Tampilkan postingan dengan label Edisi II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi II. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012
Salam Redaksi Edisi II
Bioteknologi Tambak Udang
Sebenarnya Indonesia bisa kembali bersaing dengan Negara
Vietnam, Thailand dan Cina dalam pencapaian target ekspor udang ke Jepang, Uni
Eropa, Amerika Serikat dan negara tujuan
ekspor udang lainnya, asalkan industri perikanan nasional berkomitmen, menghasilkan produk perikanan yang bebas
antibiotik seiring dikeluarkannya persyaratan atau standar mutu oleh badan dunia
agar produk perudangan Indonesia tidak
mengandung antibiotik lebih dari 1 part per billion (ppb) atau 1 miligram per
ton antibiotik.
Di kalangan petambak udang, antibiotik digunakan untuk menyehatkan udang. Biasanya, jika udang sudah terlihat tidak sehat, benih langsung diberikan antibiotik dan udang pun menjadi sehat kembali.
Lalu kenapa antibiotik untuk udang dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan manusia? Karena badan dunia menganggap, residu antibiotik pada udang bisa menimbulkan penyakit anemia. Dan jika berkadar tinggi bisa menyerang sel darah merah dan darah putih pada tubuh manusia.
Penggunaan antibiotik seperti nitrofurans juga mengakibatkan kanker dan cacat janin. Sedangkan chloramhenicol dapat menghambat sintesis protein pada bakteri. Bakteri relatif mudah menjadi resisten terhadap antibiotik, mencemari lingkungan, menekan daya tahan, dan pertumbuhan tambak udang. Selain itu, antibiotik juga mengandung residu dan tidak efektif untuk virus.
Karena itu,
penggunaan antibiotik secara berlebihan dan serampangan pada budidaya udang
harus dihentikan. Selain mengganggu kesehatan manusia, perudangan Indonesia
terancam embargo dari negara-negara yang selama ini mengkonsumsi udang dari tanah air.
Jika tidak ingin kehilangan potensi pasar ekspor
udang dunia, sudah seharusnya industri perikanan nasional berbenah diri untuk
tidak mengecewakan negara importir yang sudah sekian lama mempercayai Indonesia
sebagai produsen udang dunia.. Dan kini sudah saatnya, Indonesia mengembangkan
bioteknologi untuk budidaya udang dan perikanan lainnya guna menekan
pemanfaatan antibiotik untuk pemeliharaan kesehatan bagi satwa perairan tersebut.
Pengembangan teknologi tersebut antara lain dilakukan dengan menumbuh suburkan bakteri yang dapat memfermentasi atau mengurai aneka jenis kotoran yang menjadi sumber penyakit bagi tambak udang. Penghapusan penggunaan antibiotik tersebut selain dilakukan melalui penerapan bioteknologi, juga beberapa cara lain seperti peningkatan mutu air dan lingkungan tempat dilakukannya budidaya.
Tentunya,
tak hanya menjadi tugas pemerintah atau Asosiasi Pembenihan Udang Indonesia
(APUI), Asosiasi Perusahaan Pakan Udang Indonesia (APPUI), Shrimp Club
Indonesia (SCI), Himpunan Penangkapan Udang Indonesia (HPPI), dan Asosiasi
Pengusaha Cold Storage Indonesia (APCI), tetapi menjadi tugas bersama termasuk
petambak di daerah masing-masing yang tersebar di seluruh Indonesia.
Perlu diketahui, udang merupakan salah satu komoditas ekspor cukup besar bagi Indonesia. Untuk itu, diperlukan penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan dalam pembudidayaan udang tersebut.
Salam
EM FORUM
Minggu, 05 Februari 2012
Forum Utama Edisi II
Biasakah Produksi Tambak Udang
Meningkat?
Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat luar
biasa dalam ekspor tambak udang ke
Jepang, Eropa dan Amerika. Namun sayangnya, beberapa petambak merasa
takut karena resiko kegagalan selalu membayangi. Di sisilain, sebagian petambak, mulai enjoy menikmati hasil
tambak yang berlimpah.
Arief Haryono, salah satu petambak yang masih bertahan
di Desa Tegal Cangkring, Jimbrana, Kabupaten Negara, Bali.
Ia terkenal petambak yang ulet pantang menyerah. Bahkan ia rela harus tidur di
areal tambaknya untuk memanen tambak
udang. yang baru berumur 101 hari, rata-rata size 45 tiap
kilogramnya.
