Tampilkan postingan dengan label Edisi VIII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi VIII. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2012

Cover Edisi VIII


Salam Redaksi Edisi VIII

Potensi Perikanan Darat Sangat Besar

Potensi perikanan darat memang masih sangat besar, karena Indonesia memiliki sungai-sungai yang panjang dan besar, juga danau dan lahan basah yang sangat luas. Tenaga kerja pun berlimpah yang dalam waktu singkat dapat dididik dan dilatih serta diberi modal untuk berusaha di bidang perikanan.
Memang, perikanan darat memiliki keunggulan dan keunikan tersendiri serta.keuntungan bagi masyarakat sendiri khususnya dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk tingkat lokal sendiri dapat dijadikan konsumsi masyarakat sehari-hari. Bahkan jika dikelola secara serius bisa menjadi salah satu komoditi ekspor ke luar negeri,
Dengan memanfaatkan potensi lahan yang masih luas untuk dijadikan tempat budidaya ikan air awar, secara tidak langsung dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Kita tahu, untuk memenuhi permintaan dalam negeri saja masih kewalahan, apalagi menjawab pasar internasional yang trennya terus meningkat. Di negara-negara maju, makan ikan sudah menjadi keharusan karena faktor pentingnya menjaga kesehatan.  Contohnya, Negara Jepang menjadi bangsa yang sehat dan cerdas karena budaya makan ikan setiap hari, dengan variasi menu yang kaya, bahkan dalam keadaan mentah yang segar.
Dengan keseriusan pemerintah dalam bidang perikanan tampaknya target produksi perikanan yang dicanangkan secara nasional sebagai sumber ekonomi baru nasonal akan tercapai. Apalagi dengan dukungan teknologi inovasi yang memadai, walhasil target tersebut bias terwujud.**

