Rabu, 01 Februari 2012

Forum EM Edisi I

EM Limbah
Solusi Atasi Limbah Industri
          Pengendalian pencemaran lingkungan merupakan bagian penting sebagai konsekwensi  dari kegiatan industrialisasi. Sebab, jika limbah tidak di treatment dengan baik akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dan EM Limbah merupakan solusi untuk atasi pengolahan limbah tersebut.

          Limbah merupakan permasalahan yang sering  dihadapi akibat proses industrialisasi. Limbah cair misalnya, banyak mengandung campuran bahan organik terdiri atas nitrogen, karbohidrat, lemak dan protein yang bersifat tidak tetap dan menjadi busuk. Selain itu, limbah juga mengandung bakteri pathogen sehingga membahayakan kesehatan manusia dan mencemari lingkungan.

          Karena itulah, perlu adanya penanganan limbah tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan dan keseimbangan ekosistem. Teknologi EM Limbah telah menjawab problematika ini karena mampu mengurai lemak yang terkumpul di ‘Grease trap’ sehingga larut bersama air limbah. Tak hanya itu EM Limbah juga mampu menurunkan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) sehingga air limbah yang telah diolah dapat dimanfaatkan kembali dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

Produk EM Pengolahan limbah merupakan kultur EM dengan konsep mutakhir dalam bidang mikrobiologi daur ulang limbah untuk memfermentasi limbah organik cair dan padat secara efektif.

 PT. Unitex  yang berada di jalan Tajur, Bogor Jawa Barat merupakan contoh pengolahan limbah yang mampu menurunkan kadar BOD dan COD sehingga pernah mendapatkan penghargaan ‘Sahwali Award’ untuk tingkat Asia Pasifik sebagai penghargaan terhadap pengusaha yang berwawasan lingkungan. Pada saat ini PT Unitex telah mendapatkan peringkat hijau pada penilaian Program Kali Bersih (Prokasih) yang dilakukan oleh Bapedal. 

Bagi perusahaan tekstil yang saat ini mampu mengelola limbah Bisa dilihat dari pembangun instalasi air limbah (IPAL) di atas tanah seluas 4000 m2. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan IPAL serta penyempurnaannya hingga tahun 1995 adalah sebesar 4 miliar. Dalam perkembangan selanjutnya IPAL terus mengalami perbaikan dan penambahan instalasi sejalan dengan peningkatan produksi. 

Kapasitas IPAL PT Unitex saat ini mampu mengelola limbah cair sebesar 5000 m3 per hari (maksimum). IPAL PT Unitex telah memberikan hasil yang memuaskan dalam mengelola limbah cair dari hasil produksinya. Hal ini ditunjukan dengan berhasilnya PT Unitex mendapat penghargaan Prokasih No. 1 di Indonesia pada tahun 1991 dan pialanya diserahkan langsung oleh  Presiden Soeharto di istana negara. 
Kepala Bagian Utility PT. Unitex, Maman Suherman menyatakan pengolahan limbah pabrik tekstil ini menggunakan methode fisika, kimia dan biologi yaitu menggunakan sistem koagulasi dan sedimentasi serta sistem lumpur aktif dan penambahan mikroba aktif (EM limbah)  untuk penanganan proses pengolahan air limbahnya. ‘’Hasil proses limbah ini cukup baik, sebelum kita buang kesungai Cibalok terlebih dulu diujikan pada ikan dan ternyata ikannya sehat dan dapat dikonsumsi dengan aman,’’kata Maman.

Maman juga menjelaskan, penggunaan EM4 dilakukan sebanyak 2000 liter perbulan. Dilakukan fermentasi sebanyak dua kali dalam seminggu.’’Dengan banyaknya ragam dan jenis mikroba aktif proses penjernihan lebih cepat,’’katanya.

Sementara itu, Kacab PT. Songgolangit Persada, Ir. Agoes Wibisana mengamini akan keefektifan EM Limbah dalam pengelolaan limbah secara biologi. Sebab, EM4 mengandung miroorganisme aktif yang mampu menurunkan kadar BOD dan COD, mengurangi bau tidak sedap yang disebabkan H2S, NHX, Methylmercaptan, Amoniak dan lainnya. ‘’Semua data penurunan kadar BOD dan COD dapat dilihat dari hasil Laboratorium Lingkungan Keairan yang secara berkala terus dipantau,’’katanya.