Memang secara keseluruhan usaha budidaya tambak
terutama di kawasan pulau dewata, boleh
dibilang mulai bergairah setelah sekian lama mati suri akibat terserang
penyakit akibat penggunaan anti biotik yang berlebihan. Tak hanya di Bali,
kondisi ini juga terjadi di seluruh wilayah
Indonesia
terutama di pulau Jawa..
Padahal, produksi
udang sempat menjadi primadona pada tahun 1980-an khususnya dari spesies udang
windu (Penaeus monodon ) yang terus menurun hingga tahun 1990-an. Jenis
udang windu mulai jarang dibudidaya oleh petambak sekarang ini. Mereka
beranggapan sangat beresiko mengalami kematian pada usia yang masih muda, terserang
penyakit white spot, bintik putih dan virus lainnya.
Kemudian petambak lebih suka membudidaya udang jenis vannamei
(Penaeus vannamei) atau lebih
dikenal dengan udang putih karena dianggap lebih tahan penyakit, sesuai
program Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai bagian revitalisasi sektor
perikanan. Namun kenyataannya di
lapangan, vannamei pun tak luput dari masalah sama yakni mulai dihinggapi
penyakit.
Penyakit yang
selalu menghinggapi udang itu menurut Dr. Sukenda, ahli mikrobiologi dari Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FKIP IPB) disebabkan
penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen. Penurunan kualitas air dan
kerusakan sedimen itu terjadi akibat tingginya kandungan bahan nitrogen
anorganik, senyawa organik karbon, dan sulfida.
Pemakaian antibiotik yang berlebihan inilah, penyebab bakteri pathogen menjadi kebal. Bukannya
memberantas patogen malah meningkatkan resistensi dari patogen hingga solusi
pengobatan apapun menjadi tidak efektif.
Penumpukan senyawa kimia itu berasal dari sisa pakan,
kotoran udang, serta pemupukan jangka panjang. Kondisi itu mempengaruhi
kandungan senyawa amoniak, nitrit, nitrat, hidrogen sulfida, dan senyawa karbon
yang bersifat toksik pada sistem tambak udang.
Petambak pun akhirnya perlahan mulai meninggalkan
budidya udang ini, karena kurang menguntungkan. Bahkan tidak sedikit yang
mengalami kebangkrutan. Ini akibat petani tambak yang terlalu mengejar hasil
berlimpah tetapi malah sebaliknya.
Bioteknologi
Diperlukan
Karena penumpukan bahan berbahaya,
dibutuhkan bioteknologi untuk mengubah tumpukan bahan organik tersebut. ‘’Nah,
di sinilah probiotik berperan.,” jelas praktisi pertambakan yang tergabung
dalam Asosiali Produsen Organik Indonesia (APOI). Ir. Tri Haryadi.
Menurut Tri, penggunaan probiotik
di tambak sangat bergantung pada tujuannya. Jika ingin memperbaiki dasar
tambak, dipilih probiotik berisi bakteri yang mampu mereduksi H2S,
amoniak, dan nitrifikasi bakteri, terkait dengan fungsinya sebagai pengurai.
Sedangkan petambak yang ingin menekan pertumbuhan bakteri phatogen misalnya,
menggunakan probiotik yang bersifat biokontrol.
Sekarang ini kata Tri, banyak
petambak mulai mengembangkan sistem budidaya polikultur organik yakni suatu sistem budidaya yang mengandalkan bahan
alami dalam siklus budidayanya. Jadi dalam satu lahan
tambak ada tiga komoditi yakni rumput laut (gracilaria), udang dan bandeng.
Cara ini membina hubungan yang
saling menguntungkan (simbiosis
mutualisme) sehingga tidak lagi diperlukan faktor luar seperti pemberian
pakan pabrikan maupun pestisida yang
dapat membahayakan lingkungan.
Rumput laut penyuplai oksigen
untuk perairan sehingga jumlah oksigen terlarut dapat terjaga dan terjamin.
Selain sebagai tempat sembunyi bagi udang dan bandeng serta tempat
berkumpulnya plankton, rumput laut ini memainkan peran sebagai biofilter pada
perairan tambak.
Di dalam budidaya perikanan
organik, penambahan obat-obatan, pestisida kimia, pakan pabrikan harus
diminimalkan, tujuannya tidak lain agar produk yang dihasilkan bebas dari
residu bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Penggunaan teknik alami dan ramah lingkungan
diprioritaskan, mulai dari pemberian pakan, penanganan dan pengamanan lokasi
budidaya sampai dengan pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit.’’Dan
peran probiotik dapat mengurangi pemakaian bahan kimia dan
antibiotik,’’katanya.