Coloum Pak Oles Edisi VIII

PERIKANAN DENGAN TEKNOLOGI PLASTIK  DALAM PERTANIAN TERPADU


Pertanian terpadu atau yang dikenal dengan istilah integrated farming berarti usaha pertanian yang mencakup peternakan dan perikanan  yang dilakukan secara bersama-sama dalam sebidang lahan dengan tujuan  meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi  dan memberikan keuntungan lebih.   Pertanian terpadu yang memanfaatkan ternak sebagai penghasil pupuk kandang untuk tanaman dan memanfaatkan limbah tanaman untuk makanan ternak  telah diterapkan oleh petani – petani di desa.  Demikian juga pemanfaatan kotoran ayam untuk  makanan ikan, yang dikenal dengan istilah longyam (balong-ayam), yaitu peternakan ayam yang dilakukan di atas kolam ikan telah dilakukan oleh petani-petani khususnya di Jawa barat.  Akan tetapi budaya menanam ikan air tawar sebagai bagian dari pertanian terpadu belum diterapkan secara maksimal oleh petani-petani di Indonesia (kecuali di daerah jawa Barat), disamping karena terbatasnya sumber daya air yang tersedia, juga disebabkan karena petani tidak memiliki budaya memelihara ikan air tawar di kolam, di keramba atau di sawah dan motivasi pemerintah yang kurang untuk melatih dan mendidik petani mengupayakan usaha perikanan pada daerah yang tersedia sumber air.
Hilangnya budaya menanam ikan di sawah, yang lebih dikenal dengan istilah mina padi, salah satunya terjadi akibat intensifikasi pertanian dengan menggunakan pestisida.  Pemakaian pestisida secara langsung dapat  membunuh ikan yang dibudidayakan dan meracuni berbagi jenis binatang air yang hidup di sawah.  Pemanfaatan sawah untuk pembesaran benih ikan dan dengan teknologi pendalaman  dan pelebaran kolam  di sekeliling parit juga bisa digunakan untuk membesarkan bibit ikan sampai layak dikonsumsi .  Usaha ini telah berhasil dilakukan dalam skala penelitian dan percontohan.  Tapi aplikasinya di lapangan perlu dipertanyakan.   Selama budidaya mina padi belum dilakukan secara organik, yaitu tanpa menggunakan pestisida, pastilah usaha tersebut gagal.  Karena ikannya mati keracunan sebelum sempat membesar. 
Untuk  meningkatkan produksi perikanan air tawar, maka perlu dilakukan pelatihan, pendidikan dan percontohan kepada petani untuk membuat kolam-kolam pembesaran ikan dengan menggunakan teknologi pembuatan kolam yang sederhana, misalnya menggunakan kolam plastik untuk daerah-daerah yang memiliki sumber air terbatas.  Tentu saja dalam jumlah terbatas, jika ada air yang lebih, misalnya di saat musim hujan, atau dengan menggunakan pompa di saat musim kemarau, air bersih bisa dimasukkan ke dalam kolam untuk tujuan sirkulasi dan aerasi.   Walaupun umur pemakaian kolam plastik hanya bisa digunakan beberapa tahun, tetapi dari segi ekonomis bisa memberikan keuntungan  produksi ikan lele dan belut.  Untuk daerah-daerah yang memiliki sumber air berlimpah, pembuatan kolam lebih mudah dibuat tanpa dinding semen atau plastic.  Jenis ikan yang dipeliharapun bisa lebih bervariasi.  Jika petani memelihara ternak, maka akan lebih baik memanfaatkan  kotoran ternak  untuk memelihara cacing, yang selanjutnya cacing bisa dipanen untuk makanan ikan dan kotoran cacing bisa dikumpulkan untuk memupuk tanaman.  Pertanian terpadu dengan memanfaatkan sistim perikanan sederhana  dengan kolam plastik belum banyak dibudayakan oleh petani.  Hasil panen lele dan belut yang diusahakan dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani dan gizi protein masyarakat.
Teknologi Effective Microorganisms (EM) berfungsi untuk mengurangi bau yang muncul dari kolam  plastkc.  Bau itu muncul karena sirkulasi dan aerasi air kolam yang terbatas, terlalu banyaknya penumpukan kotoran ikan, pakan ikan  dan bahan organic yang masuk ke dalam kolam.  Proses fermentasi yang terjadi di dalam dasar kolam akan memperkaya kehidupan biotik air sehingga kualitas air menjadi meningkat.  Hal ini tentu saja dapat meningkatkan produktivitas ikan yang hidup di dalam kolam.   
Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau mencoba.  Konsep pertanian terpadu dengan menambah divisi perikanan dengan teknologi plastik yang sederhana  dalam sistim pertanian dapat membuat suatu perbedaan besar bagi masyarakat petani, yaitu memberikan kesejahteraan dalam bentuk peningkatan ekonomi, kesehatan, pendidikan dan pelatihan pertanian.  Selamat berkarya.  Semoga sukses.

