. Mungkin
sosialisasi ke petani yang kurang, factor kebiasaan petani yang sulit meneriman
teknologi juga menjadi salah satu penyebab methode SRI kurang popular.Alasannya,
tak mau berspekulasi, tak mau bersusah – susah
membawa pupuk organic ke lahan persawahan. Petani kebanyakan maunya
instant, cukup menebar pupuk kimia ke lahan.
Memang harus
diakui, hingga kini budaya inovasi di dalam negeri belum seperti di
negara-negara lain yang sudah maju teknologinya Kondisi ini semakin parah
karena sumberdaya manusia petani belum mampu mengembangkan potensi-potensi yang
dimiliki, selain pengaruh nilai-nilai budaya yang menyebabkan petani semakin
terjebak dalam kemiskinan
Padahal, metode SRI
ini bisa dibilang metode yang sangat efisien dari segi biaya produksi
tetapi mampu meningkatkan kapasitas
produksi padi. Karena itu, teroboson inovatif dalam upaya
mengembalikan kembali kesuburan tanah dan meningkatkan produktifitas hasil
pertanian harus dilakukan.
Caranya, petani
harus mencoba dan welcome
dengan teknologi baru dalam bidang pertanian
salah satunya melalui pola pertanian dengan methode System Of
Rice Intensification
Metode ini menekankan
pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi
tanaman. Melalui sistem ini, kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur
ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan
mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman.
Keunggulan lainnya adalah hemat air irigasi, hemat bibit,
produksi tinggi di atas rata-rata nasional, mampu mendaur ulang limbah,
memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan mutu (harga). Metode yang ditemukan
agrikulturis Prancis Henri de Laulanie ini jika diterapkan dengan baik, petani
di Indonesia
bisa meraup pendapatan tambahan
Melalui metode
ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian
juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia
untuk pertanian.
Upaya meningkatkan daya saing petani salah satunya
adalah pengembangan kelembagaan pertanian, pemberdayaan, pemantapan dan
peningkatan kemampuan kelompok-kelompok petani kecil.
Melalui EM FORUM ini
mari bersama-sama mencoba
teknologi baru yakni System Of Rice
Intensification agar petani dapat menghasilkan hasil yang lebih baik..(A)
Coloum Pak Oles edisi VI
RAKYAT INDONESIA MAKAN NASI SETIAP HARI
Rakyat Indonesia tidak bisa hidup tanpa nasi, karena
budayanya makan nasi. Kita
merasa belum makan kalau belum makan nasi, walaupun perut sudah kenyang makan
camilan. Istilah bekerja
diidentikkan dengan mencari sesuap nasi, demi sesuap nasi, memberikan arti yang
sangat dalam, bahwa nasi sangatlah penting bagi kehidupan masyarakat
Indonesia. Dalam kebudayaan
agraris masyarakat desa, mereka mewujudkannya dalam upacara dan selamatan atau
syukuran dengan menggunakan beras atau padi sebagai sarana. Mereka memberikan bantuan atau
sumbangan kepada pemilik hajatan dengan beras. Mereka menghias bambu-janur dengan
bulir padi. Bahkan umat
hindu di Bali menutup upacara persembahyangan dengan menaruh beras di kening
dan di jidatnya. Beras
adalah lambang kesuburan yang sekaligus sebagai makanan pokok masyarakat
Indonesia.
Pada saat kita menyuap nasi, apakah kita membeli nasi
atau menanaknya sendiri, kita tidak pernah mau peduli siapa yang yang menanam
padi dari nasi yang kita makan saat ini. Demikian juga saat kita membeli beras
di warung atau di super market, kita juga tidak mau peduli akan jerih payah dan
tetesan keringat petani untuk menghasilkan padi di tengah sawah. Kita juga tidak mau peduli apakah
petani yang menanam padi tersebut sudah mandapatkan keuntungan sehingga
hidupnya bertambah sejahtera atau semakin melarat. Kita juga tidak mau peduli akan luas
sawah yang semakin menyusut, mencapai satu persen pertahun, atau sepuluh persen
per sepuluh tahun, karena tanah sawah yang umumnya datar di daerah perkotaan
sangatlah bagus untuk kawasan industri dan perumahan. Kita juga tidak mau peduli akan debit
air sungai dan sumber-sumber air untuk mengairi sawah menjadi semakin mengecil,
sehingga kemungkinan gagal panen dan kerugian petani semakin meningkat. Kita juga tidak mau peduli tentang
semakin mahalnya harga pupuk, obat dan ongkos merawat tanaman padi, sehingga
biaya produksi untuk menghasilkan sekilo beras menjadi semakin
membengkak. Yang kita
selalu pedulikan adalah, berasnya enak, berkualitas tinggi dan harganya murah,
bila perlu gratis dari pemerintah.