Hari hasil laboratorium dapat diketahui kadar  BOD-5 hanya 128 mg/l (inlet), 40 mg/l (outlet) sedang kadar maksimum yang ditetapkan pemerintah 60 mg/l. Begitu juga dengan COD, sekitar 106 mg/l outlet, ambang batas dari pemerintah 150 mg/l. Begitu juga dengan amoniak (NH3-N) 3,04 mg/l (inlet) dan 2,16 mg/l (outlet) sedang baku mutu limbah cair maksimum yang ditetapkan pemerintah 8.0 mg/l.      

Sebagaimana diketahui limbah yang dihasilkan itu mulai dari pemintalan (Spinning), pertenunan (Weaving), pencelupan (Dyeing Finishing). Bagian pemintalan adalah bagian dari produksi yang melakukan proses pembuatan benang dari bahan baku kapas dan polyester. Bagian pertenunan adalah bagian produksi yang melakukan proses pertenunan benang hingga menjadi kain. Akan tetapi kain yang dihasilkan oleh bagian pertenunan ini masih berupa kain mentah (Grey Cloth). Sedangkan bagian pencelupan adalah bagian yang melakukan proses pencelupan dan penyempurnaan dari kain mentah menjadi kain jadi (Finish Goods). ***


Salam Redaksi Edisi IV

Beternak Sapi Organik
Beternak sapi  telah  lama dikenal masyarakat. Namun sayangnya, usaha yang menjanjikan ini, sekedar usaha sampingan saja. Memang, walau memelihara sapi dikelola secara tradisional tetapi tetap memberikan hasil yang lumayan, apalagi jika pemeliharaannya ditingkatkan, sehingga pertambahan berat badan ternak mencapai hasil yang maksimal.
 Sebuah peluang usaha yang menggiurkan tentunya. Perlu diketahui, laju pertambahan penduduk yang terus meningkat serta untuk meningktakan gizi masyarakat Indonesia, sangat memerlukan tambahan konsumsi daging.
Karena itu, beternak sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dan sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani, peternak perlu meningkatkan produksi daging. Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Diharapkan Indonesia bisa berswasembada daging dan tidak perlu mengimpor.
Namun tentunya, usaha tersebut memerlukan teknologi tepat guna dengan biaya   murah. Apalagi peningkatan usaha peternakan sapi sebaiknya diarahkan agar meminimalkan penggunaan produk pakan kimiawi. Atau lebih jelasnya, peningkatan usaha peternak sapi perlu diarahkan ke peternakan sapi organik.
 Dengan potensi alam yang tersedia, pakan alami sangat mudah didapat. Dengan bioteknology yang tepat, limbah pertanian dapat diolah menjadi pakan berkualitas tinggi. Limbah yang difermentasi misalnya, kandungan gizi dan protein lebih tinggi, lebih mudah dicerna oleh ternak dan bisa disimpan dalam waktu satu bulan. Dengan bioteknology ini, juga menghasilkan pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Dengan bioteknology ini, persoalan sanitasi dan lingkungan dapat diatasi.
Melalui bioteknology, ternak sapi lebih sehat karena mampu menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak, walhasil bobot sapi akan terus bertambah dan memiliki keuntungan  yang lebih besar.
Karena itu,  produk teknology mikrobia yang berguna untuk membantu menaikan kadar protein bahan pakan sangat penting. Melalui MEDIA EM FORUM ini, peternak atau calon peternak sapi potong bisa termotivasi agar lebih serius menangani peternakan sapi organik.
Tentunya, dengan banyaknya usaha sapi di masyarakat, pemerintah  berharap masyarakat bisa memenuhi kebutuhan daging secara mandiri. Kenyataan saat ini, hampir 20 % dari kebutuhan daging sapi di Indonesia masih diimpor dari luar negeri.
Memang, swasembada daging tidak hanya terkait dengan ternak sapi. Esensinya, ke depan upaya peningkatan populasi dan produksi daging juga menyangkut berbagai jenis ternak lain seperti domba, kambing, kerbau, kelinci dan beragam ternak unggas yang produktif untuk dibudidayakan.
Tentunya, pembangunan peternakan bukan hanya urusannya Departemen Pertanian saja, tetapi juga menuntut kepedulian serta dukungan banyak pihak termasuk masyarakat, dengan perspektif selain tercukupinya kebutuhan protein hewani (daging - susu - telur) juga terbukanya lapangan kerja berkat berkembangnya usaha peternakan.**

Coloum Pak Oles edisi IV

Bisnis Sapi Organik
           
Petani dan peternak di Indonesia tidak bangga menjalani pekerjaannya, karena usahanya dikerjakan dalam skala kecil.  Usaha pertanian dan peternakan yang dijalankan dalam skala kecil adalah usaha yang walau dikerjakan serius tidak memberikan keuntungan yang berarti, bahkan jika dihitung secara matematika bisnis, usaha tersebut merugi.  Biasanya usaha pertanian dan peternakan saling menunjang.  Peternakan menghasilkan pupuk, tenaga dan daging.  Pertanian untuk menghasilkan bahan makanan dan pakan ternak.  Bagaimana caranya agar bisa meningkatkan keuntungan dalam usaha peternakan?  Jawabannya adalah tingkatkan produksinya, dengan meningkatkan jumlah ternak yang dipelihara, sesuai dengan kebutuhan pasar. 
      
