Tampilkan postingan dengan label Edisi IV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi IV. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Salam Redaksi Edisi IV
Beternak Sapi Organik
Beternak sapi telah lama dikenal masyarakat. Namun
sayangnya, usaha yang menjanjikan ini, sekedar usaha sampingan saja. Memang,
walau memelihara sapi dikelola secara tradisional tetapi tetap memberikan hasil
yang lumayan, apalagi jika pemeliharaannya ditingkatkan, sehingga pertambahan
berat badan ternak mencapai hasil yang maksimal.
Sebuah peluang usaha yang menggiurkan
tentunya. Perlu diketahui, laju pertambahan penduduk yang terus meningkat serta
untuk meningktakan gizi masyarakat Indonesia, sangat memerlukan
tambahan konsumsi daging.
Karena itu, beternak
sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa
daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dan sangat penting dalam
kehidupan masyarakat.
Untuk pemenuhan
kebutuhan protein hewani, peternak perlu meningkatkan produksi daging.
Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus
menerus meningkat dari tahun ke tahun. Diharapkan Indonesia bisa berswasembada daging
dan tidak perlu mengimpor.
Namun tentunya, usaha
tersebut memerlukan teknologi tepat guna dengan biaya murah. Apalagi
peningkatan usaha peternakan sapi sebaiknya diarahkan agar meminimalkan penggunaan
produk pakan kimiawi. Atau lebih jelasnya, peningkatan usaha peternak sapi
perlu diarahkan ke peternakan sapi organik.
Dengan potensi alam yang tersedia, pakan alami
sangat mudah didapat. Dengan bioteknology yang tepat, limbah pertanian dapat
diolah menjadi pakan berkualitas tinggi. Limbah yang difermentasi misalnya, kandungan
gizi dan protein lebih tinggi, lebih mudah dicerna oleh ternak dan bisa
disimpan dalam waktu satu bulan. Dengan bioteknology ini, juga menghasilkan
pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Dengan bioteknology ini,
persoalan sanitasi dan lingkungan dapat diatasi.
Melalui
bioteknology, ternak sapi lebih sehat karena mampu menyeimbangkan
mikroorganisme di dalam perut ternak, walhasil bobot sapi akan terus bertambah
dan memiliki keuntungan yang lebih
besar.
Karena itu, produk teknology mikrobia yang berguna untuk
membantu menaikan kadar protein bahan pakan sangat penting. Melalui MEDIA EM
FORUM ini, peternak atau calon peternak sapi potong bisa termotivasi agar lebih
serius menangani peternakan sapi organik.
Tentunya, dengan
banyaknya usaha sapi di masyarakat, pemerintah
berharap masyarakat bisa memenuhi kebutuhan daging secara mandiri.
Kenyataan saat ini, hampir 20 % dari kebutuhan daging sapi di Indonesia masih diimpor dari luar
negeri.
Memang,
swasembada daging tidak hanya terkait dengan ternak sapi. Esensinya, ke depan
upaya peningkatan populasi dan produksi daging juga menyangkut berbagai jenis
ternak lain seperti domba, kambing, kerbau, kelinci dan beragam ternak unggas
yang produktif untuk dibudidayakan.
Tentunya,
pembangunan peternakan bukan hanya urusannya Departemen Pertanian saja, tetapi
juga menuntut kepedulian serta dukungan banyak pihak termasuk masyarakat,
dengan perspektif selain tercukupinya kebutuhan protein hewani (daging - susu -
telur) juga terbukanya lapangan kerja berkat berkembangnya usaha peternakan.**
Coloum Pak Oles edisi IV
Bisnis Sapi Organik
Petani dan peternak di Indonesia
tidak bangga menjalani pekerjaannya, karena usahanya dikerjakan dalam skala
kecil. Usaha pertanian dan peternakan yang dijalankan dalam skala kecil
adalah usaha yang walau dikerjakan serius tidak memberikan keuntungan yang
berarti, bahkan jika dihitung secara matematika bisnis, usaha tersebut
merugi. Biasanya usaha pertanian dan peternakan saling menunjang.