Suara dan teriakan petani akan kerugian dan capeknya
menghasilkan beras tidak didengar oleh siapa-siapa, kecuali oleh sesama petani
padi. Pemerintahpun turut
mengambil jalan pintas dengan mengimpor beras yang harganya disubsidi, sehingga
harga beras menjadi stabil pada tingkat rugi produksi. Produksi padi 26 juta ton pada tahun
1985 mengantarkan Indonesia menjadi negara swasembada beras, yang merupakan
tahun fenomenal dan kebanggaan negara sebagai negara swasembada, sekaligus
sebagai proyek mercusuar, yang penting pernah sawasembada walau satu
kali. Selanjutnya negara
kita rajin mengimpor, karena memang benar-benar kekurangan beras. Walaupun produksi beras meningkat dari
34 juta ton pada 2006 dan 36 juta ton pada 2007, kenyataannya negara kita tetap
mengimpor beras, karena harus ada cadangan, karena penduduknya yang 220 juta
orang itu setiap hari makan beras 300 gram per orang atau dibutuhkan 70 juta
kilogram beras setiap hari.
Jika demikian adanya, maka program swasembada beras tidak
sepenuhnya dibebankan kepada petani padi yang susah mendapat untung, bahkan
sering rugi. Pemerintah juga tidak mengambil jalan pintas dengan mengimpor
terus dan terus mengimpor, yang justru membuat kita tergantung sampai kita
bingung sendiri mencari jalan keluarnya.
Jika ada air di lahan pertanian, pastilah petani ingin
menanam padi, walaupun harga padi murah. Tujuan petani menanam padi adalah agar
aman, agar nyaman, walaupun tidak ada kerja, walaupun tidak ada lauk, walaupun
ada bencana alam dan kerusuhan, asal ada nasi, mereka masih bisa makan. Sebagian besar masyarakat yang bekerja
di luar sektor pertanian selalu berpikir, jika ada uang beraspun bisa
dibeli. Mereka juga lupa,
bahwa, walaupun ada uang, jika tidak ada beras, dimana membeli beras, dan pasti
tidak makan nasi. Disamping
faktor budaya memanam padi,
maka faktor keuntungan juga sangat berpengaruh untuk mendorong petani mau
beramai-ramai menanam padi. Bahkan,
jika memberikan keuntungan yang bagus, maka akan banyak ada pengusaha yang mau
berinvestasi di lahan sawah, sama halnya banyak pengusaha yang mau berinvestasi
di perkebunan, pertambakan atau peternakan. Dalam kondisi menanam padi yang
merugi, maka segala beban kerugian akan ditanggung oleh petani padi dan
pemerintah melakukan pemborosan dana yang tidak perlu dengan terus mengimpor
beras.
Jika harga beras per kg setara dengan dua dolar US,
dengan keuntungan 30%, maka
pemerintah tidak usah pusing memikirkan bagaimana caranya mendorong petani agar
terus menanam padi. Pengusaha
akan datang berduyun-duyun mencari lahan kering yang bisa dijadikan sawah,
dengan teknologi pengairan menggunakan mesin, sumur bor, bendungan dsb. Seluruh
rakyat Indonesia yang ada di desa dan di lahan pertanian akan bekerja saling
membahu untuk menanam padi, karena ada untung. Lapangan pekerjaan di sektor pertanian
padi akan tercipta dengan sendirinya. Jika petani untung, maka seluruh rakyat
indonesia yang sebagian besar petani akan untung juga, maka negara dan rakyat
akan sejahtera. Swasembada
pangan tercapai karena terciptanya keuntungan bersama, bukan sekedar proyek
mercusuar, seperti buah labu yang menaruh bunga di pantatnya, sebenarnya rugi
tetapi berpura-pura untung. Ingatlah
hukum kreativitas: bahwa keuntungan akan meningkatkan kreativitas dan
kesejahteraan. Jika rugi
terus, bagaimana petani bisa diiming-imingi mau terus menanam padi. Ingat : Rakyat Indonesia setiap hari
makan nasi. Kita
harus berani mencari jalan keluar yang membela petani padi.@
Forum Utama Edisi VI
SRI Segera
Dikembangkan Di Indonesia
Implementasi System
of Rice Intensification (SRI).di Indonesia masih
tergolong lambat karena sulitnya mengubah paradigma budidaya dari konvensional
yang memerlukan transfer ilmu ke petani. Tak hanya itu, komitmen pemimpin
formal serta non formal juga masih minim.