  Usaha peternakan sapi dalam skala besar di Indonesia merupakan peluang yang memberikan harapan.  Bayangkan saja, konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia yang cukup rendah, sekitar 2 Kg pertahun, maka pertahunnya membutuhkan 440 juta Kg daging sapi, atau setara dengan 1,1 juta ekor.  Demikian juga kebutuhan susu yang belum terpenuhi.  Konsumsi susu masyarakat Indonesia per tahun terrendah di dunia, atau sekitar 7 liter per tahun, jika dibandingkan dengan masyarakat Malaysia dan Singapura, yaitu sekitar 24 liter per tahun.  Dengan kebutuhan yang minim tersebut, Indonesia baru bisa memproduksi 1,2 juta liter susu per hari, sehingga kekurangan lagi 1 juta liter susu per hari.  Kekurangan daging sapi dan susu masyarakat Indonesia dijawab secara instan dengan impor dari negara lain.  Tentu saja kita tidak mungkin terus bergantung dengan negara lain, karena harganya mahal, menguras devisa negara, tidak produktif dan mengurangi kesempatan kerja.  Hal ini harus dijawab oleh pemerintah dengan aksi nyata, bukan dengan debat, seminar atau workshop tentang bisnis sapi, yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan dan memenuhi permintaan pasar yang sudah jelas nampak di depan mata.  Kekurangan susu sapi dan daging sapi harus dijawab dengan beternak sapi perah dan sapi daging, dengan meningkatkan aktivitas peternakan secara nasional. Tindakan itu bisa dilakukan oleh pemerintah dengan membuat kebijakan dan membangun infrastruktur yang terarah dan terencana dengan baik, yang selanjutnya ditindak-lanjuti dengan aksi nyata oleh peternak kecil, menengah dan besar.
      
  Pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya, NTB dan NTT adalah tempat yang cocok untuk mengembangkan bisnis peternakan sapi.  Kondisi alam dan masyarakatnya mendukung untuk usaha tersebut.  Pasar susu dan daging di Indonesia masih terbuka luas.  Meningkatnya pendapatan masyarakat karena terbukanya lapangan kerja akan meningkatkan kebutuhan pasar daging dan susu.  Jika usaha bisnis peternakan sapi tersebut dikembangkan secara professional, maka secara keseluruhan akan menggerakkan ekonomi masyarakat.  Di lain pihak, limbah peternakan berupa kotoran hewan merupakan sumber pupuk organic, jika dikelola dengan baik akan bisa memasok kebutuhan pupuk organic, dan dalam jangka panjang akan mampu mengarahkan pembangunan pertanian menuju pertanian organic.
      
  Pembangunan peternakan dan pertanian tidak akan bisa besar jika tidak dilakukan dalam skala besar.  Semboyan small is beautifull mungkin tidak cocok diterapkan dalam bisnis ini, dan perlu diganti dengan big is beautifull.  Agar usaha peternakan dan pertanian bisa dilakukan dalam skala besar, maka harus dikuasai ilmu, teknologi, informasi dan menejemennya.  Kalau kita melongo dan rajin berbincang melihat peluang, maka jangan salahkan jika peluang yang ada dimanfaatkan oleh orang lain.  Keberanian dan keseriusan dalam menggarap pasar pertanian dan peternakan di negeri sendiri merupakan tantangan generasi sekarang.  Jika peternakan bisa dikembangkan dengan baik, maka pertanian organic juga akan berkembang.  Selanjutnya, bisnis peternakan organic juga terbuka di depan mata, untuk memenuhi kebutuhan pasar daging dan susu organic.  Ingat jurus bisnis adalah, siapa cepat dia dapat.  Siapa pintar dia dibayar.  Itu saja…!         Mari rebut kesempatan itu dengan gigih, mantap dan serius.  Serius …., gitu loh….!