Budidaya perikanan organik sudah
banyak dilakukan petambak di Indonesia. Di kawasan Sumatera tepatnya di Desa
Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sudah
menerapkan sistem budidaya ini dan hasilnya sangat menggembirakan.
Begitu juga di Desa
Rengasdengklok Utara, Kec. Rengasdengklok, Kab. Karawang, Jabar, disponsori petambak H. Endi Muchtarudin, yang berhasil
memanen udang windu sebanyak 22 ton dari 11 petak tambak miliknya. Keberhasilan
lulusan Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta ini, tak lepas dari bioteknologi yang
diterapkannya, yakni pengelolaan air sistem tertutup (closed system) dan penggunaan probiotik tambak dengan sistem polikultur organik.(A)
Sabtu, 04 Februari 2012
Forum EM Edisi II
EM Perikanan dan Tambak
Perbaiki Budidaya Tambak Udang
Budidaya
tambak udang bukan sesuatu yang mudah.
Salah urus, bisa-bisa
udang yang dipelihara mati sebelum dipanen. Kini saatnya, petambak memperbaiki
sistem budidaya udang dengan menggunakan teknologi EM Perikanan dan Tambak.
Dewasa ini semakin banyak ditemukan
kegagalan-kegagalan panen dalam budidaya tambak udang akibat terganggunya
ekosistem lingkungan air dan tanah dasar tambak akibat pembusukan sisa-sisa
pakan, kotoran dan tubuh udang yang mati.
Pola aplikasi tambak
dengan teknologi Effektif Microorganisme
(EM4) pengolahan tambak, merupakan solusi memperbaiki sistem budidaya tambak,
baik tambak dengan sistem tradisional, intensif maupun polikultur yang selama
ini, tengah resah mencari jawaban problem yang dihadapinya. Persoalan
yang dihadapi itu misalnya, pertumbuhan udang yang lambat, daya tahan yang
lemah serta mudahnya terserang penyakit hingga mengalami kematian.
Teknologi
EM pengolahan tambak adalah kultur campuran cair mikroorganisme terdiri dari lima kelompok
mikroorganisme yaitu bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas
sp), bakteri asam laktat (Lactobacillus Spp), Actinomycetes,
Streptomyces sp, jamur fermentasi (Aspergillus, sp) dan ragi atau yeast (sacharomyces sp).
Mikroorganisme
pada EM pengolahan tambak yang bisa diaplikasikan pada perikanan air tawar ini,
berfungsi memfermentasi bahan organik menjadi senyawa – senyawa organik yang
tidak beracun. Mengubah proses pembusukan bahan organik menjadi proses
fermentasi.
H.
Fathoni (65) asal Indramayu, adalah petambak yang tergabung dalam binaan PT.
Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan Indramayu ini, sangat welcome dalam penerapan teknologi EM4. Pasalnya,
sudah berkali-kali budidaya tambaknya selalu gagal karena pertumbuhan udang
sangat lambat, sering terserang penyakit dan sangat sulit meningkatkan produksi. Kondisi
ini juga dialami oleh hampir seluruh petambak di kabupaten yang terkenal dengan
buah mangga Indramayu tersebut.
Aplikasi EM Pengolahan Tambak
Untuk
mengolah tambak dengan teknologi EM4, langkah pertama adalah pengeringan tambak agar tanah dasar tambak terjemur sinar
matahari, pengeringan ini bertujuan agar hama seperti siput, tiram, srindit,
dan bakteri penyebab penyakit mati, serta untuk memperbaiki reaksi bio-kimiawi
tanah (Redoks) berlangsung dengan baik.
Kemudian, pengangkatan tanah dasar dan perbaikan bangunan
tambak bertujuan agar tanah dasar yang penuh dengan sisa bahan organik diangkat
dan ditaruh diatas pematang dan perbaikan bangunan tambak. Selanjutnya areal tambak
dijemur 2 – 3 hari, kemudian di cek pH tanah dasar untuk menentukan dosis
pengapuran. Selanjutnya dilakukan penyuburan lahan tambak, untuk meningkatkan
jumlah pakan alami, pemupukan ini dilakukan dengan mempergunakan pupuk organik
(bokashi).
Perlakukan saat pemeliharaan (pengolahan air), EM
sangat diperlukan. Begitu juga saat pergantian air, perlakukan saat pemberian
pakan (disemprotkan ke dalam pakan).
Dari hasil
penelitian yang dilakukan tim Ahli PT. Songgolangit pada lahan tambak milik H.