Ironis sekali jika Indonesia sebagai negara agraris.
Negara yang dulunya memiliki lahan pertanian yang subur, kini harus mengimpor
beras. Dan parahnya lagi, para petani banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Sekarang ini sebagian petani menganggap bertani bukan
pilihan usaha yang dapat menopang kebutuhan keluarga, Usaha pertanian sudah
tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah anak-anak mereka.
Terbukti, banyak lahan-lahan
persawahan disewakan oleh petani atau di gadaikan. Dan ada juga yang dijual. Kalau
melihat lahan-lahan persawahan yang luas, belum tentu sawah tersebut milik
petani, pemiliknya bisa jadi orang kota.
Sedang petaninya hanya sebagai penggarap
saja.
Coba bayangkan, kondisi
bertani sekarang ini, petani memerlukan biaya yang tidak kecil. Kebutuhan pupuk seperti urea, KCl,
TSP, dan pestisida saja sangat tinggi. Sementara hasil produksi yang mereka
peroleh tidak mengalami peningkatan bahkan cendrung turun. Belum lagi jika
terserang hama
penyakit, atau kalau sudah panen, harga gabah sering dipermainkan, semua itu
sangat merugikan petani.
Melihat kondisi pertanian seperti ini, banyak petani yang
pasrah dan putus asa. Untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani
yang mencari usaha sampingan di kota
besar misalnya dengan menjadi kuli bangunan, menjadi pengemis musiman seperti
terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, dan berbagai profesi buruh kasar lainnya
selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan
hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri bersama keluarganya saja.
Karena itu petani membutuhkan sebuah inovasi dan teknologi
baru dalam bidang pertanian.agar bertani lebih memberikan harapan penghidupan
yang layak. Salah satunya dengan menerapkan metode tanam System of Rice
Intensification (SRI).
SRI adalah
sistem budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman dengan cara
mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara.
Menurut Ir Agus
Susewo, Direktur Direktorat Pengelolaan Lahan Departemen Pertanian, teknologi
SRI merupakan solusi untuk mencapai ketahanan pangan.’’Teknologi SRI sebagai
solusi karena usahatani itu ramah lingkungan, hemat air, hemat bibit, dan
produksi tinggi,’’katanya.
Menurut Agus, metode SRI secepatnya akan diterapkan di
seluruh lahan pertanian di Indonesia. Sebab, metode asal Madagaskar itu
dianggap solusi tepat bagi petani untuk mendapatkan hasil panen yang lebih baik
Ketua Tim Proyek Pengembangan Sistem Irigasi
Terdesentralisasi (DISIMP) Indonesia Bagian Timur, Shuichi Sato Asal Jepang di
Jakarta mengatakan, SRI merupakan teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan
produktivitas tanaman dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan
unsur hara.
Budidaya padi dengan metode SRI yang dikembangkan di sejumlah
wilayah Kawasan Timur Indonesia
terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan dari 5,0 ton per hektar (ha)
menjadi 7,4 ton/ha.
Metode tersebut, tambahnya, terbukti berhasil meningkatkan
produktivitas padi sebesar 50 persen bahkan di beberapa tempat mencapai 100
persen.
Uji coba pola SRI pertama di Indonesia dilaksanakan oleh
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi Jawa Barat pada
musim kemarau 1999 dengan hasil 6,2 juta ton/ha dan musim hujan 1999/2000 yang
menghasilkan padi rata-rata 8,2 ton/ha.