Forum Utama Edisi IV

Beternak Sapi, Peluang Usaha Menjanjikan 

Saat ini, peluang usaha yang cukup terbuka di sektor peternakan. Salah satunya adalah usaha beternak sapi. Selama ini usaha ruminansia terbukti dan ke depan, memiliki   prosfek yang lebih terbuka dan memberikan keuntungan yang sangat lumayan. Pasalnya, hampir setiap tahun, Indonesia  membutuhkan daging selalu meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan kebutuhan gizi masyarakat. Belum lagi untuk kebutuhan pesta, hari raya, qurban dan lain-lain.  Apalagi pemerintah mencanangkan swasembada daging pada tahun 2010.
Kebutuhan daging sapi nasional diproyeksikan oleh Deptan, sebanyak 411 ribu ton pada 2008, meningkat menjadi 426 ribu ton pada 2009 dan pada 2010 sebanyak 441 ribu ton yang dipenuhi cukup besar dari impor.
Menurut Mentan Anton Apriyantono, diperkirakan penyediaan daging sapi pada 2010, 31 persen masih diimpor dan hanya 69 persen atau 303 ribu ton dari dalam negeri, karena itu pemerintah mencanangkan program percepatan pencapaian swasembada daging sapi agar hanya 10 persen saja daging sapi yang diimpor.
Pencanangan itu dipicu oleh belum mandirinya bangsa ini, dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dagingnya sendiri. Hampir setiap tahun, untuk memasok demand, Indonesia masih harus mengimpor sapi 450.000 ekor sapi, dari Australia dan Selandia Baru.
Di sisi lain, pemerintah ditugaskan untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan warganya, sesuai dengan aturan  PP No.68/ 2002 bahwa, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tecermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Namun, tugas pemerintah menjadi berat. Pasalnya, untuk memasok kebutuhan daging warganya, produksi daging di tanah air belum mampu dilakukan secara swasembada.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan terlihat, neraca produksi daging sapi nasional pada 2008 lalu diperkirakan hanya memenuhi 64,9% dari proyeksi kebutuhan konsumsi sepanjang tahun itu atau masih ada kekurangan 135.110 ton (35,1%) dari total kebutuhan daging.  Dengan populasi 11,26 juta ekor produksi daging sapi nasional diperkirakan mencapai 249.925 ton dengan kebutuhan konsumsi daging diperkirakan mencapai 385.035 ton.
Indonesia dengan jumlah penduduk di atas 220 juta jiwa membutuhkan pasok daging yang besar. Peternakan domestik belum mampu memenuhi permintaan daging dari warganya. Timpangnya antara pasokan dan permintaan, ternyata masih tinggi Tidak mengherankan, lembaga yang memiliki otoritas tertinggi dalam hal pertanian termasuk peternakan, Deptan, mengakui masalah utama usaha sapi potong di Indonesia terletak pada suplay yang selalu mengalami kekurangan setiap tahunnya
Sementara laju pertumbuhan konsumsi dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju peningkatan populasi sapi potong dan pada gilirannya memaksa Indonesai selalu melakukan impor baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging dan jeroan sapi.
Dan tentunya, Indonesia tidak bisa menghindari diri dari keharusan impor di tengah kekurangan. Jika hanya mengandalkan pasokan, saat kebutuhan naik dari kondisi normal, harga akan melambung. Kini, pasokan daging Indonesia dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada. Terbanyak dari Australia dan Selandia Baru, karena lebih dekat dan harganya lebih murah. Persoalannya, bagaimana jika permintaan naik dan negara pemasok mengalami kekurangan pasokan juga? Pasti kewalahan juga.
Direktur Budidaya Ternak Ruminansia dari Direktorat Jenderal Peternakaan Departemen Pertanian RI Ir Fauzi Luthan menyatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan, diantaranya melakukan penyuluhan dan pembimbingan kepada peternak, menyiapkan inseminasi buatan yang lebih baik dan melakukana penangangan kesehatan terhadap gangguan reproduksi ternak.
“Yang terjadi selama ini, program inseminasi buatan yang dianggap kurang berhasil, padahal ternaknya yang kurang siap dengan adanya gangguan reproduksi,” katanya.
Maka dari itu, kata Fauzan, Deptan setidaknya masih membutuhkan sebanyak 10 ribu tenaga penyuluh pertanian kontrak termasuk di dalamnya tenaga peternakan yang difokuskan pada daerah sentra sapi potong dan sapi perah.
‘’Sejak tahun lalu, kita sudah menerapkan program percepatan di daerah–daerah yang memiliki induk populasi ternak dalam jumlah besar, ini yang kita push (dorong) peningkatan kelahirannya dengan cara meningkatakan jumlah bantuan pejantan unggul, inseminasi buatan, dan penanganan kesehatan reproduksi,” tandasnya
Mulai berkembang sistem lain yakni ternak sapi potong berskala rumah tangga yang menggunakan cara konvensional sehingga memudahkan sebuah rumah tangga mengembangkan usaha ternak sapi potong ini
Sistem ini dikembangkan karena ternak sapi potong dipandang sebagai bentuk usaha yang dapat memberikan tambahan pendapatan kepada para peternak kecil skala rumah tangga tersebut sekaligus mengangkat masyarakat ekonomi lemah.
Ternak sapi potong berskala rumah tangga tersebut sangat ekonomis, baik dari sisi biaya pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena berskala kecil, pembuatan kandang biasanya berbentuk tunggal
Ternak sapi potong berskala rumah tangga tersebut sangat ekonomis, baik dari sisi biaya pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena berskala kecil, pembuatan kandang biasanya berbentuk tunggal Sistem budi daya ternak sapi berskala rumah tangga ini penerapan sistem ini mampu mendorong pendapatan sebuah rumah tangga hingga berlipat
Pemerintah mendorong mengembangkan sapi potong kepada para peternak kecil berskala rumah tangga karena mampu memberikan tambahan pendapatan kepada pengusaha kecil di daerahnya.*