Peternakan menghasilkan pupuk, tenaga dan daging. Pertanian
untuk menghasilkan bahan makanan dan pakan ternak.
Bagaimana caranya agar bisa meningkatkan keuntungan dalam usaha
peternakan? Jawabannya adalah tingkatkan produksinya, dengan meningkatkan
jumlah ternak yang dipelihara, sesuai dengan kebutuhan pasar.
Usaha peternakan sapi dalam skala besar di Indonesia merupakan peluang yang
memberikan harapan. Bayangkan saja, konsumsi daging sapi masyarakat
Indonesia yang cukup rendah, sekitar 2 Kg pertahun, maka pertahunnya
membutuhkan 440 juta Kg daging sapi, atau setara dengan 1,1 juta ekor.
Demikian juga kebutuhan susu yang belum terpenuhi. Konsumsi susu
masyarakat Indonesia per tahun terrendah di dunia, atau sekitar 7 liter per
tahun, jika dibandingkan dengan masyarakat Malaysia dan Singapura, yaitu sekitar 24 liter per tahun.
Dengan kebutuhan yang minim tersebut, Indonesia baru bisa memproduksi 1,2
juta liter susu per hari, sehingga kekurangan lagi 1 juta liter susu per
hari. Kekurangan daging sapi dan susu masyarakat Indonesia dijawab secara instan
dengan impor dari negara lain. Tentu saja kita tidak mungkin terus
bergantung dengan negara lain, karena harganya mahal, menguras devisa negara,
tidak produktif dan mengurangi kesempatan kerja. Hal ini harus dijawab
oleh pemerintah dengan aksi nyata, bukan dengan debat, seminar atau workshop
tentang bisnis sapi, yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan dan memenuhi
permintaan pasar yang sudah jelas nampak di depan mata. Kekurangan susu
sapi dan daging sapi harus dijawab dengan beternak sapi perah dan sapi daging,
dengan meningkatkan aktivitas peternakan secara nasional. Tindakan itu bisa
dilakukan oleh pemerintah dengan membuat kebijakan dan membangun infrastruktur
yang terarah dan terencana dengan baik, yang selanjutnya ditindak-lanjuti
dengan aksi nyata oleh peternak kecil, menengah dan besar.
Pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya,
NTB dan NTT adalah tempat yang cocok untuk mengembangkan bisnis peternakan
sapi. Kondisi alam dan masyarakatnya mendukung untuk usaha
tersebut. Pasar susu dan daging di Indonesia masih terbuka luas.
Meningkatnya pendapatan masyarakat karena terbukanya lapangan kerja akan
meningkatkan kebutuhan pasar daging dan susu. Jika usaha bisnis
peternakan sapi tersebut dikembangkan secara professional, maka secara keseluruhan
akan menggerakkan ekonomi masyarakat. Di lain pihak, limbah peternakan
berupa kotoran hewan merupakan sumber pupuk organic, jika dikelola dengan baik
akan bisa memasok kebutuhan pupuk organic, dan dalam jangka panjang akan mampu
mengarahkan pembangunan pertanian menuju pertanian organic.
Pembangunan peternakan dan pertanian tidak akan bisa besar jika tidak dilakukan
dalam skala besar. Semboyan small is beautifull mungkin tidak
cocok diterapkan dalam bisnis ini, dan perlu diganti dengan big is
beautifull. Agar usaha peternakan dan pertanian bisa dilakukan dalam
skala besar, maka harus dikuasai ilmu, teknologi, informasi dan
menejemennya. Kalau kita melongo dan rajin berbincang melihat peluang,
maka jangan salahkan jika peluang yang ada dimanfaatkan oleh orang lain.
Keberanian dan keseriusan dalam menggarap pasar pertanian dan peternakan di
negeri sendiri merupakan tantangan generasi sekarang. Jika peternakan
bisa dikembangkan dengan baik, maka pertanian organic juga akan berkembang.
Selanjutnya, bisnis peternakan organic juga terbuka di depan mata, untuk
memenuhi kebutuhan pasar daging dan susu organic. Ingat jurus bisnis
adalah, siapa cepat dia dapat. Siapa pintar dia dibayar. Itu
saja…! Mari rebut kesempatan
itu dengan gigih, mantap dan serius. Serius …., gitu loh….!
