Tampilkan postingan dengan label Edisi I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi I. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2012
Rabu, 08 Februari 2012
SALAM REDAKSI Edisi I
Mengorek Limbah
Persoalan limbah memang cukup kompleks.
Pencemaran lingkungan acapkali menjadi isu menarik seiring berkembangnya
industri nasional yang berimbas pada terciptanya limbah sebagai proses
industri. Limbah industri yang tidak di treatment
dengan baik, seringkali menuai protes masyarakat karena mencemari
lingkungan sekitar dan mengancam
kesehatan manusia.
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik.
Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak
negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan
manusia,
sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Yang pasti, limbah harus mendapat penanganan dan perhatian
khusus. Dan jangan sekali-kali disepelehkan.
Kita tahu, Indonesia dengan penduduk lebih
dari 220 juta jiwa memerlukan sumber air bersih. Menurut data PDAM, di
kota-kota besar, hanya 50 persen yang menikmati air bersih. Di pedesaan
diperkirakan baru 30 persen
memperoleh air bersih.
Begitu juga dengan kualitas udara yang semakin mengkhawatirkan terutama
di kota-kota besar. Tak hanya air dan udara yang tercemar, pencemaran tanah juga
berpengaruh langsung terhadap ekosistem yang ada di dalam tanah. Walhasil, berdampak pada
penurunan produktifitas pertanian.
Dengan kondisi seperti ini, mencegah lebih baik dari pada
mengobati, mencegah kerusakan lingkungan
adalah tindakan mulia dari pada membiarkan keadaan. Bukankah manusia di
ciptakan untuk menjadi Khalifah
(pemimpin) di atas muka bumi ini yang salah satu tugasnya adalah menjaga alam?
Kehadiran teknologi pengolahan limbah, menjadi sangat
penting. Majalah EM FORUM Indonesia,
hadir membawa informasi serta solusi teknologi pengolahan limbah tepat guna. Di
samping perlunya konsep-konsep menjaga lingkungan.
Betapa indahnya harmoni alam dengan manusia saat
beraktifitas. Karena itu, lingkungan yang bersih menjadi dambaan. Tak hanya
umat manusia, tapi juga mahluk tuhan lainnya seperi hewan, tumbuh-tumbuhan dan
alam raya.
Redaksi
EM
FORUM
Kamis, 02 Februari 2012
Coloum Pak Oles Edisi I
Komitmen Mengolah Limbah
Limbah adalah hasil buangan dari
serangkaian proses industri. Dalam skala kecil, limbah mungkin belum
dianggap bemasalah. Misalnya saja limbah dapur dari rumah tangga, limbah
peternakan petani kecil, atau limbah industri kecil. Tapi dalam skala
besar, jika penduduk kota lebih dari satu juta orang, yang setiap aktivitasnya
pasti mengeluarkan limbah, dari dapur, toilet, pasar, rumah sakit, selokan,
serta aktivitas sosial, budaya dan ekonominya, jika tidak dikelola dengan baik,
maka Dinas Kebersihan dan Wali Kota bisa pusing tujuh
keliling.
Demikian juga limbah peternakan besar,
perikanan, industri makanan, industri kosmetik, industri tekstil, dan industri
lainnya yang yang dilakukan dalam skala besar, pengolahan limbahnya haruslah
dipikirkan matang. Kalau tidak, maka masalah limbah akan terus
bikin masalah, bahkan industri yang telah didirikan dengan susah payah bisa
ditutup paksa oleh pemerintah dan masyarakat, karena mengganggu dan merusak.
Dari
sisi negatif kita melihat limbah adalah masalah yang memeningkan, karena
memakan biaya, menimbulkan polusi, dan memakan korban. Bagaimanapun juga
limbah harus dikelola dengan baik, kalau ingin pembangunan berjalan
lancar. Dari sisi positif, limbah adalah hasil dari proses kemajuan
pembangunan. Artinya, kota,
daerah atau negara yang telah menghasilkan limbah yang memusingkan itu telah
mencapai suatu kemajuan pembangunan, dan jika mereka ingin mencapai kemajuan
pembangunan yang lebih baik lagi, dia harus menyelesaikan permasalahan limbahnya
terlebih dahulu.
Sebaliknya, kota, daerah atau negara yang belum
menghasilkan limbah, berarti pembangunannya belum maju. Yang membikin
pusing adalah, kota,
daerah atau negara yang pembangunannya belum maju justru kebingungan mengolah
limbahnya, akibat keteledoran dan kepintarannya yang kurang. Bahkan,
terus terang saya merasa malu sendiri, bahwa Bangsa Indonesia dari makan sampai
mengolah limbahnya sendiri masih belum mampu. Buktinya, beras dan bahan
pangan lainnya kita harus impor, dan mendirikan instalasi pengelolaan limbah, termasuk penggunaan teknologi, pemakaian produk dan jasa
konsultan masih dilakukan dari belas kasihan dana pinjaman luar
negeri.