Forum EM Edisi IV

Mudahnya Beternak Sapi Dengan EM4

Banyak manfaat beternak sapi dengan menggunakan teknologi EM4, selain mudah merawatnya, hemat pakan, ternak tak mudah terserang penyakit,, ramah lingkungan, terpenting peternak bisa menjual ternak dengan harga mahal karena ternak memiliki bobot tubuh lebih besar. Dan yang pasti lebih mahal harganya.
‘’Jangankan bau, lalat saja sulit dicari,’’kata Azhari peternak sapi asal Desa Cihike Kecamatan Bangbulang Kabupaten Garut (sekitar 70 km2 dari Kota Garut dan ke arah laut Pamempeuk sekitar 40 Km2) .
Menurut Azhari, dirinya enjoy beternak sapi, karena masih bisa mengerjakan pekerjaan lain, seperti berkebun dan bertani .’’ Kebutuhan pupuk bokashi, bisa langsung dimanfaatkan untuk pertanian dari hasil beternak sapi ini,’’katanya.
Memang diakui Azhari, EM4 membuat ternak lebih sehat dan gemuk. Produksi susunya lebih meningkat (sapi perah), biaya produksi dan perawatan bisa ditekan. Dapat mengatasi masalah lingkungan (limbah tidak berbau) dan menghasilkan pupuk kandang berkualitas (bokashi).
Tak dipungkiri, penggunaan EM-4 untuk ternak sapi lebih menguntungkan dan banyak memberikan manfaat khususnya bagi kesehatan ternak. Walhasil, dengan keunggulan menggunakan EM-4, ternak Ashari menjadi percontohan bagi masyarakat sekitar yang ingin menggunakan teknologi EM4 ini. Bahkan, karena sapinya yang sehat dan gemuk, ternaknya diperlombakan ditingkat kecamatan Bangbulang Garut.
EM4 Peternakan merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan untuk pertumbuhan dan produksi ternak dengan cirri-ciri berbau asam manis. EM4 Peternakan mampu memperbaiki jasad renik didalam saluran pencernaan ternak sehingga kesehatan ternak akan meningkat, tidak mudah stress dan bau kotoran akan berkurang. Pemberian EM4 Peternakan pada pakan dan minum ternak, akan meningkatkan nafsu makan karena aroma asam manis yang ditimbulkan. EM4 peternakan tidak mengandung bahan kimia sehingga aman bagi ternak.
Memang Ashari merasakan betul manfaat setelah menggunakan EM4. menurutnya sebelum menggunakan EM4, biaya produksi cukup tinggi karena mencari pakannya setiap hari. Belum lagi biaya tenaga kerjanya. Untuk satu ekor saja kebutuhan pakan bisa mencapai 10 - 20 kg sehari. Dan pertumbuhan sapi-nyapun  lamban, biasaya 6 bulan ke atas pertumbuhannya baru bisa kelihatan.
Disamping itu sebelum menggunakan EM, ternak sering terkena penyakit seperti cacingan, mencret-mencret serta gatal-gatal. Karena pengaruh bau kotoran sehingga mengundang hama dan lalat untuk datang ke kandang tersebut. Namun sejak menggunakan EM-4 beternak sapi menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak memakan waktu untuk pemberian pakan. Pertumbuhan sangat cepat,  3 bulan saja sapi sudah gemuk, kandang tidak berbau dan hasil produksi susunya lebih meningkat dan aroma susunya  tidak berbau amis.