Fathoni, dapat diketahui EM4 dapat mengatasi pencemaran air akibat
akumulasi limbah organik.
Dalam budidaya organik, pemberantasan hama dan
penyakit dilakukan dengan pestisida
alami, seperti saponin yang berasal dari bungkil teh. Umumnya kandungan saponin dalam bungkil teh
di Indonesia berkisar antara 10 – 15%, saponin inilah yang digunakan sebagai
racun dan dosis penggunaannya antara 150 - 200 kg per ha. Penggunaan saponin ini akan efektif pada
siang hari sekitar pukul 12.00 – 14.00, daya racunnya akan meningkat dengan
naiknya salinitas
Keuntungan lain menggunakan teknologi EM4, dapat meningkatkan
daya tahan, memfermentasikan sisa pakan,
kotoran dan cangkang yang terdapat di
dasar tambak, juga mengurai gas amoniak, methan dan hidrogen sulfida yang dapat
mengganggu kehidupan udang.
EM4 juga mampu
meningkatkan oksigen terlarut (DO) sehingga air menjadi bersih dan tidak perlu
penggantian air berulang-ulang karena
kualitas air tetap terjaga serta aman bagi lingkungan.
Untuk
mendongkrak hasil produksi, syaratnya
air dalam tambak harus terhindar dari pencemaran bahan kimia. Sementara
mengatasi pencemaran air sendiri kuncinya hanya dengan teknologi EM pengolahan
tambak. Kenapa? Karena EM berperan sebagai stabilisator lingkungan tanah dasar
tambak yang berlangsung secara alami akibat proses fermentasi. Untuk itu,
teknologi EM sangat tepat diterapkan untuk menanggulangi masalah tersebut. (A)
Selasa, 31 Januari 2012
Coloum Pak Oles Edisi II
Ada
Dolar Di Balik Udang
Peluang memperoleh untung dalam bisnis
udang masih terbuka lebar, karena udang adalah pasar dunia. Semakin
banyak orang makan udang, maka akan semakin terbuka peluang untuk mendapatkan
keuntungan sebagai produsen atau pemasar.
Rakyat Indonesia belum banyak yang makan
udang. Tapi, yang makan kerupuk udang sangat banyak. Kenapa
demikian? Karena harga udang mahal, dan harga kerupuk udang jauh lebih
murah. Kenapa harga bisa mahal dan bisa juga murah? Karena harga
tergantung dari daya beli masyarakat. Kalau masyarakat penghasilannya
tinggi, apapun terlihat murah. Kalau masyarakat penghasilannya rendah,
maka apapun terlihat mahal. Bagaimana cara meningkatkan daya beli
masyarakat? Tingkatkan produktivitas masyarakat dengan keahlian dan
ciptakan lebih banyak lapangan kerja. Itu saja.
Kalau ukuran udang 50 ekor per kilogram
harganya Rp. 35.000,- apakah murah atau mahal? Tergantung kantong
pembeli. Bagi mereka yang memiliki uang lebih, tentu murah. Bagi
mereka yang ‘bokek’ tentu mahal. Kalau harga udang mahal, mungkin lebih
baik membeli kerupuknya saja.
Bisnis udang sangat susah.
Pembibitannya susah, memeliharanya susah, mengurangi risiko alam juga susah,
penyakitnya banyak, risiko gagalnya tinggi, biaya produksi mahal, harga jualnya
turun-naik tergantung pasar. Jika harga bagus
dan produksi meningkat, petambak bisa untung. Jika harga jeblok dan panen
gagal, petambak tinggal pijit kening.
Kenapa petambak tidak pernah kapok
bisnis udang? Walaupun mereka sudah tahu, bahwa bisnis udang susah dan
penuh risiko? Jawabannya adalah, karena di dalam bisnis udang ada
dolar. Bangsa Amerika, Jepang dan Uni Eropa adalah bangsa pemakan
udang. Negara Indonesia
baru bisa memenuhi kebutuhan pasarnya hanya sebagian kecil saja. Sisanya
dipasok oleh Negara Cina, Thailand, Vietnam,
India
dan negara ASEAN lainnya.