Kalau
suatu daerah ingin maju pembangunannya, maka tetaplah berkomitmen menjaga
lingkungannya. Komitmen menjaga lingkungan itu penting dipegang oleh
masyarakat dan pemerintah. Komitmen berarti janji dan keharusan
untuk dilakukan, karena tugas dan tanggungjawab untuk memajukan dan melanjutkan pembangunan. Bahwa kita sebagai generasi
sekarang lebih dahulu meminjam bumi ini untuk hidup dari generasi yang akan
datang, sehingga bumi yang kita pinjam ini haruslah dengan komitmen yang kuat
bisa kita kembalikan kepada generasi yang akan datang dengan lebih baik
lagi.
Tapi kalau kita mengembalikan barang
pinjaman dengan kondisi yang lebih buruk, maka janganlah disalahkan jika kita
akan mendapatkan hukuman di alam sini dan di alam sana. Sebaliknya, jika bumi yang kita
pinjam ini bisa kita kembalikan dengan lebih baik lagi, maka kehidupan kita tentu
akan menjadi lebih baik, dan pada saat kita di alam baqa, anak-cucu kita akan
selalu berdoa dan bersyukur atas kebaikan generasi sebelumnya dalam menjaga
bumi.
Mengolah
limbah ibarat memasak. Memasak makanan mewah dan langka tentu dilakukan
dengan dengan biaya mahal. Memasak makanan sederhana dan praktis pasti
biayanya murah. Kita tinggal memilih sesuai kebutuhan dan
pendanaan. Hal yang menentukan kelezatan masakan bukan ditentukan oleh
bahan masakan, tetapi jauh lebih penting adalah siapa kokinya.
Demikian juga mengolah limbah, bisa
dilakukan dengan biaya mahal atau murah, tergantung siapa konsultan dan
teknologi apa yang dipakai. Pengolahan limbah organik seperti sampah kota, limbah dapur,
limbah ternak, limbah industri makanan, secara sederhana bisa didaur ulang
menjadi kompos, pupuk organik, atau pupuk bokashi. Cina telah berhasil
mengembangkan teknologi lokalnya sendiri mengolah limbah tinja menjadi industri
pupuk organik dalam skala kecil dan besar. Semuanya itu dilakukan dengan
biaya sangat murah.
Tentu saja kita bisa meniru itu semua,
karena teknologinya sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan teknologi kompos
dan cacing tanah. Tapi mengapa kita justru pusing sendiri
dalam mengelola limbah organik? Apakah kita tidak tahu, tidak mau tahu,
atau kita ingin teknologi modern dan mahal yang berenergi tinggi dan canggih,
biar gampang atau terlihat hebat? Semuanya itu ada pada keseriusan kita
mengelola limbah. Kita belum bisa bukan karena kita tidak punya uang dan
teknologi. Tapi kita belum bisa karena belum berkomitmen, belum serius
dan.....,belum mau belajar. Maka sebagai hukuman kepada kita yang belum
mau belajar tentang mengolah limbah, yaitu kita harus berani membayarnya lebih
mahal atau mungkin sangat mahal, sehingga kita harus meminjam uang untuk
mengolah limbah.@
Forum Utama edisi I
Menilik
Kesadaran
Pengusaha Menjaga Lingkungan
Peringatan
Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni, merupakan moment
yang tepat untuk menarik kepedulian masyarakat dunia terhadap persoalan lingkungan hidup, termasuk pelaku industri.
Dari beberapa
kasus di kota besar seperti Jakarta, data Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)
menyebutkan, hanya 10 persen dari 200 perusahaan industri di Jakarta yang
memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) tidak sesuai dengan kelayakan.
Data lain menyebutkan, sedikitnya 54 pabrik tak memiliki Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL). Celakanya, pabrik-pabrik itu termasuk penghasil
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Melalui sungai, perusahaan yang menyisakan zat kimia
itu telah mengalirkan limbah ke laut.
Diperkuat juga data Kepala Biro
Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta,
bahwa kadar COD dan BOD yang mencemari
Teluk Jakarta
masih tinggi. Ini membuktikan bahwa masih ada pabrik atau industri yang
menggelontorkan limbah sampah maupun limbah cair ke sungai yang mengalir dari
hulu hingga ke hilir laut.
Peduli lingkungan seringkali menjadi diskusi yang
menarik dikalangan masyarakat sekarang ini. Persoalan pencemaran lingkungan, seakan
sudah cukup mendapat tempat di masyarakat, seiring merebaknya berbagai isu global warning akibat pengolahan alam
yang kurang bijaksana akibat kentalnya berbagai kepentingan banyak pihak, khususnya
negara-negara maju yang kian menuntut bagi survivalitas
kepentingan industri strategis mereka, yang berdampak kepada masalah lingkungan
hidup.