Menurut Konsultan pada Bank Jepang untuk Kerjasama
Internasional (JBIC), budidaya padi dengan sistem ini mampu menghemat air
hingga 40 persen sehingga sesuai dikembangkan di wilayah yang curah hujannya
rendah seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur maupun Kawasan Timur
Indonesia
lainnya.
Dari hasil penelitian Pusat Penelitian Pertanian di Puyung,
Lombok NTB, terbukti metode asal Madagaskar memberikan hasil rata-rata 9 ton/ha
dibanding penanaman konvensional yang hanya 4-5 ton/ha.
Selain hemat air dan produktivitasnya tinggi, sistem tanam
model tersebut mampu menghemat biaya petani karena hanya memerlukan bibit 5
kg/ha sementara dengan sistem biasa membutuhkan bibit 25kg/ha.
"Teknik SRI tidak memerlukan bibit padi yang khusus,
petani bisa menggunakan benih hasil penangkaran sendiri sehingga tidak akan ada
ketergantungan pada benih impor," kata Kepala Perwakilan Nippon Koei di
Indonesia itu.
Sato mengungkapkan, dari segi lingkungan metode tanam SRI
mampu meredam pemanasan bumi karena membantu memperkecil sebaran gas methane
dari lahan persawahan sehingga mengurangi penebalan lapisan gas "rumah
kaca".
Namun secara umum, penerapan metode ini masih menemui
sejumlah kendala. Diantaranya sulitnya merubah paradigma budidaya dari konvensional
yang memerlukan transfer ilmu ke petani, pasar beras organik SRI yang masih
minim, dan komitmen pemimpin formal serta non formal.
Seperti dikatakan pakar bioteknologi Ilmu Tanah IPB, Prof.
Dr. Iswandui Anas, implementasi system SRI di Indonesia masih tergolong lambat
karena sulitnya mengubah paradigma bahwa bertanam padi harus tergenang, mulai tanam setelah benih berumur
30 hari dan dalam satu lubang taman harus enam benih.
Tak ada kata terlambat, jika petani menginginkan
produktifitas pertanian yang tinggi, salah satu alternative yang bisa menjadi
pilihan adalah dengan System Of Rice Intensification (SRI) (A)
Forum EM Edisi VI
Methode SRI Plus EM4 Hasilkan Padi Terbaik
Bertani dengan Metodhe SRI (System Of Rice
Intensification) plus menggunakan Produk
EM4 (Effektif Mikroorganisme) ternyata lebih
menguntungkan dibandingkan dengan yang tidak menggunakan. Pasalnya, pemberian bahan organik ke dalam tanah
tanpa inokulasi EM4 atau bakteri pengurai akan menyebabkan pembusukan bahan organik yang
terkadang akan menghasilkan unsur anorganik (gas methan) sehingga akan
menghasilkan panas dan gas beracun yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. dan mengurangi penebalan lapisan gas "rumah
kaca".

Selain
mendekomposisi bahan organik di dalam tanah, EM4 Pertanian juga merangsang
perkembangan mikroorganisme lainnya yang menguntungkan untuk pertumbuhan
tanaman, misalnya bakteri pengikat nitrogen, bakteri pelarut fosfat dan
mikoriza. Mikoriza membantu tumbuhan menyerap fosfat di sekilingnya. Ion fosfat
dalam tanah yang sulit bergerak menyebabkan tanah kekurangan fosfat.
Dengan EM4 Pertanian hife
mikoriza dapat meluas dari misellium dan memindahkan fosfat secara
langsung kepada inang dan mikroorganisme yang bersifat antagonis terhadap
tanaman. EM4 Pertanian juga melindungi tanaman dari serangan penyakit karena
sifat antagonisnya terhadap pathogen yang dapat menekan jumlah pathogen di
dalam tanah atau pada tubuh tanaman
Sebagaimana
diketahui, salah satu permasalahan yang dihadapi petani pada saat ini adalah
menurunnya hasil panenan permusim. Dari tahun ke tahun petani merasakan bahwa
hasil produksi sawahnya semakin turun. Petani merasa bahwa tingkat kesuburan
dan kesehatan tanah sawahnya semakin kritis. Tanah sawahnya retak – retak dank
keras.