‘’Orang-orang disini banyak yang beternak sapi dan mereka sepertinya kewalahan mengurusinya karena harus mencari pakan setiap hari dan biaya yang tinggi, sedang saya beternak sapi menjadi sesuatu yang menyenangkan, tidak membutuhkan waktu  banyak untuk mencari pakan dan biaya produksi  sangat minim sehingga saya masih bisa mengerjakan pekerjaan lain seperti bercocok tanam dan lain sebagainya. Kuncinya itu cukup dengan menggunakan teknologi Effektif Mikroorganisme (EM-4),’’kata Ashari. 
Buktinya apa pakan bisa irit dan tidak memakan waktu banyak? Ashari dengan enteng menjelaskan bahwa ia hanya memcari pakan sekali dalam waktu 6 bulan (semusim). Jadi satu musim panen itu, jerami-jerami sisa-sisa pertanian yang dibuang petani dikumpulkan dan difermentasi sehingga pakan tersebut awet untuk waktu lama. ‘’Asal kita punya tong-tong  yang banyak untuk tempat fermentasi untuk  stok satu tahun  bisa dan pakan yang sudah difermentasi itu semakin lama semakin harum sehingga ternakpun akan semakin suka memakannya.,’’katanya.
Sedang caranya, untuk pembuatan 1000 kg persiapkan dulu alat-alat untuk fermentasi seperti tong plastik, bak semen, kantong plastik, ember, alat cingcang (golok) dan hand spayer. Sedang  bahan-bahan yang dibutuhkan Em-4 sebanyak 1 liter, Molase atau Gula Merah : 0.5 Kg, Air : 100 lt, Dedak halus : 10% dari bahan dan rumput atau jerami 1000 kg. 
Cara menbuatnya, larutkan cairan EM-4 sebanyak 1 liter dan larutkan gula merah yang telah diencerkan ke dalam tong plastik yang berisi air 100 liter. Lalu aduk kemudian diamkan selama dua hari sampai mengeluarkan aroma nira atau wedang. Ambilah campuran bahan baku pakan (jerami, rumput)sebanyak 1000 kg yang telah dicinjang (5-10 cm) dan turunkan kadar airnya atau layukan. Taburkan dedak lalu semprotkan larutan EM-4 dengan hand spayer sambil aduk-aduk sampai rata dengan kadar air 30%. Jika sudah rata masukkan bahan dalam wadah atau tempat fermentasi padatkan dengan gacok sampai betul-betul padat lalu tutup rapat jangan sampai ada udara masuk atau hampa udara selama 5 hari. Maka itu pakan bisa digunakan.
Dengan proses fermentasi ini biaya pakan menurut Ashari sangat irt yakni sekitar Rp. 5000 perhari dengan rincian jerami bisa dihargai 100 rupaiah perkilo, biaya pembuatan hanya 50 rupaih perhari jadi untuk pakan hanya 150 perkilo. Kalau sehari satu sapi makan 20 kilo maka biayanya 3000 rupiah. Sedang yang 1000 rupiah untuk biaya makanan penguat seperti dedak, ampas tahu dan lain-lain dan 1000 lagi untuk biaya perawatan. Maka kalau di total sekitar sekitar 5000 rupiah.
            ‘’Sedang saya menjual susu sisa konsumsi keluarga saya sehari 10 liter  x Rp. 3000/liter = Rp30.000 perhari. Kalau  dipotong biaya produksi Rp. 5000 jadi tinggal 25.000 rupiah. Dan ternyata saya juga masih mendapat ke untungan dengan memanfaatkan kotoran sapi menjadi bokashi untuk tanaman,’’jelasnya.
            Dengan aplikasi EM-4 pada ternak dengan keuntungan diatas, Ashari dapat memberikan ilmunya kepada peternak lain. ‘’Ya. Saya juga memberikan penyuluhan ke peternak lain di pesantren-pesantren bagaimana aplikasi EM4 untuk ternak ini dan masyarakat menyambut baik usaha saya ini dan bahkan mereka dapat melihat langsung ternak saya sehingga mereka benar-benar yakin akan keunggulan dari EM4 dari PT. Songgolangit Persada,”katanya bangga.*