Forum Utama Edisi IV
Beternak Sapi, Peluang Usaha Menjanjikan
Saat ini,
peluang usaha yang cukup terbuka di sektor peternakan. Salah satunya adalah usaha
beternak sapi. Selama ini usaha ruminansia terbukti dan ke depan, memiliki prosfek yang lebih terbuka dan memberikan keuntungan
yang sangat lumayan. Pasalnya, hampir setiap tahun, Indonesia membutuhkan daging selalu meningkat sejalan
dengan pertambahan penduduk dan kebutuhan gizi masyarakat. Belum lagi untuk
kebutuhan pesta, hari raya, qurban dan lain-lain. Apalagi pemerintah mencanangkan swasembada
daging pada tahun 2010.
Kebutuhan
daging sapi nasional diproyeksikan oleh Deptan, sebanyak 411 ribu ton pada
2008, meningkat menjadi 426 ribu ton pada 2009 dan pada 2010 sebanyak 441 ribu
ton yang dipenuhi cukup besar dari impor.
Menurut
Mentan Anton Apriyantono, diperkirakan penyediaan daging sapi pada 2010, 31
persen masih diimpor dan hanya 69 persen atau 303 ribu ton dari dalam negeri,
karena itu pemerintah mencanangkan program percepatan pencapaian swasembada
daging sapi agar hanya 10 persen saja daging sapi yang diimpor.
Pencanangan
itu dipicu oleh belum mandirinya bangsa ini, dalam memenuhi kebutuhan konsumsi
dagingnya sendiri. Hampir setiap tahun, untuk memasok demand, Indonesia masih harus mengimpor sapi 450.000
ekor sapi, dari Australia
dan Selandia Baru.
Di
sisi lain, pemerintah ditugaskan untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan
warganya, sesuai dengan aturan PP No.68/
2002 bahwa, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tecermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Namun,
tugas pemerintah menjadi berat. Pasalnya, untuk memasok kebutuhan daging
warganya, produksi daging di tanah air belum mampu dilakukan secara swasembada.
Berdasarkan
data Direktorat Jenderal Peternakan terlihat, neraca produksi daging sapi
nasional pada 2008 lalu diperkirakan hanya memenuhi 64,9% dari proyeksi
kebutuhan konsumsi sepanjang tahun itu atau masih ada kekurangan 135.110 ton
(35,1%) dari total kebutuhan daging.
Dengan populasi 11,26 juta ekor produksi daging sapi nasional
diperkirakan mencapai 249.925 ton dengan kebutuhan konsumsi daging diperkirakan
mencapai 385.035 ton.
Indonesia dengan
jumlah penduduk di atas 220 juta jiwa membutuhkan pasok daging yang besar.
Peternakan domestik belum mampu memenuhi permintaan daging dari warganya.
Timpangnya antara pasokan dan permintaan, ternyata masih tinggi Tidak
mengherankan, lembaga yang memiliki otoritas tertinggi dalam hal pertanian
termasuk peternakan, Deptan, mengakui masalah utama usaha sapi potong di
Indonesia terletak pada suplay yang selalu mengalami kekurangan setiap tahunnya
Sementara laju
pertumbuhan konsumsi
dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju peningkatan
populasi sapi potong dan pada gilirannya memaksa Indonesai selalu melakukan
impor baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging dan jeroan sapi.
Dan
tentunya, Indonesia
tidak bisa menghindari diri dari keharusan impor di tengah kekurangan. Jika
hanya mengandalkan pasokan, saat kebutuhan naik dari kondisi normal, harga akan
melambung. Kini, pasokan daging Indonesia
dari Australia,
Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada. Terbanyak dari Australia dan Selandia Baru, karena
lebih dekat dan harganya lebih murah. Persoalannya, bagaimana jika permintaan
naik dan negara pemasok mengalami kekurangan pasokan juga? Pasti kewalahan juga.