Hal ini sesuai
dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh ahli tanah diperoleh bahwa lebih dari 90% tanah-tanah pertanian yang
tersebar di seluruh Indonesia, kadar bahan organiknya di bawah 1 %. Ini
menandakan tanah pertanian di Indonesia
telah rusak parah. Faktor yang menyebabkan rusaknya tanah pertanian karena kesalahan dalam pengelolaannya
termasuk di dalamnya penggunaan bahan pupuk kimia dan pestisida yang diluar
dosis kewajaran.
Limbah pertanian
berupa jerami, sekam padi yang seharusnya dikembalikan lagi ke dalam sawah,
malahan dibakar, sehingga hampir tidak ada nilai tambah yang dapat
diperoleh perannya sebagai pupuk organik
dan terjadinya pencemaran udara.. Penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijauan
hampir tidak pernah dilakukan lagi dengan alasan merepotkan dan jumlahnya yang
agak banyak. Petani telah terbiasa dengan hal-hal yang praktis dan instant.
Perilaku usaha
tani sekarang ini lebih tertuju pada cara memupuk tanaman, bukan memupuk tanah
agar menjadi subur. Petani belum melibatkan tanah sebagai komponen yang
mempengaruhi dan menentukan produksi sehingga ada pembiaran dalam mengurus
tanah.
Melihat kondisi
seperti ini, sudah saatnya semua pihak termasuk petani mulai merubah pola tanam
yang jelas-jelas sudah tidak dapat memberikan hasil produksi pertanian yang
signifikan.
Metode SRI plus
EM4 atau cara penanaman padi secara intensif adalah salah satu solusi yang bisa
ditawarkan. Dengan menanam padi secara SRI petani akan memperoleh banyak
keuntungan diantaranya : hasil panen yang meningkat (diatas 7 ton/ha), biaya
produksi yang rendah, efisinsi penggunaan air, hidup yang lebih sehat dan bebas
dari residu kimia (cemaran dari pupuk dan pestisida kimia), hama dan penyakit yang mudah dikendalikan.
Selain itu juga akan dihasilkan produk pangan organik yang bebas residu kimia
dengan harga jual yang lebih mahal dibandingkan produk beras yang dibudidayakan
dengan system konvensional (pertanian kimia).
Apalagi di tambah dengan produk EM4 Pertanian, karena EM4 Pertanian merupakan bakteri fermentasi bahan organik
tanah yang menyuburkan tanaman dan menyehatkan tanah. Terbuat dari hasil
seleksi alami mikroorganisme fermentasi dan sintetik di dalam tanah
Sedang cara
membuat Teknik SRI Plus EM4, semua bahan organik berupa jerami, batang pisang,
rumput semak dicacah-cacah antara 5 – 10 cm, pupuk kandang, dedak, sekam
padi disebar secara merata ke dalam
petak sawah sebelum pengolahan tanah yang pertama.
Dalam membuat
larutan EM4 Fermentasi dengan cara melarutkan 2 liter EM4 ditambah dengan 2 liter Molase atau 1 kg gula pasir/gula jawa
ke dalam 200 air sumur. Untuk hasil terbaik sebaiknya air sumur diganti dengan
ait kelapa atau air bekas cucian beras. Aduk hingga semua molase atau gula
larut dalam air. Larutan yang terbentuk kemudian difermentasi atau diperam selama 4 -7 hari di dalam drum
plastik.Drum plastic tempat menfermentasi larutan EM4 bagian bawahnya diberi
kran air untuk mengeluarkan larutan dan disarankan drum tersebut diletakkan di
atas galengan sawah dekat pintu masuk air irigasi.
Sebelum
pengolahan tanah yang pertama, air irigasi dimasukkan ke dalam petak sawah.
Bersamaan dengan masuknya air irigasi, kran drum plastic yang berisi EM4
fermentasi dibukan sehingga larutan EM4 fermentasi ikut terbawa dan menyebar ke
seluruh areal sawah..
Setelah seluruh
lahan sawah basah dan mendapat air yang cukup, lakukan pembajakan tanah sawah
dengan alat bajak tradisional atau dengan traktor sehingga seluruh bahan
organik, EM4 fermentasi dan pupuk kandang rata tercampur dan terbenam dalam
tanah dan biarkan terfermentasi selama 1-2 minggu. Cara ini dikenal dengan
istilah Walik Jerami.