Forum Utama Edisi VIII

Target Indonesia Soal Perikanan dan Kelautan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempublikasikan Rumusan Rakornas KKP Tahun 2010 yang menyebutkan visi KKP menjadikan "Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015".
Namun, sebelum rencana itu terlaksana pada tahun 2015, Menteri Luar Negeri Thailand, Kasit Piromya telah mengakui Indonesia sebagai negara perikanan terbesar. Menurut Kasit Piromya, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar ikan yang memiliki armada perikanan dan industri pemrosesan ikan terbesar di dunia. Untuk itu, pemerintah Thailand sangat bergantung kepada perikanan Indonesia.
"Indonesia adalah mitra yang mempunyai sumber perikanan terbesar di dunia. Indonesia memiliki sumber-sumber tersebut dan kita mempunyai armada perikanan terbesar di dunia ( yaitu Indonesia), dan salah satu negara yang mempunyai industri pemerosesan ikan terbesar di dunia. Jadi, kita bergantung terhadap perikanan Indonesia,’’katanya waktu itu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa telah membahas masalah perikanan dengan Menteri Luar Negeri Thailand, Kasit Piromya, pada pertengahan bulan Februari lalu. Menurut Marty, kerjasama di bidang perikanan antara Indonesia dan Thailand akan ditandatangani pada pertengahan tahun 2010 ini.
Kerjasama tersebut menurut Marty harus saling menguntungkan melalui pengaturan atau manajemen yang baik sehingga tidak menimbulkan permasalahan bagi kedua negara.
’’Saya rasa kata kuncinya adalah saling menguntungkan, tadi seperti ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Kasit, dipahami bahwa masalah perikanan ini masalah yang memerlukan manajemen yang baik sehingga tidak menjadi permasalahan antara kedua negara, justru sebaliknya bisa menjadi suatu topik atau suatu bidang kerjasama yang mempersatukan kedua negara’’,katanya.
Indonesia mempunyai target fantastis, menjadi penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada 2015. Kementerian Kelautan dan Perikanan  telah menetapkan perikanan budidaya sebagai ujung tombaknya. Produksi perikanan budidaya akan ditingkatkan menjadi 16,89 juta ton pada 2014 atau naik 353% dibandingkan produksi tahun 2009 sebesar 4,78 juta ton.
Terget ambisius Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad bukannya tanpa alasan. Dia melihat potensi yang sangat besar, baik dari sumber daya alam, luas lahan dan iklim yang kondusif, penguasaan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusianya. Pasarnya pun masih terbuka lebar.
Untuk itu, diperlukan upaya keras dan berbagai terobosan.
Target ini akan tercapai jika ada keseriusan dari KKP sendiri dan dukungan semua sektor, seperti Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, kalangan perbankan, dan lembaga-lembaga riset. Petambak, misalnya, memerlukan modal, dukungan infrastruktur, keterampilan manajemen, dan teknologi modern.
Menurut Fadel, Thailand, Filipina, dan Vietnam bisa merajai sektor perikanan internasional karena ada dukungan penuh dari sektor-sektor terkait. Padahal, luas lahan untuk budidaya perikanan di negara-negara itu jauh lebih kecil dari Indonesia, juga jumlah pembudidayanya. Di subsektor perikanan tangkap pun seharusnya kita jauh lebih unggul karena memiliki perairan yang sangat luas.
Potensi perikanan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Secara keseluruhan mencapai 65 juta ton, yang terdiri dari 7.3 juta ton pada sektor perikanan tangkap dan 57.7 juta ton pada sektor perikanan budidaya.
Hingga saat ini Indonesia menempati urutan ke 12 untuk negara pengekspor produk perikanan. Posisinya berada di bawah Vietnam dan Thailand yang sebenarnya memiliki sumber daya terbatas dan jauh di bawah Indonesia. dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun mendatang sektor perikanan akan lebih memberi kotribusi terhadap kemakmuran bangsa. Terutama dengan penciptaan lapangan kerja baru.
Pemerintah akan terus melakukan upaya peningkatan nilai produksi perikanan. Yaitu dengan merevitalisasi industri perikanan nasional yang ditekankan pada aspek pengolahan dan aspek kebijakan. Langkah nyata pelaksanaan revitalisasi adalah mempercepat pengembangan usaha Kecil dan Menengah Kecil (UKM). Langkah ini diimplementasikan melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. (A)



Forum EM edisi VIII

Dengan Teknologi EM4,
Pertumbuhan Budidaya Lele Lebih Maksimal

Produktifitas yang tinggi pada budidaya lele tanpa didukung penguasaan teknologi bidang perikanan akan menimbulkan banyak masalah seperti pertumbuhan yang tidak maksimal, menimbulkan bau tak sedap serta dapat menimbulkan kematian pada ikan.