Direktur Budidaya Ternak Ruminansia dari Direktorat Jenderal Peternakaan
Departemen Pertanian RI Ir Fauzi Luthan menyatakan, salah satu upaya yang akan
dilakukan, diantaranya melakukan penyuluhan dan pembimbingan kepada peternak,
menyiapkan inseminasi buatan yang lebih baik dan melakukana penangangan
kesehatan terhadap gangguan reproduksi ternak.
“Yang terjadi selama ini, program inseminasi buatan yang dianggap kurang
berhasil, padahal ternaknya yang kurang siap dengan adanya gangguan
reproduksi,” katanya.
Maka dari itu, kata Fauzan, Deptan setidaknya masih membutuhkan sebanyak
10 ribu tenaga penyuluh pertanian kontrak termasuk di dalamnya tenaga
peternakan yang difokuskan pada daerah sentra sapi potong dan sapi perah.
‘’Sejak
tahun lalu, kita sudah menerapkan program percepatan di daerah–daerah yang
memiliki induk populasi ternak dalam jumlah besar, ini yang kita push (dorong)
peningkatan kelahirannya dengan cara meningkatakan jumlah bantuan pejantan
unggul, inseminasi buatan, dan penanganan kesehatan reproduksi,” tandasnya
Mulai berkembang
sistem lain yakni ternak sapi potong berskala rumah tangga yang menggunakan
cara konvensional sehingga memudahkan sebuah rumah tangga mengembangkan usaha
ternak sapi potong ini
Sistem ini
dikembangkan karena ternak sapi potong dipandang sebagai bentuk usaha yang
dapat memberikan tambahan pendapatan kepada para peternak kecil skala rumah
tangga tersebut sekaligus mengangkat masyarakat ekonomi lemah.
Ternak sapi
potong berskala rumah tangga tersebut sangat ekonomis, baik dari sisi biaya
pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena berskala kecil, pembuatan
kandang biasanya berbentuk tunggal
Ternak sapi
potong berskala rumah tangga tersebut sangat ekonomis, baik dari sisi biaya
pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena berskala kecil, pembuatan
kandang biasanya berbentuk tunggal Sistem budi daya ternak sapi berskala rumah
tangga ini penerapan sistem ini mampu mendorong pendapatan sebuah rumah tangga
hingga berlipat
Pemerintah
mendorong mengembangkan sapi potong kepada para peternak kecil berskala rumah
tangga karena mampu memberikan tambahan pendapatan kepada pengusaha kecil di
daerahnya.*
Forum EM Edisi IV
Mudahnya Beternak Sapi Dengan EM4
Banyak manfaat beternak sapi dengan menggunakan
teknologi EM4, selain mudah merawatnya, hemat pakan, ternak tak mudah terserang
penyakit,, ramah lingkungan, terpenting peternak bisa menjual ternak dengan
harga mahal karena ternak memiliki bobot tubuh lebih besar. Dan yang pasti
lebih mahal harganya.
‘’Jangankan bau, lalat saja sulit dicari,’’kata
Azhari peternak sapi asal Desa Cihike Kecamatan Bangbulang Kabupaten Garut
(sekitar 70 km2 dari Kota Garut dan ke arah laut Pamempeuk sekitar 40 Km2) .
Menurut Azhari, dirinya enjoy beternak sapi, karena
masih bisa mengerjakan pekerjaan lain, seperti berkebun dan bertani .’’
Kebutuhan pupuk bokashi, bisa langsung dimanfaatkan untuk pertanian dari hasil
beternak sapi ini,’’katanya.
Memang diakui Azhari, EM4 membuat ternak lebih sehat
dan gemuk. Produksi susunya lebih meningkat (sapi perah), biaya produksi dan
perawatan bisa ditekan. Dapat mengatasi masalah lingkungan (limbah tidak
berbau) dan menghasilkan pupuk kandang berkualitas (bokashi).
Tak dipungkiri, penggunaan EM-4 untuk ternak sapi
lebih menguntungkan dan banyak memberikan manfaat khususnya bagi kesehatan
ternak. Walhasil, dengan keunggulan menggunakan EM-4, ternak Ashari menjadi
percontohan bagi masyarakat sekitar yang ingin menggunakan teknologi EM4 ini.