Peluang memperoleh untung dalam bisnis
udang masih terbuka lebar, karena udang adalah pasar dunia. Semakin
banyak orang makan udang, maka akan semakin terbuka peluang untuk mendapatkan
keuntungan sebagai produsen atau pemasar. Masalahnya adalah harga
produksi udang dan risiko kegagalan semakin tinggi. Biaya produksi yang
meningkat disebabkan karena faktor harga yang meningkat untuk pakan,
obat-obatan, BBM dan upah tenaga kerja. Banyak perusahaan besar kolaps
gara-gara gagal panen, sehingga tidak bisa membayar hutang di bank. Tapi
banyak juga perusahaan-perusahaan yang hidupnya menjadi semakin besar gara-gara
berhasil bisnis udang. Semuanya itu adalah risiko. Untung dan rugi
tidak bisa dihindari dalam berusaha. Tapi haruslah dicatat, bahwa hanya
mereka yang serius menekuni bidangnya bisa berhasil dengan baik.
Keseriusan dan ketekunan dalam menjalankan bisnis udang itulah kemujurannya,
yang dicatat dalam pengalaman, ilmu, teknologi dan menejemen. Barang
siapa yang tidak serius dan tidak tekun, maka haruslah bersiap-siap untuk
gagal. Termasuk gagal dalam bisnis udang.
Bangsa Cina dan Jepang memiliki budaya
merenung, yaitu bagaimana merenungkan kembali keberhasilan dan kegagalan.
Apa penyebab keberhasilan dan kegagalan dalam bisnis udang haruslah
direnungkan dengan baik, sehingga mereka mengetahui jawabannya. Jawaban
dari setiap perenungan tentang keberhasilan dan kegagalan bisnis udang
dirangkum menjadi ilmu, teknologi dan menejemen. Dan mereka menguasai hal
itu sampai ke detil-detilnya. Untuk hal ini, kita perlu banyak belajar
dari mereka. Jangan sampai kita hanya mengetahui kulit luarnya saja dalam
bisnis udang, yaitu kalau untung karena nasib baik, kalau rugi karena nasib
buruk.
Jika bangsa kita mengetahui ilmu,
teknologi dan menejemen bisnis udang dengan baik, maka harga udang bisa menjadi
terjangkau oleh seluruh rakyat Indonesia.
Seperti halnya ikan mas, gurami, bandeng dan patin, yang harganya terjangkau
oleh masyarakat, karena masyarakat bisa meproduksinya sendiri, karena ilmu,
teknologi dan menejemennya sudah dikuasai. Jika semuanya itu bisa
dilakukan, maka pangsa pasar udang akan semakin terbuka lebar. 220 juta
rakyat Indonesia
siap membeli udang setiap hari. Bukan hanya kerupuknya saja.*
EM CONER Edisi II
Mojokerto, Surabaya
Warga Manfaatkan Pupuk Kandang
Dengan mengaplikasikan teknologi EM4
Peternakan, H. Soleh, warga Kota Mojokerto Jawa Timur memanfaatkan kotoran
ternak sapinya untuk menjadi Bokashi Pupuk Kandang yang dipergunakan untuk
memupuk kebun Jagungnya. Selain itu, ia juga menjadikan lahan ternaknya sebagai
pusat pengolahan bokashi.
‘’Penggunakan Teknology Effektif
Microorganisme (EM4), limbah yang dihasilkan dari kotoran Sapi telah
dimanfaatkan untuk membuat bokashi yang
bermanfaat bagi tanaman. Tak hanya itu, dengan teknologi EM4 peternakan ini,
menjadi solusi pencemaran udara karena bau tak sedap yang dihasilkan dari
kotoran ternak,’’katanya.
Kandang
Sapi yang berada di seputar pemukiman ini, sebelumnya banyak dirisaukan
penduduk sekitar. Sebab bau limbah yang dihasilkan dari kotoran hewan sangat
mengganggu sehingga H. Soleh berpikir keras untuk menangani masalah yang
dikeluhkan warga tersebut.
‘’Sebelumnya,
kotoran sapi yang menggunung ini, saya jadikan pupuk kandang dengan cara alami dan dibiarkan begitu saja. Namun cara
ini mengundang bau tak sedap sehingga banyak warga setempat memprotes
keberadaan lahan ini,’’katanya.
Untungnya, PT.
Songgolangit Persada cabang Surabaya
bekerja sama dengan mahasiswa peternakan setempat, mengembangan biogas sebagai
energi alternatif, ‘’PT. Songgolangit
sendiri mengajarkan fermentasi pupuk kandang dengan teknologi EM4 yang
selanjutnya dijadikan biogas untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif terbarukan yang ramah
lingkungan,’’kata Kacab Surabaya, Raharko.