Namun sayangnya, kepedulian itu masih merupakan
paradigma dengan pandangan-pandangan yang berbeda. Penyebabnya jelas, belum
adanya kesamaan pandang pihak-pihak yang berkepentingan terhadap esensi program
penanganan masalah dampak lingkungan hidup itu sendiri.
Misalnya saja,
program pengendalian limbah industri, ada kepentingan yang berbeda. Baik
dari sudut pandang pengusaha, penguasa dan masyarakat awam, bahkan dikalangan
internal perusahaan industri sendiri, perhedaan persepsi dan interpretasi bisa
terjadi.
Pengusaha akan lebih banyak melihat, penanganan
masalah pencemaran lingkungan tersebut, tidak lebih dari sebuah keterpaksaan
dalam rangka membantu mencari dan mempermudah akses pengusaha industri yang
bersangkutan untuk masuk ke pasar global yang memang semakin hari mematok
persyaratan yang semakin ketat, terutama dalam masalah lingkungan hidup.
Persoalan lainnya adalah kendati kemajuan sains dan
industri modern berupaya untuk mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik.
Namun nyatanya, kemajuan itu justru memunculkan beragam polusi, kerusakan
lingkungan hidup, dan terganggunya keseimbangan ekosistem alam.
Padahal seperti dikatakan pengamat
lingkungan hidup, Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si, paradigma memahami lingkungan
adalah bagaimana memperlakukan lingkungan sebagai teman hidup yang harus
dirawat sesuai dengan norma agama, hukum negara dan etika masyarakat, bukan
sebaliknya malah merusak. Pemanfaatan untuk keuntungan materi memang sah-sah
saja, namun semua itu harus didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Sebab, lingkungan hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari jagat raya dan
keberlangsungan kehidupan alam semesta dan pantas diperlakukan secara
manusiawi.
Kearifan Lingkungan
Menteri Lingkungan Hidup di Jakarta mengatakan, bangsa Indonesia
mempunyai kemajemukan akar budaya, agama, adat istiadat, yang kaya kearifan
lingkungan hidup. Dan dapat menjadi modal dalam menjalankan pembangunan di
Indonesia. Kearifan lingkungan telah dimiliki oleh nenek moyang telah menyatu
dalam etika dan norma berkehidupan pada masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dengan
alam. kekayaan
bangsa akan kearifan lingkungan ini,
seyogyanya tidak hanya dipandang sebagai mozaik yang indah tetapi dapat
dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk menyelenggarakan pembangunan yang selaras
dan harmoni dengan alam.
Kearifan lingkungan yang
memuat nilai sangat mendasar juga terdapat di dalam ajaran semua agama di
negeri ini. Mulai dari Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu merupakan
sumber etika dan norma dalam berinteraksi dengan alam.
‘’Namun sayangnya,
kearifan lingkungan hidup kini sedang mengalami proses eliminasi yang ditandai
dengan perubahan tatanan sosial, berkurangnya nilai kemanusiaan, berkurangnya
kemandirian masyarakat, kemiskinan etika lingkungan sehingga menyebabkan
terdegradasikannya sumberdaya alam dan lingkungan pendukung kehidupan manuisia,’’katanya.
Pandangan rasional Antroposentris, hanya mengandalkan sains
dan teknologi secara sepihak dalam memperlakukan alam untuk kepentingan hidup
manusia, disisi lain telah terbukti membawa bencana lingkungan yang
menyengsarakan manusia. ‘’Bencana-bencana lingkungan yang melanda Indonesia
seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, peluapnya lumpur panas dan sebagainya
dapat menjadi pelajaran dan sekaligus peringatan kepada kita semua untuk
berprilaku lebih arif terhadap alam sekitar,’’katanya.+
Rabu, 01 Februari 2012
Forum EM Edisi I
EM Limbah
Solusi Atasi
Limbah Industri
Pengendalian
pencemaran lingkungan merupakan bagian penting sebagai konsekwensi dari kegiatan industrialisasi. Sebab, jika
limbah tidak di treatment dengan baik akan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Dan EM Limbah merupakan solusi untuk atasi pengolahan limbah tersebut.
Limbah
merupakan permasalahan yang sering
dihadapi akibat proses industrialisasi. Limbah cair misalnya, banyak
mengandung campuran bahan organik terdiri atas nitrogen, karbohidrat, lemak dan
protein yang bersifat tidak tetap dan menjadi busuk. Selain itu, limbah juga
mengandung bakteri pathogen sehingga membahayakan kesehatan manusia dan
mencemari lingkungan.