Forum Usaha Edisi IV


Usaha Penggemukan Ayam Potong
Beternak ayam potong (pedaging), memiliki prospek yang cukup cerah pada masa sekarang ini, dilihat dari kebutuhan akan daging untuk konsumsi di Indonesia cukup besar. Apalagi dalam menghadapi hari raya seperti hari raya idul fitri, natal dan tahun baru.
Peluang bisnis ayam potong  ini tentu saja sangat menggiurkan, akan tetapi didalam berusaha tersebut, peternak harus dapat mengantisipasi persoalan-persoalan yang muncul dalam masa pemeliharaan.
Seperti yang dialami Heru, peternak ayam potong dari Desa  Bagorejo, Banyuwangi, walau bisnis ayam potong sangat menguntungkan tetapi kalau tidak bisa merawat dan menjaganya dari penyakit, bukan keuntungan yang di dapat tetapi kerugian.
Dilihat dari pengalaman, Heru yang sudah menggeluti bisnis ayam potong selama 15 tahun ini terbilang cukup berhasil. ‘’Namun sekarang ini, saya hanya mengelola penggemukan saja selama 1 - 2 minggu selanjutnya siap dijual’’katanya.
Menurutnya, sekarang ini  banyak sekali bisnis ayam potong di Banyuwangi. Karena mahalnya pakan, atau mengganasnya gangguan penyakit, peternak banyak yang menjual ayam muda, atau bibit yang baru dirawat selama 2 minggu. ‘’Bibit-bibit yang masih 2 minggu itu saya beli dan saya gemukan di sini sehingga siap dilempar ke pasaran,’’katanya.
Memang dalam masa penggemukan, kebutuhan pakan yang paling utama. Konsentrasi penggemukan memang pada pemberian pakan yang bermutu. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari tinggi. ‘’Pada saat itu ayam memiliki berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
Pada masa penggemukan ini,, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur siap jual antara 30 – 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
Untuk mengatasi penyakit, Heru tak pernah khawatir, sejak pria yang juga senang bertani ini, selalu menggunakan EM4 baik untuk minum, disemprotkan pakan serta untuk sanitasi sehingga tidak menimbulkan bau. ‘’Dengan menggunakan EM4, ayam terlihat lebih sehat, mencegah stress dan menghasilkan pupuk kandang yang prima,’’jelasnya.
 Menurut Heru, sejak menggunakan EM4, berbagai penyakit yang sangat ditakuti peternak seperti Tetelo, Ngorok, Berak Kapur, bahkan yang paling sadis flu burung, belum pernah terjadi. ‘’Mudah-mudahan tidak terjadi, kalau kesehatan ayam ternak selalu terjaga,’’katanya.
Biasanya kematian ternak dapat terjadi pada hari ke-4 setelah terinfeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Dan yang paling efektif dalam perbaikan sanitasi adalah, dengan menggunakan EM4, karena dapat memfermentasi kotoran ternak menjadi senyawa organik  yang bermanfaat. Carannya, campurkan larutan EM4 dan Molase atau gula dengan air, dengan perbandingan 1 : 1 : 100, kemudian didiamkan selama dua hari agar terjadi proses fermentasi. Kemudian semprotkan larutan tersebut pada kandang ternak dengan dosis 1 – 2 liter permeter persegi luasan kandang.  
 Dan yang paling menarik menggunakan EM4, ayam - ayam petelur yang tidak produktif kembali bertelur. Hal ini karena EM4 mampu menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak. ‘’ Ini membuktikan kesehatan ayam terjaga dengan baik dengan menggunakan probiotik seperti EM4,’’jelas Heru.
Untuk penggunaan EM4 pada pakan, cukup larutkan EM4 sebanyak 1-2 cc ke dalam 1 sampai 1.5 liter air, lalu semprotkan pada pakan ternak yang akan diberikan. Bisa juga menggunakan EM Bokashi pakan dapat dicampurkan dengan dedak, konsentrat dan jagung, dengan perbandingan 10 bagian EM Bokashi ditambah 10 bagian dedak dan ditambah 2 bagian konsentrat dan 2 bagian jagung. Untuk air minum ternak, EM4 sebanyak 1 -2 cc ke dalam 1 sampai 1.5 liter air, diberikan setiap hari.
Sedang untuk limbah ternak, campurkan larutan EM4 dan molase atau gula dengan air, dengan perbandingan 1 : 1 : 100, kemudian didiamkan selama  dua hari agar terjadi proses fermentasi. Larutan tersebut dapat disemprotkan pada limbah ternak dengan kapasitas limbah 1 ton.
Limbah yang telah difermentasi tersebut untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan organik bermanfaat untuk pertanian sebagai pupuk organik maupun pakan ternak.***