Kemudian buat juga
larutan EM4 fermentasi dengan komposisi
yang sama seperti sebelumnya yakni seminggu sebelum pengolahan tanah kedua
(penggaruan) dilakukan. Larutan EM4 fermentasi dikeluarkan dengan cara membuka kran bersamaan
dengan masuknya air irigasi ke lahan sawah sebelum proses pengolahan tanah yang
kedua dilakukan.
Setelah lahan
sawah cukup mendapat air irigasi dan semua pintu air telah ditutup rapat, tanah
sawah digaru hingga membentuk struktur lumpur. Buat saluran drainase
mengelilingi seluruh lahan sawah dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm. Saluran
drainase ini dibuat untuk membuang kelebihan air sehingga lahan penanaman
selalu dalam kondisi macak-macak (tidak boleh tergenang air).@
Kamis, 02 Februari 2012
Forum Usaha Edisi VI
Kelompok Tani
Ternak (KTT) Setiawan
Meraup Rupiah Dari Limbah Ternak
Bukan sekedar coba-coba,
tapi terencana, dan sistematis apa yang
dilakukan Kelompok
Tani Ternak (KTT) Setiawan Banjar Sangging, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan
Tabanan, dalam mengelola limbah dan system rantai makanan yang efektif sehingga menghasilkan usaha yang
bernilai ekonomis.
Punya ternak sapi, punya teknologi pengolahan limbah asal Jepang (EM4),
punya lahan pertanian yang ditanami Jagung yang limbahnya bisa menjadi pakan ternak,
punya ternak ayam, punya bioreactor dan lain-lain.
Semuanya itu saling menghasilkan. Tanaman jagung berkualitas, limbahnya
menghasilkan pakan ternak, Ternak menghasilkan daging yang banyak
(gemuk-gemuk), Bio reactor menghasilkan gas untuk memasak, Kotorannya menghasilkan limbah yang
dijadikan pupuk organic baik padat maupun cair termasuk pestisida organic yang
bernilai ekonomis yang konon, pemasarannya menembus hampir seluruh daerah di Bali dan
sangat diminati oleh petani kebun bunga dan tanaman hias.
Sedang Teknologi EM4 Mencegah bau tidak sedap pada kandang dan tempat
pembuangan kotoran ternak, mengurangi jumlah lalat dan serangga ternak,
memperbaiki kesehatan ternak, mengurangi ketegangan (stres) ternak, memperbaiki
mutu daging ternak, memperbaiki kesuburan ternak, memperbaiki mutu kotoran
ternak. Dan lain-lain.
Sanitasi dengan menggunakan EM4 akan menekan
pertambahan mikroorganisme yang merugikan, sehingga lingkungan kandang dan kesehatan
lebih terjaga baik terhadap hewan, manusia maupun lingkungan sekitarnya. Bau
busuk kandang dan serangan penyakit pada ternak adalah disebabkan oleh
pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan. Hal ini akan menimbulkan zat-zat
yang berbahaya dan beracun seperti amonia, hodrogen sulfida, dan
torimetiru-amin.
Selain sanitasi dengan technology EM4 juga dapat
dibuat pakan dengan biaya yang cukup
murah. Biaya pembuatan PAAS
berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh tenaga lapangan PT.
Songgolangit Bali dan Anggota Kelompok Nandi Abian.
|
Bahan- bahan
|
Satuan
|
Qty
|
Harga
/Satuan
|
Total
|
|
EM4
|
Liter
|
1
|
Rp.17.500,-
|
Rp.17.500,-
|
|
Molasse
|
Liter
|
1,5
|
Rp.
5.000,-
|
Rp.
7.500,-
|
|
Dedak Halus
|
Kg
|
50
|
Rp. 1.500,-
|
Rp. 75.000,-
|
|
Jerami
|
Kg
|
1.000
|
Rp. 50,-
|
Rp. 50.000,-
|
|
Tenaga Kerja
|
Jam
|
3
|
Rp. 5.000,-
|
Rp. 15.000,-
|
|
Lain-lain
|
10%
|
|
|
Rp. 16.500,-
|
|
Total
|
|
|
|
Rp.181.500,-
|
Komposisi pemberian PAAS di sesuaikan dengan berat badan ternak
sapi, dengan menambahkan daun gamal dan batang pisang diharapkan dapat meningkatkan bobot badan
lebih dari 500 gr/hari.