Karena
itulah, perlu adanya penanganan limbah tersebut agar tidak mengganggu
kenyamanan dan keseimbangan ekosistem. Teknologi EM Limbah telah menjawab
problematika ini karena mampu mengurai lemak yang terkumpul di ‘Grease trap’ sehingga larut bersama air
limbah. Tak hanya itu EM Limbah juga mampu menurunkan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) sehingga
air limbah yang telah diolah dapat dimanfaatkan kembali dan tidak berbahaya
bagi kesehatan manusia.
Produk EM Pengolahan limbah merupakan
kultur EM dengan konsep mutakhir dalam bidang mikrobiologi daur ulang limbah untuk
memfermentasi limbah organik cair dan padat secara efektif.
Bagi perusahaan tekstil yang saat ini mampu mengelola
limbah Bisa dilihat dari pembangun instalasi air limbah (IPAL) di atas tanah
seluas 4000 m2. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan IPAL serta
penyempurnaannya hingga tahun 1995 adalah sebesar 4 miliar. Dalam perkembangan
selanjutnya IPAL terus mengalami perbaikan dan penambahan instalasi sejalan
dengan peningkatan produksi.
Kapasitas IPAL PT Unitex saat ini mampu mengelola
limbah cair sebesar 5000 m3 per hari (maksimum). IPAL PT Unitex telah
memberikan hasil yang memuaskan dalam mengelola limbah cair dari hasil
produksinya. Hal ini ditunjukan dengan berhasilnya PT Unitex mendapat
penghargaan Prokasih No. 1 di Indonesia pada tahun 1991 dan pialanya diserahkan
langsung oleh Presiden Soeharto di istana
negara. Kepala Bagian Utility PT. Unitex, Maman Suherman menyatakan pengolahan limbah pabrik tekstil ini menggunakan methode fisika, kimia dan biologi yaitu menggunakan sistem koagulasi dan sedimentasi serta sistem lumpur aktif dan penambahan mikroba aktif (EM limbah) untuk penanganan proses pengolahan air limbahnya. ‘’Hasil proses limbah ini cukup baik, sebelum kita buang kesungai Cibalok terlebih dulu diujikan pada ikan dan ternyata ikannya sehat dan dapat dikonsumsi dengan aman,’’kata Maman.
Maman juga menjelaskan, penggunaan EM4 dilakukan
sebanyak 2000 liter perbulan. Dilakukan fermentasi sebanyak dua kali dalam
seminggu.’’Dengan banyaknya ragam dan jenis mikroba aktif proses penjernihan
lebih cepat,’’katanya.
Sementara itu, Kacab PT. Songgolangit Persada, Ir.
Agoes Wibisana mengamini akan keefektifan EM Limbah dalam pengelolaan limbah
secara biologi. Sebab, EM4 mengandung miroorganisme aktif yang mampu menurunkan
kadar BOD dan COD, mengurangi bau tidak sedap yang disebabkan H2S, NHX,
Methylmercaptan, Amoniak dan lainnya. ‘’Semua data penurunan kadar BOD dan COD
dapat dilihat dari hasil Laboratorium Lingkungan Keairan yang secara berkala
terus dipantau,’’katanya.
Hari hasil laboratorium dapat diketahui kadar BOD-5 hanya 128 mg/l (inlet), 40 mg/l
(outlet) sedang kadar maksimum yang ditetapkan pemerintah 60 mg/l. Begitu juga
dengan COD, sekitar 106 mg/l outlet, ambang batas dari pemerintah 150 mg/l.
Begitu juga dengan amoniak (NH3-N) 3,04 mg/l (inlet) dan 2,16 mg/l (outlet)
sedang baku mutu limbah cair maksimum yang ditetapkan pemerintah 8.0 mg/l.
Sebagaimana diketahui limbah yang dihasilkan itu mulai
dari pemintalan (Spinning), pertenunan (Weaving), pencelupan (Dyeing
Finishing). Bagian pemintalan adalah bagian dari produksi yang melakukan proses
pembuatan benang dari bahan baku
kapas dan polyester. Bagian pertenunan adalah bagian produksi yang melakukan
proses pertenunan benang hingga menjadi kain. Akan tetapi kain yang dihasilkan
oleh bagian pertenunan ini masih berupa kain mentah (Grey Cloth). Sedangkan
bagian pencelupan adalah bagian yang melakukan proses pencelupan dan
penyempurnaan dari kain mentah menjadi kain jadi (Finish Goods). ***
Selasa, 31 Januari 2012
Forum Usaha Edisi I
Salak
Slebor Antanan
Miliki Prospek Menguntungkan
Salak Slebor (Sleman Bogor) memang perlu diperhitungkan karena rasanya manis, lebih renyah dan
daya tahan simpannya lebih lama. Karena itu, salak Sleman yang ditanam di
Bogor Jawa Barat ini, banyak diminati
konsumen.