Menurut
Harko, dengan menggunakan EM4 bisa
menghasilkan biogas sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah dan pupuk
organik yang kaya akan zat hara yang dibutuhkan tanaman. Pupuk organiknya dapat
dipakai sendiri atau dijual kepada petani lain.
Keuntungan lain menggunakan EM4, pada areal kandang
ternak tidak lagi berbau sehingga tidak mengundang lalat untuk datang dan tidak
mendapat komplen dari warga sekitar.
Untuk memperkenalkan EM4 ke peternak sapi lainnya, para mahasiswa yang
melakukan Kuliah Kerja Nyata terus
melakukan kerjasama dengan PT. Songgolangit Persada sebagai agen tunggal EM4. (A)
Magelang
Permintaan Bokashi Kotaku Tinggi
Gairah
pemakaian pupuk bokashi kotaku di kota
Magelang Jawa Tengah cukup tinggi, terutama pada budidaya tanaman palawija, sayuran dan padi. Meski
begitu, PT. Songgolangit Persada sebagai produsen terus berupaya melakukan
terobosan dan perluasan wilayah terutama menjangkau para petani yang ada di
Pulau Jawa. Untuk memudahkan distribusi, bokashi kotaku yang menggunakan
teknologi EM4 ini sebagian di produksi kota
Megelang.
Menurut
Kacab PT. Songgolangit Persada Cabang Magelang Jawa Tengah, Sarmo Saputro,
produksi Bokashi Kotaku di Kota Magelang ini untuk mempermudah distribusi ke
konsumen yang ada di kota yang terkenal dengan Candi Borobudurnya.‘’Kebutuhan
Bokashi Kotaku sangat tinggi, mengingat harga pupuk kimia semakin mahal dan
bokashi kotaku menjadi solusi para petani dalam meningkatkan hasil produksi
pertanian,’’katanya.
Sementara ini,
pesanan Bokashi Kotaku paling banyak datang dari petani sekitar kota Magelang yang dikenal sebagai sentra penghasil sayuran
dan tanaman palawija. Permintaan pupuk Bokashi Kotaku diprediksi terus
meningkat seiring dengan promosi yang gencar serta sosialisasi awak PT.
Songgolangit Persada cabang Magelang.
Animo petani
terhadap pupuk yang diproduksi melalui proses fermentasi Teknologi EM
(Effective Microorganisms) cukup besar, karena banyak petani yang sudah
merasakan manfaatnya. Ada
petani yang sudah berkali-kali
menerapkan pemupukan dengan Bokashi Kotaku tersebut. Pupuk yang dibuat
dari beragam bahan organik ini, tidak hanya mendongkrak produksi sekaligus
dapat memperbaiki struktur dan tekstur
tanah.
‘’Tanah lebih
gembur dan subur, asalkan dipupuk secara rutin dan teratur. Dengan kondisi
seperti ini, memacu gairah petani untuk bertani dan mendatangkan keuntungan
dari hasil bertani tanpa takut gagal panen,’’katanya.
Memang
keunggulan dan manfaat Bokashi Kotaku ini bentuknya halus sehingga lebih
cepat terserap oleh akar tanaman. Memiliki
Unsur makro dan mikro yang dibutuhkan
tanaman dan mampu menekan bakteri jahat panthogen serta meningkatkan
produksi tanaman.(A)
Bogor
Jeruk Kasturi Berbuah Lebat
Berkat EM4
Jeruk
Kasturi merupakan sejenis jeruk peras yang memiliki rasa masam dan segar. Di
Indonesia jeruk ini belum banyak dikembangkan karena pemasarannya yang sulit.
Namun, bagi Kebun Wisata Pasir Mukti, komoditi ini menjadi ‘maskot’ kebun
wisata seluas 50 hektar di daerah Citereup Bogor.
Maka itu tak heran, jika
berkunjung ke kebun wisata organik yang menggunakan teknologi EM4 ini, tiket
masuk akan ditukar dengan segelas minuman segar jeruk kasturi. ‘’Memang yang disebut jeruk lemon cui ini, menjadi
maskot perkebunan kami, setiap tamu yang berkunjung, akan kami suguhkan minuman
sirup Lemon Cui yang menjadi ciri khas perkebunan ini sehingga para tamu akan
merasakan kesegaran jeruk organik ini,’’kata Kepala Devisi Agro, Ir. Cecep M.
Ramdan
Jeruk kasturi atau jeruk
kalamanji di Fhilipina, biasanya dipergunakanmasyarakat khususnya Indonesia
bagian timur untuk membuat sambal, jus dan minuman segar lainnya.