|
Komposisi Pakan
|
250 kg
|
350 kg
|
450 kg
|
|
PAAS
|
10 Kg
|
15 Kg
|
20 Kg
|
|
Batang Pisang
|
3 Kg
|
4 Kg
|
5 Kg
|
|
Daun gamal dan daun waru
|
10 Kg
|
15 Kg
|
20 Kg
|
|
Total
|
23
Kg
|
34
Kg
|
45
Kg
|
Target peningkatan berat badan yang diharapkan dengan pemberian
PAAS saja adalah 500 gr/hari
Menjadi Pilot Projek
Dinas- Dinas Peternakan
Sebuah usaha pertanian
dan peternakan terpadu yang menggelitik dinas-dinas pertanian dan
peternakan baik dari Propinsi Bali maupun
Dinas dari propinsi-propinsi lain.
Agung Wijaya, yang menjadi coordinator
lapangan KTT, Limbah yang sebelumnya dibuang begitu saja oleh peternak karena
tidak mengetahui teknologi pembuatannya, kini menjadi matadagangan bernilai
ekonomis, karena tiap bulan dapat diproduksi kurang lebih 150 ton pupuk organik.
Pupuk dalam kemasan 15 kg itu dijual Rp 15.000 atau Rp 1.000/kg
sehingga total penghasilan tiap bulannya sekitar Rp 150 juta. ‘’ Di hitung
secara kasar, hasil dari penjualan pupuk organik tiap hari rata-rata Rp 5 juta.Ya
ini perhitungan kotor. Tapi yang pasti mampu menghidupi karyawan yang jumlahnya
sekitar 40 orang,’’katanya.
Kreativitas kelompok ternak yang
diketuai I Gusti Agung Budiana itu, dalam memproduksi pupuk kandang, selain
memanfaatkan limbah ternak anggota kelompok, juga membeli kotoran sapi dan
kotoran ayam dari sejumlah kelompok ternak lainnya.
Pupuk ramah lingkungan itu pun
pemasarannya kini menjangkau sejumlah kabupaten di Bali,
termasuk dijual oleh para pedagang tanaman hias di pinggiran Kota Denpasar. Artinya
pula, tidaklah sia-sialah, aparat Dinas Peternakan di Kabupaten Tabanan
mendorong terus menerus terbentuknya kelompok-kelompok ternak, @
EM Coner Edisi VI
Dengan EM4 Produksi
Meningkat
Memang sudah lama Kabupaten Brebes dikenal sebagai
penghasil telur asin. Kalau memasuki Kabupaten Brebes, banyak sekali dijumpai
toko atau kedai yang menjual telur asin. Tak pelak, telur asin menjadi
trademark wilayah di ujung barat Provinsi Jawa Tengah tersebut. Melimpahnya
produksi telur asin di Brebes tak terlepas dari banyaknya sentra peternakan
itik di wilayah ini.
Brebes memang dikenal sebagai pusat penghasil telur asin.
Sehingga telur asin menjadi oleh - oleh bagi mereka yang berkunjung ke wilayah
itu. Di Brebes tercatat 1.778 peternak itik
yang tersebar dan bergabung di lebih dari 10 kelompok tani ternak itik (KTTI).
Salah satunya adalah Kelompok Tani Maju Jaya Desa Limbangan Brebes dengan ketua
kelompoknya H. Sugiarto yang cukup berhasil mengembangkan ternak itik di daerah
tersebut. KTTI Maju Jaya di Desa Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, tahun 2004
lalu pernah meraih predikat sebagai KTTI terbaik tingkat nasional.
Banyaknya jumlah
peternak itik menjadikan Brebes sebagai salah satu sentra peternakan itik di
Jateng. Setiap tahunnya, lebih dari 100 juta telur diproduksi di
peternakan-peternakan telur di Brebes. Populasi itik di wilayah ini mencapai
kurang lebih 889.000 ekor. Banyaknya warga Brebes yang menggeluti profesi
sebagai peternak itik tak terlepas dari keuntungan yang bisa dihasilkan dari
kegiatan ini. Dengan modal yang tidak terlalu besar dan perawatan yang mudah.
Bagi H.