Pada Pameran Agro & Food Expo
di Balai Kartini Jakarta beberapa waktu lalu, salak slebor cukup
mendapat perhatian pengunjung. Namanya yang ‘nyeleneh’ dan rasanya yang renyah
dan manis membuat salak yang dibudidaya
di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Antanan,
berada di kampung Tarikolot Desa Cimande Kecamatan Caringin, Bogor Jawa Barat ini, cukup mendapat
perhatian pengunjung. Bahkan laris manis terjual.
Kalau datang
langsung ke tempat budidya salak yang ditanam 100% organik sejak 11 tahun silam
ini, boleh gratis makan langsung di lokasi budidaya. Tatapi dibatasi bagi
mereka yang ingin melakukan penelitian dan observasi. Kalau ingin dibawa pulang,
baru bayar. Perkilonya hanya Rp. 6000. Kalau membeli di toko-toko buah dan
supermarket di sekitar Bogor
berkisar antar Rp.8000 hingga 10.000.
Menurut Pengelola P4S Antanan Nur Ichwan, salak slebor
ini pertama kali ditaman di Bogor
secara komersial pada 1997. Ketika itu alm H Hamid membawa bibit salak pondoh
cangkok dari Sleman, Yogyakarta. Sebanyak
2.200 salak ditanam di kebun seluas 1 ha. Jarak tanam bervariasi, 2,25 m x 1,5
m, 2 m x 1,5 m, dan 1,75 m x 2,25 m. Di sekeliling kebun 700-800 biji salak
ditanam sebagai pagar. 'Itulah cikal-bakal slebor di Bogor,' kata Ichwan anak sulung
mendiang H. Hamid.
‘’Sebenarnya, Bogor ini
terkenal sebagai kota
salak. Buktinya nama-nama tempat di Kota Hujan itu menggunakan kata salak.
Misal Gunung Salak dan Cisalak. Anehnya, tak ada salak yang manis di Bogor. Kebanyakan asam
dan berair. Almarhum Abah saya (ayah-red),
membudidayakan slebor secara organik menggunakan teknologi EM4,’’katanya.
Kenapa memakai teknologi EM4? Ichwan menjelaskan bahwa
Alm H, Hamid merupakan petani yang aktif mendirikan paguyuban yang disebut
dengan P4s Antanan. Karena cinta dengan pertanian, almarhum yang selalu haus
informasi dan cepat mengadopsi teknologi baru menjadi kader penggerak
pembangunan pertanian di desanya. Beberapa komoditi pertanian diintegrasikan
menjadi usaha tani terpadu yang saling keterkaitan antara komoditas dalam
meningkatkan pendapatan usaha taninya.
Nama Antanan sendiri, diambil dari rumput liar yang
tumbuh di pematangan sawah atau ladang yang suka dimanfaatkan untuk lalab dan
obat. Dari manfaat itulah oleh kelompok tani Antanan dijadikan sebagai filosofi
bahwa antanan adalah tumbuhan liar di pematang sawah atau ladang yang suka
diinjak-injak tapi tidak mati bahkan bisa dijadikan lalab atau obat bahkan
sampai saat ini terbukti pada saat krisis yang berkepanjangan hanya sektor
pertanian yang mampu bertahan.
Sebagai pecinta lingkungan, ia selalu bekerja dan
mengajak kelompoknya untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi pupuk organik.
Maka itu dari hasil kerja kerasnya,
beliau mendapat kepercayaan dari
pemerintah pada tahun 1994 untuk mempelajari pertanian organik akrab lingkungan ke Thailand melalui Depertemen
Pertanaian di Bogor. Di negara itulah, H. Hamid mengenal teknologi EM4.
Lahan seluas 1 ha di ketinggian 600 m dpl itu bekas
kebun pepaya yang dikelola organik selama 8 tahun. Mulai ditanami salak. Lantaran
lahan telah dikelola secara organik selama 8 tahun, maka pondoh pun dibudidaya
dengan sistem 100% organik. ‘’Ketersediaan hara tanah untuk tanaman sudah
stabil. Makanya Abah saya yakin bakal berhasil dengan organik murni menggunakan
teknologi EM4,’’ katanya.
Jadi, pupuk
organik berupa kotoran kambing dan ternak lainnya difermentasi mikroba EM4. Disebut juga
bokashi pupuk kandang. Dengan fermentasi mikroba, kematangan pupuk kandang
hanya dalam 3-4 hari atau paling lama 1 minggu.
Setiap rumpun salak terdiri dari 2 tanaman, diberi 3-5
kg bokashi pupuk kandang. Perlakuan diulang 6 bulan sekali, tepatnya saat awal
dan akhir musim penghujan. ‘’Cara pemberian langsung 6-12 kg karena diletakkan
di tengah-tengah 2 rumpun tanaman,’’jelas Ichwan.