Pengolahan yang baik itu salah satunya dengan menggunaka teknologi EM4. yang berguna untuk meningkatkan bakteri pengurai pada bahan organic, menekan pertumbuhan bakteri pathogen, menstimulasi enzim pencernaan dan meningkatkan kualitas air.
Sehingga  EM4 bermanfaat untuk  Meningkatkan pertahanan tubuh ikan, meningkatkan pertumbuhan dan size ikan. Meningkatkan imunostimulan atau daya tahan ikan, meningkatkan daya tahan tubuh ikan sehingga mengurangi pengunaan Antibiotik. Efisiensi energi dan pengelolaan kualitas air, memfermentasi sisa pakan, kotoran, di dasar air. Meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan air menjadi bersih sehingga tidak diperlukan penggantian air berulang-ulang. Menguraikan gas-gas amoniak, metan dan hydrogen sulfide.  Mempertahankan kualitas linkungan  dan Aman dan Ramah lingkungan.
Salah satu yang merasakan manfaat dari teknologi EM4 adalah Usaha budidaya lele jenis Sangkuriang sebagai Pilot Projec PT. PLN (Persero) P3B Jawa Bali  Di Cinere Depok Jawa Barat.
Menurut M. Basuki, program CSR PT PLN ini dimaksudkan untuk pemanfaatan lahan produktif pertanian terpadu di kawasan SUTET. Bentuknya adalah   pemanfaatan lahan yang diwujudkan dengan budidaya ikan lele di kolam terpal
‘’Dengan pembinaan ini diharapkan para petani dapat menjadi wirausaha yang andal dalam budidaya ikan lele menggunakan terpal. Kita sudah menguji budidaya perikanan di bawah SUTET dan ternyata berhasil dan ini kita terapkan di lapangan dengan para petani, cukup  bagus” katanya.
Menurut Basuki, usaha ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang dilewati SUTET maka PT. PLN (persero) P3B Jawa Bali membuat pilot Projec ‘’Teknik budidaya lele dumbo dengan memanfaatkan lahan yang berada di lingkungan kantor yang nantinya dijadikan cikal bakal pemberdayaan masyarakat di bawah SUTET. Selain itu juga untuk membuktikan usaha si bawah Sutet Tidak berbahaya.
Selain pemanfaatan bahan organic dengan EM4, kajian ilmih bekerja sama dengan UGM Jogyakarta bidang Microbiologi, pertanian dan perikanan. Sedang referensi bibit lele di dapatkan dari BPBAT (BAlai Penelitian Budidaya Ikan Air Tawar) propinsi Jawa Barat Sukabumi dan Subang.
Ikan lele memang merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
Jenis yang di kembangkan adalah lele sangkuriang. Lele jenis sangkuriang selain memilki produktifitas yang tinggi juga dapat diproduksi dalam jumah yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan budidaya lele dumbo biasa. Rasa lele sangkuriang juga lebih enak sehingga lebih disukai orang.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele jenis Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.


Forum Usaha Edisi VIII

PT. Asam Jawa
Ubah Limbah Kelapa Sawit Jadi Manfaat

Karena harga pupuk kimia semakin mahal dan langka, padahal pupuk merupakan unsure essensial yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Karena itu PT. Asam jawa di tuntut untuk lebih inovatif secara efektif  yakni menggunakan pupuk dari bahan-bahan organic yang telah ada potensinya yaitu dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah PKS yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya sesuai analisis di PPKS.
‘’Dulu kami membuang libah itu sudah dan banyak di komplain warga sekitar, sekaang limbah kamu di cari orang Yang sudah diteritmen menjadi pupuk organic pada tandan kosong diaplikasin dengan aplikasi 40 ton sampai dengan 45 ton perhektar, disusun diantara pohon kelapa sawit. Luas program kerja di sesuaikan realisasi produksi tahunan dimana perkiraan produski tahun 2010 mencapai 160.000.000 kg sehingga mendapatkan TKS 20%
Pengoperasian Pabrik kelapa Sawit (PKS) menghasilkan limbah dengan volume yang sangat besar yang perpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat. Pencemaran itu sebagian besar disebabkan oleh limbah organic yang tidak terurau dengan baik sehingga menimbulkan bau, gas beracun, air tercemar, penyakit dan lain-lain. Yang membahayakan kehidupan biota dan juga kesehatan manusia disekitarnya baik secara langsung, maupun tidak langsung.
Jika sampai terjadi pencemaan akan sangat besar biaya yang diperlukan untuk pemulihannya. Apabila terjadi masalah pencemaan lingkungan akan diperlukan biaya yang sangat besar untuk mengatasinya. Pemilik setidaknya harus mengeluarkan biaya elstra besar untuk penanggulangan pencemaran limbah, pemulihan kerusakan lingkungan, mereduski gejlak social, kemungkinan gugatan masyarakat yang dirugikan, ancaman pidana kelalaian yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan lain sebagainya yang bias di tuduhkan sampai sangsi penutupan pabrik.
Dengan menggunakan pupuk cair ini pupuk kimia konvensional yang tetap rutin diberikan itu akan lebih ce[at terurai pada tanah sehingga menjadi tersedia membantunya lebih cepat dan lebih maksimal terserap pleh tanaman. Dengan demikian produski tanaman diharapkan akan lebih meningkat lagi.
Pengaplikasian pupuk cair pada tanah atau perakaran tanaman membuat tanah menjadi gembur, pupuk menjadi lebih cepat terurai sehingga efektif terserap oleh akar. Tanman akan tumbuh subur, sehat dan produktifitas jika  bersimbiosis mutualisme dengan mikroba yang menguntungkan.
Terlebih lagi pemberian pupuk cair mampu memperbaiki KTK (kapasitas Tukar Kation) tanah, mengefektifkan penyerapan pupuk sehingga akan mengurangi dosis pemakaian pupuk kimia konvensional yang harganya meningkat terus setiap tahun.
Telah diketahui bersama bahwa tidak semua pupuk kimia konvensional yang diaplikasikan itu ammpu seluruhnya di serap oleh tanaman karena masih kuat terikat dengan molekul atau unsur lain yang terdapat pada tanah (sulit terurai karena kondisi tanah yang buruk), tercuci hujan, penguapan dan lain-lain. Namun karena rutin dan terjadwal, pemberian pupuk kimia konvensional tersebut tetap saja dilakukan tanpa memperhatikan sifat dan kondisi tanah yang mungkin sudah jenuh terhadap pupuk kimia. Karena tidak mampu lagi diserap, akibatnya timbul akumulasi endapan pupuk kimia (pupuk anorganik) yang membuat tanah disekitar perakaran menjadi keras. Tanah yang mengeras membuat aerasi tanah menjadi buruk sehingga akar akan terhalang menyerap hara yang menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik yang pada gilirannya produktifitas tanaman tidak maksimal. Pupuk cair mampu memperbaiki kondisi tanah yang seperti itu selain juga berfungsi sebagai suplemen ataupun subtitusi pupuk anorganic.
Dengan menggunakan pupuk organic bukan mustahil pula akan dihasilkan minyak sawit organic. Minyak sawit organic maupun produk turunan yang dihasilkan oleh minyak sawit organic diyakini akan memberikan manfaat keseharan yang lebih baik bagi penggunanya. Sangat optimis bahwa minyak sawit organic akan lebih diterima dan diminati oleh pasar Negara maju yang sangat peduli dengan lingkungan dan kesehatan. Karena manfaat yang lebih baik dan lebih besar komsumen minyak sawit organic tentunya bersedia membayarnya dengan harga premium.@