Bahkan, karena sapinya yang sehat dan gemuk, ternaknya diperlombakan ditingkat
kecamatan Bangbulang Garut.
EM4 Peternakan merupakan kultur EM dalam medium cair
berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan untuk pertumbuhan dan
produksi ternak dengan cirri-ciri berbau asam manis. EM4 Peternakan mampu
memperbaiki jasad renik didalam saluran pencernaan ternak sehingga kesehatan
ternak akan meningkat, tidak mudah stress dan bau kotoran akan berkurang.
Pemberian EM4 Peternakan pada pakan dan minum ternak, akan meningkatkan nafsu
makan karena aroma asam manis yang ditimbulkan. EM4 peternakan tidak mengandung
bahan kimia sehingga aman bagi ternak.
Memang Ashari merasakan betul manfaat setelah
menggunakan EM4. menurutnya sebelum menggunakan EM4, biaya produksi cukup
tinggi karena mencari pakannya setiap hari. Belum lagi biaya tenaga kerjanya.
Untuk satu ekor saja kebutuhan pakan bisa mencapai 10 - 20 kg sehari. Dan
pertumbuhan sapi-nyapun lamban, biasaya
6 bulan ke atas pertumbuhannya baru bisa kelihatan.
Disamping itu sebelum menggunakan EM, ternak sering
terkena penyakit seperti cacingan, mencret-mencret serta gatal-gatal. Karena
pengaruh bau kotoran sehingga mengundang hama
dan lalat untuk datang ke kandang tersebut. Namun sejak menggunakan EM-4
beternak sapi menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak memakan waktu untuk
pemberian pakan. Pertumbuhan sangat cepat,
3 bulan saja sapi sudah gemuk, kandang tidak berbau dan hasil produksi
susunya lebih meningkat dan aroma susunya
tidak berbau amis.
‘’Orang-orang disini banyak yang beternak sapi dan
mereka sepertinya kewalahan mengurusinya karena harus mencari pakan setiap hari
dan biaya yang tinggi, sedang saya beternak sapi menjadi sesuatu yang
menyenangkan, tidak membutuhkan waktu
banyak untuk mencari pakan dan biaya produksi sangat minim sehingga saya masih bisa
mengerjakan pekerjaan lain seperti bercocok tanam dan lain sebagainya. Kuncinya
itu cukup dengan menggunakan teknologi Effektif Mikroorganisme (EM-4),’’kata
Ashari.
Buktinya apa pakan bisa irit dan tidak memakan waktu
banyak? Ashari dengan enteng menjelaskan bahwa ia hanya memcari pakan sekali
dalam waktu 6 bulan (semusim). Jadi satu musim panen itu, jerami-jerami
sisa-sisa pertanian yang dibuang petani dikumpulkan dan difermentasi sehingga
pakan tersebut awet untuk waktu lama. ‘’Asal kita punya tong-tong yang banyak untuk tempat fermentasi
untuk stok satu tahun bisa dan pakan yang sudah difermentasi itu
semakin lama semakin harum sehingga ternakpun akan semakin suka
memakannya.,’’katanya.
Sedang caranya, untuk pembuatan 1000 kg persiapkan
dulu alat-alat untuk fermentasi seperti tong plastik, bak semen, kantong
plastik, ember, alat cingcang (golok) dan hand spayer. Sedang bahan-bahan yang dibutuhkan Em-4 sebanyak 1
liter, Molase atau Gula Merah : 0.5 Kg, Air : 100 lt, Dedak halus : 10% dari
bahan dan rumput atau jerami 1000 kg.
Cara menbuatnya, larutkan cairan EM-4 sebanyak 1
liter dan larutkan gula merah yang telah diencerkan ke dalam tong plastik yang
berisi air 100 liter. Lalu aduk kemudian diamkan selama dua hari sampai
mengeluarkan aroma nira atau wedang. Ambilah campuran bahan baku pakan (jerami, rumput)sebanyak 1000 kg
yang telah dicinjang (5-10 cm) dan turunkan kadar airnya atau layukan. Taburkan
dedak lalu semprotkan larutan EM-4 dengan hand spayer sambil aduk-aduk sampai
rata dengan kadar air 30%. Jika sudah rata masukkan bahan dalam wadah atau
tempat fermentasi padatkan dengan gacok sampai betul-betul padat lalu tutup
rapat jangan sampai ada udara masuk atau hampa udara selama 5 hari. Maka itu
pakan bisa digunakan.