Di Wisata Pasir Mukti ini, jeruk kasturi
dijadikan sirop. Dan sisa perasannya masih bisa dipergunakan untuk selai.
Selain dikonsumsi sendiri, hasil produksinya, dijual ke restoran Menado yang mulai menjamur di Jakarta.
Menurut Cecep,
keberhasilan budidaya jeruk kasturi ini karena pengaruh aplikasi pupuk bokashi
cair yang secara rutin diberikan sehingga buahnya menjadi lebih lebat. ‘’ Kalau
memakai bokashi cair secara rutin, hasilnya lebih melimpah,’’katanya.
Cecep juga sangat menghindari penggunaan pupuk
kimia, karena menurutnya, di Kebun Wisata Pasir Mukti ini, tidak hanya
mengambil hasil komoditi perkebunan saja, tetapi juga menjaga kelestarian
lingkungan. Kebun Wisata Pasir Mukti
memang kebun wisata agro yang ramah lingkungan dengan panorama hamparan sawah
diantara kebun buah dan kolam ikan. Terletak diantara Desa Tajur, Pasir Mukti
dan Gunung Sari Kecamatan Citeureup, Bogor.
Melalui wisata agro yang mendidik dan menghibur, Pasir Mukti menawarkan
pengenalan dan pengetahuan pertanian bagi pengunjung khususnya generasi
muda.(A)
Bali
EM4 Tingkatkan Hasil Produksi Cengkeh
Kalau tidak
mencoba sendiri memang banyak orang yang tidak percaya dengan teknologi EM4
ini. Seperti dialami mantan Sekda Kabupaten Buleleng, Nengah Rinta (70) di Desa
Asah Duren Negara Bali.
Pada awalnya, ia tidak pernah peduli
dengan teknologi EM4, karena dalam pikirannya, masa sih penggunaan bakteri bisa
menyuburkan tanaman? Namun setelah membuktikan langsung, Nengah sangat yakin
100% bahwa, EM4 mampu meningkatkan produksi perkebunan Cengkehnya.
‘’Saya terus terang terlambat mengadopsi
teknologi yang diusung putra Desa Bengkel, Busung Hiu, Buleleng Bali ini, kalau dari dulu memakai EM4, sekarang
tinggal menikmati hasil perkebunan yang berlimpah,’’katanya.
Nengah yang pernah menjadi Camat Busung
Hiu menceritakan, perkebunan cengkeh
seluas 4 hektar itu, selalu dipupuk kimia. Di awal-awal masa berbunga, pupuk
kimia memberikan hasil yang cukup bagus, namun setelah sekian tahun panen
(tahun 1990 – 2000), tahun berikutnya produksi semakin menurun dan
selanjutnya pohon menjadi kering.
‘’Saya baru
menyadari, untuk menjaga kesuburan tanah
tak hanya sekadar memperhatikan komposisi unsur-unsur kimia di dalam tanah atau
yang menjadi nutrisi bagi tanaman. Lebih dari itu, perlu memperhatikan
mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Makhluk renik ini sangat penting
keberadaannya untuk mengolah tanah,’’katanya.
Untuk itulah,
Nengah memberikan bokashi dan memyemprotkan EM4 setiap dua hari sekali dalam
satu bulan. Karena rutin, sekarang tanaman cengkeh sudah kembali normal
berbunga dan mulai meningkatkan
produksi.
Seperti dikatakan Kacab PT. Songgolangit Cabang Bali,
Ir. Ilham Rasidi, mikroorganisme yang ada di EM4 membantu ’kehidupan’ tanah. Mereka membantu proses pelapukan materi organik ke dalam tanah. Selain
menyuburkan, materi organik memperbaiki komposisi air dan udara di dalam tanah
sehingga tanah memiliki struktur dan
tekstur yang baik untuk perakaran tanaman.
Menurut Ilham,
dalam mengembangkan pertanian organik, tanah adalah bagian penting dari proses
budidaya pertanian. Tanah yang sehat dan subur akan menjadi tempat tumbuh ideal
bagi tanaman. Agar usaha pertanian bisa berkelanjutan, perlu adanya pengelolaan
tanah yang baik. Karena itu, tanah harus subur secara alami dan EM4 menjadi
solusi. (A)
Forum Usaha Edisi II
Dengan EM4
Bobot Kambing Cepat Meningkat
Bahan-bahan organik atau limbah pertanian seperti jerami, limbah jagung, kulit kacang tanah dan lain-lain menjadi pakan yang bermutu tinggi untuk
ternak kambing. Namun untuk menghasilkan bobot kambing biar cepat bertambah
harus difermentasi dengan EM-4.Peternakan.