Sugiarto, beternak itik sesuatu yang sangat menyenangkan, apalagi di dukung
dengan teknologi.yang ramah lingkungan seperti
penggunaan Effektif Mikroorganisme (EM4) peternakan, sesuai dengan yang
diharapkan. Pasalnya, hasil produksi
telur meningkat dan itik pun sehat serta tak mudah mati.
‘’Pokoknya
dengan EM4, biaya operasional bisa ditekan, walhasil keuntungan meningkat, disamping dapat
mengurangi bau limbah (kotoran itik) yang menyengat sehingga menjaga keramahan
lingkungan’’katanya.
Menurut H.
Sugiarto, EM4 dapat Menyeimbangkan
mikroorganisme yang menguntungkan dalam perut itik, memperbaiki dan
meningkatkan kesehatan itik, meningkatkan mutu daging itik, mengurangi
tingkat kematian bibit itik, memperbaiki kesuburan ternak. ‘’’Tak hanya
itu penggunaan EM4 juga dapat mencegah
bau tidak sedap pada kandang dan kotoran itik. Serta mengurangi stress pada itik,’’katnya.
Memang seperti
dikatakan Kacab. PT. Songgolangit Persada Magelang, Sarmo Saputro, menggunakan
EM4 pada pakan ternak sepereti itik akan menghasilkan produksi yang tinggi
dengan biaya produksi yang rendah. Bahkan kualitas telurnya lebih bagus seperti
disamping kulit telurnya tebal, warna
kuning telurnya lebih kuning dan
rasanya lebih gurih. (A)
EM4 Effektif Menghilangkan Bau Ternak Ayam
Apa yang menjadi
persoalan peternak ayam khususnya dalam menghilangkan bau yang meresahkan masyarakat
sekitar terjawab sudah. Tentunya dengan menggunakan teknologi yang ramah
lingkungan seperti EM4.
Tak perlu ragu
dengan penggunaan EM4, Karena EM4 merupakan mikroorganisme campuran dari 80
jenis mikroorganisme fermentasi yang memfermentasi bahan organic. Jika proses
fermentasi berlangsung dalam penguraian
bahan organic (kotoran ternak), maka pembentukan gas (bau busuk) dan panas
dapat ditekan atau dihilangkan sama sekali. Bahkan mengurangi lalat dan hama penyakit.
Hal ini
dialami salah satu peternak ayam petelur
milik Harjo di Desa Panti, Randi Gundam Jember. Sebelum menggunakan EM4, ternak
ayamnya begitu bau hingga mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar tetapi
setelah menggunakan teknologi EM4, bau yang menyengat dapat ditekan. Karena masalah bau dapat teratasi ayam pun
menjadi sehat termasuk para pekerjanya.
Seperti
dikatakan Kacab PT. Songgolangit Surabaya, Raharko, jika pengolahan unggas
kurang baik, limbah yang dihasilkan (kotoran ternak) lebih banyak menimbulkan
masalah seperti penyakit ternak dan lingkungan dari pada keuntungan yang
ditimbulkannya. ‘’Usaha yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah
bagaimana membuang atau menjual secepatnya dan temtunya dengan harga yang murah
kotoran ternak yang menumpuk. Jelas
terlihat peternak tidak mendapatkan nilai tambah dari hasil kotoran ternak
tersebut,’’katanya.
Namun dengan
teknologi EM4 , peternak bisa memanfaatkan limbah tersebut dengan lebih
bernilai ekonomis untuk pertanian organic. Sebagaimana diketahui sekarang ini
daerah-daerah pertanian sebagai penghasil lahan pangan telah kekurangan bahan
organic dan miskin hara. Dan tentunya dengan EM4 dapat meningkatkan mutu kotoran ternak yang
dihasilkan. Karena kotoran ayam tadi dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos
yang bernilai tinggi (bokashi) serta dapat difermentasi menjadi pakan ternak
Keunggulan lain
penggunaan teknologi effective mikroorganisme pada ternak dapat mengurangi
jumlah lalat dan serangga ternak serta mengurangi ketegangan (stress) ternak.
Dengan
menggunakan EM4 diakui beberapa pekerja di peternakan tersebut, dapat
mengurangi biaya produksi sehingga peternak dapat menarik keuntungan lebih
dengan terus menjaga kualitas maupun kuantitas telurnya. (A)
Langganan:
Postingan (Atom)