EM Coner Edisi VIII






Jeruk Tak Mudah Busuk Berkat EM4
Petani jeruk di Desa Kadung Asri  Tegal Delimo, Banyuwangi Jawa Timur Boleh bernapas lega. Pasalnya, Budidaya jerukyang didukung dengan inovasi teknologi pemupukan alami atau pupuk bokashi menggunakan EM4 yang ramah lingkungan akan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi jeruk.‘’Selain buahnya besar, rasanyapun lebih manis’’, Muhammad Yusup atau lebih akjrab dipanggil Lee Yusup.
Menurut Yusup, sejak pohon jeruk menggunakan bokashi, kualitas buahnya berbeda dengan kebun-kebun punya petani jeruk lain. “Jeruk hasil panen kebun  saya  bagus-bagus,  buahnya hampir seragam sampai hampir tidak ada kwalitas 3, yang ada kwalitas 1 dan 2, jadi tengkulakpun sudah tahu dan setiap panen mereka berebut untuk membeli panen buah jeruk saya” kata lee Yusup.
Menurut Yusup, sudah hamper 4 tahun terakhir ini mulai mengembangkan buah jeruk organik. Upaya itu, diakui Yusup, untuk mengembangkan dan meningkatkan nilai tambah buah jeruk. Selain mudah, budidaya jeruk organik lebih banyak mendatangkan keuntungan. ''Biaya produksinya lebih irit karena saya juga menggunakan pupuk bokashi. Sehingga kualitas buah jeruk organik pun tetap terjaga,'' ujarnya
Pupuk yang sudah siap kemudian dibawa ke kebun dan dimasukan ke lubang yang sudah digali sebelumnya di kiri dan kanan batang pohon jeruk. Setelah itu lubang tersebut ditutup.
Sementara memang harga jual jeruk organic , memang lebih mahal per kilogram ketimbang jeruk nonorganik. Dari penjualan jeruk organik ini, Yusup mengaku bisa mendapatkan keuntungan lumayan.
Untuk menghasilkan, buah jeruk yang buahnya besar dan manis, yusup memberikan resepnya yakni setelah ditanam, tentu perawatan tak kalah pentingnya, misalnya pemupukan dengan bokashi padat dan cair secara rutin, bisa sebulan sekali atau 3 bulan sekali. **