Dengan proses
fermentasi ini biaya pakan menurut Ashari sangat irt yakni sekitar Rp. 5000
perhari dengan rincian jerami bisa dihargai 100 rupaiah perkilo, biaya
pembuatan hanya 50 rupaih perhari jadi untuk pakan hanya 150 perkilo. Kalau
sehari satu sapi makan 20 kilo maka biayanya 3000 rupiah. Sedang yang 1000
rupiah untuk biaya makanan penguat seperti dedak, ampas tahu dan lain-lain dan
1000 lagi untuk biaya perawatan. Maka kalau di total sekitar sekitar 5000
rupiah.
‘’Sedang
saya menjual susu sisa konsumsi keluarga saya sehari 10 liter x Rp. 3000/liter = Rp30.000 perhari.
Kalau dipotong biaya produksi Rp. 5000
jadi tinggal 25.000 rupiah. Dan ternyata saya juga masih mendapat ke untungan
dengan memanfaatkan kotoran sapi menjadi bokashi untuk tanaman,’’jelasnya.
Dengan
aplikasi EM-4 pada ternak dengan keuntungan diatas, Ashari dapat memberikan
ilmunya kepada peternak lain. ‘’Ya. Saya juga memberikan penyuluhan ke peternak
lain di pesantren-pesantren bagaimana aplikasi EM4 untuk ternak ini dan
masyarakat menyambut baik usaha saya ini dan bahkan mereka dapat melihat
langsung ternak saya sehingga mereka benar-benar yakin akan keunggulan dari EM4
dari PT. Songgolangit Persada,”katanya bangga.*
Forum Usaha Edisi IV
Usaha Penggemukan Ayam Potong
Beternak ayam potong (pedaging),
memiliki prospek yang cukup cerah pada masa sekarang ini, dilihat dari
kebutuhan akan daging untuk konsumsi di Indonesia cukup besar. Apalagi
dalam menghadapi hari raya seperti hari raya idul fitri, natal dan tahun baru.
Peluang bisnis ayam potong ini tentu saja sangat menggiurkan, akan
tetapi didalam berusaha tersebut, peternak harus dapat mengantisipasi
persoalan-persoalan yang muncul dalam masa pemeliharaan.
Seperti yang dialami Heru, peternak ayam potong dari
Desa Bagorejo, Banyuwangi, walau bisnis
ayam potong sangat menguntungkan tetapi kalau tidak bisa merawat dan menjaganya
dari penyakit, bukan keuntungan yang di dapat tetapi kerugian.
Dilihat dari pengalaman, Heru yang sudah menggeluti bisnis
ayam potong selama 15 tahun ini terbilang cukup berhasil. ‘’Namun sekarang ini,
saya hanya mengelola penggemukan saja selama 1 - 2 minggu selanjutnya siap
dijual’’katanya.
Menurutnya, sekarang ini
banyak sekali bisnis ayam potong di Banyuwangi. Karena mahalnya pakan,
atau mengganasnya gangguan penyakit, peternak banyak yang menjual ayam muda,
atau bibit yang baru dirawat selama 2 minggu. ‘’Bibit-bibit yang masih 2 minggu
itu saya beli dan saya gemukan di sini sehingga siap dilempar ke pasaran,’’katanya.
Memang dalam masa penggemukan, kebutuhan pakan yang paling
utama. Konsentrasi penggemukan memang pada pemberian pakan yang bermutu. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang
dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral,
sehingga pertambahan berat badan perhari tinggi.
‘’Pada saat itu ayam memiliki berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan
adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam
juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap
penyakit.
Pada masa penggemukan ini,, yang perlu diperhatikan adalah
tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi.
Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada
umur siap jual antara 30 – 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam.
Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut,
ayam sudah dapat dipanen.