Di tepi bedengan berjarak 50 cm dari rumpun salak
dibuat selokan sedalam dan selebar 50 cm. Panjang mengikuti bedengan. Di
sanalah daun dan pelepah dibenamkan. Di atas residu tanaman itu ditabur bokashi
secara tipis untuk mempercepat penguraian.’’ Ini membuktikan bahwa teknologi
Em4 cukup menjadi andalan pertanian murni organik dan hasilnya tak kalah dengan
yang anorganik bahkan lebih renyah, lebih manis dan lebih tahan lama,’’katanya.
Keyakinan pengurus P4s membuahkan hasil setelah
ditunggu selama 2 tahun, karena tanaman salak yang diharapkan mulai belajar
berbuah. ‘’Dari 1 ha dipanen 556 kg.
Pada 2000 produksi melonjak hingga 6 ton/ha, Pada 2005 berlipat, 11,7 ton,
2006, 16,4 ton. Buah yang dipanen pun lebih renyah ketimbang pondoh asli. Lama
simpan salak pipilan 8 hari sejak petik dan salak tandan 12 hari. Pondoh biasa
hanya 6 dan 10 hari. Uniknya saat pondoh di Sleman tidak berbuah pada
Mei-Agustus, salak slebor berbuah sebagai buah apitan,’’katanya.
Kini Salak Slebor kian populer di kalangan petani
salak dan masyarakat yang mencintai pertanian organik. Dari sukses berorganik
di lahan 1 ha, pengembangan meluas hingga 6 ha yang ditanam 20 pekebun. Tak
kurang menteri pertanian Malaysia,
pada tahun 2002, Datuk Mohd. Effendi Norwawi tertarik mencicipi langsung ke
Cimande, Bogor.*
EM CONER Edisi I
PT. Tasma Puja, Riau
EM4
Atasi Limbah Kelapa Sawit
Pengendalian pencemaran lingkungan telah menjadi konsen
beberapa industri pengolahan CPO dan Inti Sawit. Salah satunya PT. Tasma Puja
di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dengan menggunakan teknologi EM4, limbah
kelapa sawit dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik baik cair maupun
pupuk padat pada perkebunan tersebut.
Selama ini, limbah yang
dihasilkan dari industri CPO dan Inti Sawit ini sekitar 250 ton perbulan ini,
sangat memusingkan pihak pengelola. Pasalnya, limbah yang mengandung BOD
dan COD tinggi ini, sulit untuk dibuang.
Kalau dipaksakan dibuang ke sungai, tentunya sangat mencemari lingkungan hingga
menimbulkan kematian pada satwa-satwa yang ada di sungai. Dan tak hanya itu,
limbah tersebut juga akan mengganggu kesehatan manusia yang kesehariannya
menggunakan sungai sebagai sanitasi.
Untuk menjadikan limbah menjadi
kompos, butuh enam bulan untuk mengendapkannya. Selain memakan waktu lama,
limbah ini juga menimbulkan bau yang tidak sedap karena timbul gas berbahaya
seperti H2S, amoniak dan lainnya.
Karena itulah, distributor PT.
Songgolangit kawasan Sumatera, Muliadi memperkenalkan EM4 untuk mengatasi
persoalan yang dihadapi PT.Tasma Puja tersebut.’’Dengan aplikasi EM4, khususnya
pada dibidang limbah, persoalan lingkungan ini bisa teratasi,’’kata
Muliadi.
Memang kata Muliadi, masalah
limbah ini memerlukan penanganan dan pengelolaan secara serius dan mutlak
dilakukan. Beberapa industri kelapa sawit terutama PTPN di Kabupaten Asahan
Sumatera Utara sudah menggunakan EM4 sebagai penurun kadar BOD dan COD.
‘’Penggunaan EM4 sangat efektif untuk menghilangkan bau dengan menangkap H2S
dan NH3 dengan mengubahnya menjadi
senyawa yang tidak berbau. Kemudian EM4 juga mampu mempercepat proses penguraian
lemak sehingga larut bersama air
limbah,’’katanya.
Terpenting lanjut Muliadi, EM4
ini mampu menurunkan kadar BOD dan COD sehingga air limbah yang telah diolah
dapat dimanfaatkan kembali dan tidak membahayakan kesehatan mahluk lain jika
dibuang ke pembuangan seperti sungai.***
Dengan EM4, Stroberi Tahan Penyakit
Tak
diragukan lagi, setelah menggunakan Teknologi EM4, tanaman stroberi milik Eko
Suweno di Jalan Raya Kopeng Salatiga Jawa Tangah lebih subur, tanamannya rajin
berbuah, lebih manis, tahan lama dan
tidak mudah terserang penyakit.