Melihat
permintaan pasar yang cukup besar, potensi pengembangan budidaya ternak kambing
di Indonesia
sangat terbuka lebar. Pasalnya, kebutuhan daging di dalam negeri masih sangat
besar. Dengan kondisi sekarang ini, bisnis penjualan kambing sangat menguntungkan. terlebih ketika
menjelang hari Raya Idul Adha, selamatan, akikah, dan sebagainya. Tidak heran
jika banyak yang memprediksi bahwa sampai kapan pun, ternak kambing
merupakan bisnis yang potensial.
Matkadari (48) adalah
peternak kambing yang sangat bangga menggunakan EM-4. Pria bersahaja ini tak
segan-segan mengajak tetangga dan masyarakat sekitar untuk melihat ternak
kambingnya. Apalagi sanitasi dengan EM4
kandang kambingnya tak berbau dan tidak mengganggu lingkungan.’’Lalat aja ga
ada nih.’’tuturnya bangga.
Tak hanya itu, disetiap pertemuan KTNA dan
dinas peternakan baik itu tingkat kecamatan atau kabupaten, Matkadari tak
segan-segan membicarakan keberhasilannya memelihara ternak kambing dengan
menggunakan teknologi EM-4.
‘’Ada beberapa keuntungan yang sangat mencolok
jika beternak menggunakan teknologi EM-4. Pertama, ternak cepat besar,
rata-rata 4 kilogram perbulan rata-rata kenaikannya. Kedua bisa memangkas biaya
produksi, karena tidak setiap hari harus mencari pakan ternak (tenaga kerja).
Ketiga, ternak tidak mudah terserang penyakit (selalu sehat). Keempat, sangat
efektif untuk sanitasi sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar. Dan kelima
menghasilkan pupuk organik yang
berkualitas baik cair maupun padat,’’katanya.
Tak dipungkiri penggunaan teknologi Effective
Mikroorganisme untuk ternak kambing sangat memberikan manfaat. Seperti dialami
Matkadari ini, untuk siap dijual dipasaran tidak usah menunggu sampai 7 – 10
bulan tetapi cukup 3 bulan saja sudah siap dijual. ‘’Awalnya saya coba-coba
memelihara ternak kambing hanya 5 ekor, kemudian 30 ekor, 45 ekor dan terakhir
saya memiliki 75 ekor, mau sedikit atau banyak sama saja, pokoknya dengan EM4segalanya menjadi mudah,’’katanya bangga.
Untuk tahun depan,
Matkadari sudah menargetkan akan memelihara ternak kambing hingga mencapai 300
ekor.’’Saya akan buktikan kepada warga desa dan juga sekabupaten Temanggung,
beternak kambing bukan sesuatu yang sulit tetapi sesuatu yang menyenangkan
serta memberikan keuntungan yang sangat luar biasa.’’ Tetapi tentunya dengan menggunakan
teknologi EM-4. Jika dengan cara konvensional tentunya, akan menambah biaya
produksi,’’katanya.
Masyarakat di desa ini banyak yang beternak
kambing dan mereka sepertinya kewalahan mengurusinya karena harus mencari pakan
setiap hari dan biaya yang tinggi, sedang saya beternak kambing masih bisa
‘kongko-kongko’ dan menerima tamu., pokoknya
tidak membutuhkan waktu banyak
untuk mencari pakan dan biaya produksi
sangat minim sehingga saya masih bisa mengerjakan pekerjaan lain seperti
bercocok tanam dan lain sebagainya. Kuncinya itu cukup dengan menggunakan
teknologi EM4,’’katanya.
Dengan aplikasi EM-4 pada ternak kambing
ini, sekarang semakin banyak masyarakat
bahkan dinas-dinas peternakan Kabupaten Temanggung yang berminat menggunakan EM4
baik untuk pakan, minuman ternak, jamu ternak dan juga sanitasi. ‘’ Saya juga
memberikan penyuluhan ke peternak lain, tentang bagaimana aplikasi EM4 serta
kegunaannya. Dan Alhamdulillah,
masyarakat menyambut baik usaha
ini,”katanya bangga.
Kuncinya lanjut Matkadari, buktikan dulu kalau
hasilnya bagus, pasti masyarakat akan
mengikuti. Jadi tunggu apalagi !!! Beralihlah ke Teknologi EM4. Beternak
Kambing pasti menyenangkan.*
Langganan:
Postingan (Atom)