Untuk mengatasi penyakit, Heru tak pernah khawatir, sejak
pria yang juga senang bertani ini, selalu menggunakan EM4 baik untuk minum,
disemprotkan pakan serta untuk sanitasi sehingga tidak menimbulkan bau.
‘’Dengan menggunakan EM4, ayam terlihat lebih sehat, mencegah stress dan
menghasilkan pupuk kandang yang prima,’’jelasnya.
Menurut Heru, sejak
menggunakan EM4, berbagai penyakit yang sangat ditakuti peternak seperti Tetelo, Ngorok, Berak Kapur, bahkan yang paling sadis flu
burung, belum pernah terjadi. ‘’Mudah-mudahan tidak terjadi, kalau kesehatan
ayam ternak selalu terjaga,’’katanya.
Biasanya kematian ternak dapat terjadi pada hari ke-4 setelah terinfeksi.
Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang
memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi
kandang.
Dan yang paling efektif dalam perbaikan sanitasi adalah, dengan
menggunakan EM4, karena dapat memfermentasi kotoran ternak menjadi senyawa
organik yang bermanfaat. Carannya,
campurkan larutan EM4 dan Molase atau gula dengan air, dengan perbandingan 1 :
1 : 100, kemudian didiamkan selama dua hari agar terjadi proses fermentasi.
Kemudian semprotkan larutan tersebut pada kandang ternak dengan dosis 1 – 2
liter permeter persegi luasan kandang.
Dan yang paling menarik
menggunakan EM4, ayam - ayam petelur yang tidak produktif kembali bertelur. Hal
ini karena EM4 mampu menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak. ‘’
Ini membuktikan kesehatan ayam terjaga dengan baik dengan menggunakan probiotik
seperti EM4,’’jelas Heru.
Untuk penggunaan
EM4 pada pakan, cukup larutkan EM4 sebanyak 1-2 cc ke dalam 1 sampai 1.5 liter
air, lalu semprotkan pada pakan ternak yang akan diberikan. Bisa juga
menggunakan EM Bokashi pakan dapat dicampurkan dengan dedak, konsentrat dan
jagung, dengan perbandingan 10 bagian EM Bokashi ditambah 10 bagian dedak dan
ditambah 2 bagian konsentrat dan 2 bagian jagung. Untuk air minum ternak, EM4
sebanyak 1 -2 cc ke dalam 1 sampai 1.5 liter air, diberikan setiap hari.
Sedang untuk
limbah ternak, campurkan larutan EM4 dan molase atau gula dengan air, dengan
perbandingan 1 : 1 : 100, kemudian didiamkan selama dua hari agar terjadi proses fermentasi.
Larutan tersebut dapat disemprotkan pada limbah ternak dengan kapasitas limbah
1 ton.
Limbah yang
telah difermentasi tersebut untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan
organik bermanfaat untuk pertanian sebagai pupuk organik maupun pakan ternak.***
EM CONER Edisi IV
Cabai Rimbun Berkat EM4
Memang bertanam
cabai dihadapkan dengan berbagai masalah dan resiko, diantaranya, teknis budidaya,
kekurangan unsur, serangan hama
dan serangan penyakit, dan lain-lain. EM4 berupaya membantu penyelesaian
masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas dan berkualitas.
Budidaya
tanaman cabai dengan teknologi EM4,
cukup mendapat respon masyarakat Desa Ranca Bango, Kecamatan Tarogong Kaler
Garut cukup tinggi. Setidaknya EM4 menjadi rujukan para petani di desa
tersebut.
‘’Tinggal
bagaimana meyakinkan dan menyadarkan petani agar beralih ke pertanian organik serta tidak bergantung
kepada pertanian konfensional yakni dengan menggunakan pupuk kimia,’’jelas Marketing
PT. Songgolangit untuk wilayah Garut, jelas Kepala Cabang Jakarta PT.
Songgolangit, Agoes Wibisana.
Menurut
Agoes, sebenarnya masyarakat sudah tidak asing lagi dengan teknologi EM4, namun
untuk merubah kebiasaaan petani yang selalu menggunakan pupuk kimia, sangat sukar sekali. ‘’Mudah-mudahan dengan
demplot di tanah milik Pak Ating ini, petani lebih yakin dengan manfaat EM4
bagi pertanian,’’katanya.