‘’
Saya sebenarnya sudah banyak mencoba berbagai produk fermentator berbasis
organik tetapi tak sebagus menggunakan teknologi EM4. Ada juga produk yang bagus tetapi harganya
tak terjangkau oleh petani,’’kata Eko.
Menurut
Eko, kawasan Wisata Kopeng Salatiga ini cocok sekali membudidayakan stroberi
karena bersuhu antara 17 – 20 C dengan kelembaban udara (RH) 80 – 90 persen
dengan curah hujan berkisar
antara 600 - 700 mm/tahun sehingga buah stroberi bisa tumbuh subur
apalagi dengan menggunakan teknologi EM4.
’’ Keunggulan
menggunakan teknologi EM4, pernah dibuktikan mahasiswa Universitas Dipenogoro
(UNDIP) dengan melakukan penelitian tentang daya tahan stroberi. Dan hasilnya
stroberi yang saya tanam di luas tanah sekitar 3500 M2 ini hasilnya lebih manis
dan tahan lama dibandingkan stroberi yang tidak menggunakan teknologi
EM4,’’katanya.
Sebenarnya,
teknologi EM4 tak asing bagi Eko. Pasalnya, ia sudah mempergunakan EM4 sejak
tahun 1994 ketika masih bekerja diperkebunan milik pengusaha di Sukabumi Jawa
Barat.’’ Di perkebunan Berbagai tersebut saya menanam sayuran organik
menggunakan teknologi EM4,’’katanya.
Dan
sejak tahun 2002, Eko mengembangkan stroberi ditanah kelahirannya, Kopeng dan
menjadikan bisnis stroberi sebagai mata pencaharian yang cukup menjanjikan.’’
Saya membudidayakan tanaman stroberi dengan dua sistem. Pertama sistem medium tanah pot (polybag) dan
sistem bedengan atau guludan bermulsa plastik. Untuk menghindari hama, kita menggunakan cara
tumpang sari dengan menanam pohon bawang diantara tanaman stroberi,’’katanya.
Sedang untuk pemasarannya, Eko tak
repot-repot, pembeli dari Yogyakarta biasanya
datang sendiri ke lahan pertaniannya dan memborong hasil perkebunannya dengan
harga yang cukup lumayan dan sisinya, dipasarkan diareal tersebut. ‘’Biasanya
wisata Kopeng setiap sabtu dan minggu selalu ramai dan banyak wisatawan yang
membeli stroberi disini,’’katanya.*
Keseriusan
Lembaga Swadaya Masyarakat di Kecamatan Sukolilo Surabaya
dalam mengolah sampah kota,
patut diacungkan jempol. Gerakan bersih lingkungan yang dikomandani oleh Hadi
(45) dalam pengelolaan sampah kota,
tidak sekedar wacana. Tapi sudah tahap
implementasi di lapangan.
Pasalnya, sampah sudah menjadi problematika perkotaan yang sampai saat ini,
belum mampu dicarikan jalan keluarnya. Karena itulah beberapa LSM yang cinta
lingkungan mencoba membuat sampah menjadi sesuatu yang berharga. Misalnya yang
an organik bisa di daur ulang dan yang organik dibuat kompos atau pupuk
tanaman.
‘’Awalnya, kami hanya memberikan
pelatihan pada ibu-ibu tentang membuang sampah basah dan sampah kering.
Kemudian sampah basah dijadikan kompos dan sampah kering dibuat kerajinan
tangan. Hasilnya, sangat menggemberikan, tidak saja lingkungannya menjadi
bersih dan hijau, hal ini juga memberikan income tambahan ibu-ibu dari
hasil mengolah sampah kering menjadi kerajinan tangan tersebut,’’kata Hadi.
Menurut Hadi,
menjadikan sampah menjadi kompos merupakan langkah yang paling positif, apalagi
dibantu oleh PT. Songgolangit Surabaya dalam hal menguraian (EM4) sehingga
proses membuat kompos menjadi lebih cepat. ’’Kami memang mempercayakan EM4
sebagai bahan pengurai yang sangat efektif dalam membuat kompos, karena
disamping murah, produk ini juga ramah lingkungan,’’katanya.
Hadi mengakui,
membuat kompos baru sekedar coba-coba
karena terdorong upaya bagaimana solusi menanggulangi sampah, yang
sempat meresahkan warga karena menimbulkan bau yang tidak sedap. Langkah
awalnya dengan cara membakarnya, namun upaya ini juga menimbulkan masalah
karena terjadi polusi udara. ‘’ Kami bersama warga akhirnya sepakat untuk
memanfaatkan sampah menjadi kompos dengan menggunakan teknologi EM4 agar proses
fermentasinya cepat,’’jelasnya.