EM CONER Edisi IV




Cabai Rimbun Berkat EM4
Memang bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah  dan resiko, diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan serangan penyakit, dan lain-lain. EM4 berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas dan  berkualitas.
Budidaya tanaman cabai dengan  teknologi EM4, cukup mendapat respon masyarakat Desa Ranca Bango, Kecamatan Tarogong Kaler Garut cukup tinggi. Setidaknya EM4 menjadi rujukan para petani di desa tersebut.
‘’Tinggal bagaimana meyakinkan dan menyadarkan petani agar beralih ke  pertanian organik serta tidak bergantung kepada pertanian konfensional yakni dengan menggunakan pupuk kimia,’’jelas Marketing PT. Songgolangit untuk wilayah Garut, jelas Kepala Cabang Jakarta PT. Songgolangit, Agoes Wibisana.
Menurut Agoes, sebenarnya masyarakat sudah tidak asing lagi dengan teknologi EM4, namun untuk merubah kebiasaaan petani yang selalu menggunakan pupuk kimia,  sangat sukar sekali. ‘’Mudah-mudahan dengan demplot di tanah milik Pak Ating ini, petani lebih yakin dengan manfaat EM4 bagi pertanian,’’katanya.  
Memang kalau diamati demplot EM4  tanaman sayuran milik Ating Djuanda (50) cukup melegakan hati. Pasalnya, cabai  yang sudah siap panen cukup besar-benar, segar-segar dan hasilnya cukup berlimpah.
Padahal tanaman cabai di luas tanah sebanyak  100 tumbak atau sama dengan 400 m2 ini, di musim hujan seperti sekarang ini sangat riskan sekali. Pasalnya, selain buah cabai bisa rontok, juga mudah terserang hama buah. Namun demplot  yang berada di pinggir jalan ranco bango ini tetap baik dan segar-segar.
‘’Dengan keberhasilan domplot ini mudah-mudahan petani di kecamatan Tarogong Kaler ini bisa melihat dan belajar langsung, bagaimana EM4 di aplikasikan pada tanaman cabe tersebut,’’katanya.
Keberhasilan demplot cabai dengan fermentator EM4 ini sangat direspon petani Apalagi kata Ating, EM4 adalah pupuk organik yang dianjurkan pemerintah untuk meninggalkan pupuk kimia secara bertahap dan beralih ke pupuk organik yang ramah terhadap lingkungan.
Hasil cabai itu pun langsung dipasarkan Ating di kios sayuran Kramat Jati Jakarta Timur   dan Cibitung Tanggerang.’’Kita memang memiliki kios sayuran di pasar Keramat Jati dan Cibitung sehingga petani di daerah sini dapat menjual hasil kebunnya kepada kami,’’katanya.*  
Dengan EM4

Pertumbuhan Padi Lebih Subur
Bukan sekedar omongan belaka, tapi bukti nyata, budidaya padi dengan menggunakan EM4 menghasilkan pertumbuhan padi yang cukup prima (lebih subur) dan tahan terhadap serangan penyakit.
Seperti diakui Aji  di Desa Lundengan, Kecamatan Wuluan, Jember Jawa Timur, Padi milik Pak Kunto yang dirawatnya seluar 9 hektar lebih subur dibandingkan dengan padi yang hanya menggunakan pupuk kimia.  Memang diakui, budidaya padi masih menggunakan sistem semi organik, belum seratus persen organik.
Namun dengan sistem semi organik, sudah dapat menghemat pupuk kimia sebanyak 50 persen. ‘’ Dosis kimia akan terus dikurangi, tergantung materi organik yang diberikan sehingga kami harapkan dimusim-musim tanam kedepan  bisa  full organik,’’katanya.
Menurut Aji, penggunaan urea perhektar bisa mencapi 200 kg atau sama dengan 3 – 4 kwintal. TSP sekitar 50 kg, dan KCL sekitar 50 kg. ‘’Dengan menggunakan EM4, pupuk urea bisa hanya 50 kg, TSP hanya 25 kg dan KCL hanya 25 kg.  Dan EM4 hanya membutuhkan sekitar 6 – 8 liter saja dalam satu musim tanam selama 3 bulan dalam satu hektar,’’katanya.
Memag EM4 mampu menyuburkan tanaman, hal ini disebabkan karena EM4 tanah dapat meningkatkan ketersediaan kandungan nutrisi  yang dapat diserap oleh perakaran tanaman. Mikroorganisme yang menguntungkan dalam EM4, dapat menyuburkan tanah melalui menyediaan nitrogen bagi tanaman kurang lebih 30%, meningkatkan serapan P tanah dan melarutkan fosfat. Selain itu, mikroorganisme yang berasal dari EM4 juga dapat menghasilkan asam-asam organik yang mampu bereaksi melarutkan meneral-mineral tanah.
‘’Yang jelas, EM4 itu mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah persawahan sehingga tanaman padi bertambah subur dan mampu meningkatkan produktifitas,’’kata Ali  marketing PT. Songgolangit Cabang Surabaya.**