Memang
kalau diamati demplot EM4 tanaman
sayuran milik Ating Djuanda (50) cukup melegakan hati. Pasalnya, cabai yang sudah siap panen cukup besar-benar,
segar-segar dan hasilnya cukup berlimpah.
Padahal
tanaman cabai di luas tanah sebanyak 100
tumbak atau sama dengan 400 m2 ini, di musim hujan seperti sekarang ini sangat
riskan sekali. Pasalnya, selain buah cabai bisa rontok, juga mudah terserang hama buah. Namun
demplot yang berada di pinggir jalan
ranco bango ini tetap baik dan segar-segar.
‘’Dengan
keberhasilan domplot ini mudah-mudahan petani di kecamatan Tarogong Kaler ini
bisa melihat dan belajar langsung, bagaimana EM4 di aplikasikan pada tanaman
cabe tersebut,’’katanya.
Keberhasilan
demplot cabai dengan fermentator EM4 ini sangat direspon petani Apalagi kata
Ating, EM4 adalah pupuk organik yang dianjurkan pemerintah untuk meninggalkan
pupuk kimia secara bertahap dan beralih ke pupuk organik yang ramah terhadap
lingkungan.
Hasil
cabai itu pun langsung dipasarkan Ating di kios sayuran Kramat Jati Jakarta
Timur dan Cibitung Tanggerang.’’Kita
memang memiliki kios sayuran di pasar Keramat Jati dan Cibitung sehingga petani
di daerah sini dapat menjual hasil kebunnya kepada kami,’’katanya.*
Dengan EM4
Pertumbuhan Padi Lebih Subur
Bukan sekedar
omongan belaka, tapi bukti nyata, budidaya padi dengan menggunakan EM4
menghasilkan pertumbuhan padi yang cukup prima (lebih subur) dan tahan terhadap
serangan penyakit.
Seperti diakui
Aji di Desa Lundengan, Kecamatan Wuluan,
Jember Jawa Timur, Padi milik Pak Kunto yang dirawatnya seluar 9 hektar lebih
subur dibandingkan dengan padi yang hanya menggunakan pupuk kimia. Memang diakui, budidaya padi masih
menggunakan sistem semi organik, belum seratus persen organik.
Namun dengan
sistem semi organik, sudah dapat menghemat pupuk kimia sebanyak 50 persen. ‘’
Dosis kimia akan terus dikurangi, tergantung materi organik yang diberikan
sehingga kami harapkan dimusim-musim tanam kedepan bisa
full organik,’’katanya.
Menurut Aji,
penggunaan urea perhektar bisa mencapi 200 kg atau sama dengan 3 – 4 kwintal.
TSP sekitar 50 kg, dan KCL sekitar 50 kg. ‘’Dengan menggunakan EM4, pupuk urea
bisa hanya 50 kg, TSP hanya 25 kg dan KCL hanya 25 kg. Dan EM4 hanya membutuhkan sekitar 6 – 8 liter
saja dalam satu musim tanam selama 3 bulan dalam satu hektar,’’katanya.
Memag EM4 mampu
menyuburkan tanaman, hal ini disebabkan karena EM4 tanah dapat meningkatkan
ketersediaan kandungan nutrisi yang
dapat diserap oleh perakaran tanaman. Mikroorganisme yang menguntungkan dalam
EM4, dapat menyuburkan tanah melalui menyediaan nitrogen bagi tanaman kurang
lebih 30%, meningkatkan serapan P tanah dan melarutkan fosfat. Selain itu,
mikroorganisme yang berasal dari EM4 juga dapat menghasilkan asam-asam organik
yang mampu bereaksi melarutkan meneral-mineral tanah.
‘’Yang jelas,
EM4 itu mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah persawahan sehingga
tanaman padi bertambah subur dan mampu meningkatkan produktifitas,’’kata
Ali marketing PT. Songgolangit Cabang
Surabaya.**
Langganan:
Postingan (Atom)