Niat baik
inilah, Hadi bersama warga membuat bak penampungan sampah serta sarana pemprosesan menjadi bokashi
padat dengan ukuran 2x3 sebanyak 4 bak.’’ Dari hasil membuat kompos, rencananya
kami akan pakai sendiri untuk penghijauan di lingkungan kami, mudah-mudahan ke
depan bisa kami jual. Tetapi untuk sekarang cukup kita manfaatkan
bersama,’’jelasnya.
Untuk meyakinkan
warga, tentang bokashi yang dibuat, Hadi dan warga juga membuat kebun sayur di
sekitar tempat pengolahan bokashi seluas 3000 meter. Di lahan tersebut ditanami
sayuran seperti bayam, cabay, ubi, buah pepaya dan lain-lain. Dengan uji coba
pertanian organik hasil dari kompos dari sampah tersebut, kami harapkan para
warga akan yakin bahwa kompos ini benar-benar bagus dan dapat menyuburkan
tanaman.
Hotel Aston Nusa Dua, Bali
Dengan EM Limbah
Wisatawan Nyaman
Limbah merupakan
suatu permasalahan yang sering dihadapi oleh sektor pariwisata (hotel,
restoran, spa), kesehatan (rumah sakit), industri maupun rumah tangga. Limbah
tersebut berasal dari pembuangan air kotor kamar mandi, dapur, laundry
yang berupa campuran bahan organik terdiri atas Nitrogen, Karbohidrat, Lemak
dan Protein yang bersifat tidak tetap dan menjadi busuk (berbau). Selain itu,
juga mengandung bakteri yang bersifat pathogen
sehingga membahayakan kesehatan manusia, menimbulkan kerusakan lingkungan dan
merusak keindahan (estetika).
Sifat-sifat inilah yang membuat perlunya penanganan limbah agar tidak
mengganggu kenyamanan para penghuni dan limbah yang telah ditangani dengan baik
dapat didaur ulang untuk kepentingan produksi maupun konsumsi. Ilmu pengetahuan dan teknologi
telah menjawab tantangan dan problematika limbah dengan mengembangkan teknologi
EM secara alami dan ramah lingkungan.
Siapapun tak
bakalan menyangka, jika taman yang ada di sebelah restoran dan kape di Hotel
Aston Resort & Spa Nusa Dua Bali ini adalah tempat pengelolaan tinja
hotel bintang empat di kawasan
Pariwisata Nusa Dua tersebut. Pasalnya, taman yang hanya berukuran 10 m2 x 5 m2
tersebut, terlihat asri dan tidak menimbulkan bau tak sedap. Para
wisatawan baik asing maupun local tampak, asik menikmati pemandangan pantai
sanur yang indah dan menawan.Bahkan, para wisatawan asing asik berjemur
ditenda-tenda yang sudah disediakan pihak hotel. Padahal, tak lebih berjarak 4
meter, terdapat lokasi pengelolaan tinja.
Bisa dipastikan,
limbah yang dihasilkan – apalagi limba tinja – sangat mengganggu sekali. Kalau
dibuang ke laut akan menimbulkan pencemaran yang serius, sehingga perlu
penanganan secara khusus. Untungnya, managemen Hotel Aston Nusa Dua Bali punya
solusi yakni menggunakan teknologi pengurai dengan menggunakan bakteri aktif
yakni Em Pengolahan limbah.
‘’Dulu sebelum
kami menggunakan EM4, beberapa tamu kami sempat komplen karena disekitar cafe
tercium bau tak sedap yang berasal dari pembuangan limbah tersebut sehingga
kami berpikir untuk memakai EM4,’’kata Dewa Putra Chief Engginering hotel
tersebut.
‘’Setelah kami
menggunakan EM limbah tahun 2002, tempat limbah berkapasitas STP 250 m3 per
hari, tidak lagi berbau dan pengunjung hotel tidak lagi komplen.,’’katanya.
Menurut Dewa,
dengan Sistem STP model Lumpur aktif dan menggunakan EM limbah, hasilnya dari
segi bau berkurang, dari segi biaya dapat ditekan karena harga produk EM sangat
terjangkau. Sludge lebih sedikit
sehingga menghemat biaya penyedotan. Kemudian, kerja blower dapat dikurangi
sehingga mampu menghemat biaya listrik. Komposnya, digunakan untuk garden
tanaman dan menjadi menjadi lebih subur. Meskipun lokasi STP dekat dengan
restaurant tidak menyebabkan masalah karena bau bisa berkurang serta ramah
lingkungan.
Dosis penggunaan
EM dengan perbandingan 1 : 1 : 50 (EM : Molase : Air), Dosis aplikasi 1
liter/M3 air atau 1 hari = 250 liter EM aktif.
Penggunaan EM perbulan 150 liter untuk STP dan 20 liter untuk Greasetrap
Total 170 liter /bulan.(A)
Langganan:
Postingan (Atom)






