Rabu, 01 Februari 2012

Salam Redaksi edisi III

Teknologi  Murah Bagi Petani
Dewasa ini, sebagian besar lahan pertanian diberbagai wilayah Indonesia  (terutama Pulau Jawa) banyak mengalami kerusakan, menurut data litbang Departemen Pertanian, carbon atau C organik sudah berada di bawah 1%. Kondisi ini, sangat memprihatinkan. Karena itu, petani sangat bergantung sekali dengan pupuk kimia untuk mempertahankan produksi hasil pertaniannya. 

Namun sayangnya, pupuk sedang langka sekarang ini, pupuk yang disubsidi pemerintah menjadi rebutan petani. ‘’Tak ada pupuk, tak bisa menanam,’’begitu keluh petani. Bahkan untuk meningkatkan atau minimal menghasilkan produsi yang sama dengan panen sebelumnya, dosis pengunaan pupuk kimia harus ditambah.

Di Indonesia, pada awal sistim bimas diperkenalkan,  dosis pemupukan tanaman padi hanya sekitar 50 - 70 Kg per hektar, dalam rentang waktu 25 tahun terjadi peningkatan dosis pupuk 17 - 24 kali lipat. Kebutuhan pemupukan (Urea, TSP, NPK dan KCL) untuk tanaman padi saat ini, telah mencapai dosis total lebih dari 1.200 Kg per hektar. 

Intensitas pemakaian bahan - bahan kimia dalam intensifikasi lahan  baik sebagai pupuk, dan pestisida, telah terbukti meningkat dari waktu ke waktu. Pengunaan bahan - bahan kimia tersebut memang memberikan peningkatan hasil panen yang signifikan dibanding sebelumnya, sehingga dalam waktu singkat penggunaan bahan-bahan kimia menjadi sangat populer terutama di daerah - daerah pertanian dan per kebunan.
Salah satu dampak negatif intensifikasi lahan pertanian dan perkebunan dengan pengunaan bahan - bahan kimia terhadap ekosistem tanah adalah, pengerasan struktur tanah, tanah kehilangan materi organik, dan kontaminasi logam berat. Tak hanya itu, jasad remik yang ada di dalam tanah menjadi mati. 

Untuk membangun masyarakat desa yang mandiri,  perlu dikembangkan suatu teknologi yang mudah, murah, tepat, dan aman untuk jangka panjang. Yakni, aplikasi teknologi yang mampu menciptakan dan menjaga keseimbangan alami secara ekologis dalam usaha pertanian yang mampu meningkatkan daya dukung lingkungan dan memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman agar dapat berproduksi maksimal melalui pemberian input yang optimal ke dalam lingkungan tempat tumbuh tanaman. Teknologi semacam ini adalah teknologi pertanian organik yang bekerja secara terpadu dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman secara bersamaan

Tak dipungkiri, model pertanian organik dinilai lebih efisien, bernilai ekonomis tinggi, produknya pun aman dikonsumsi masyarakat, dan ramah lingkungan. Para pakar pertanian menilai, sistem pertanian organik menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pangan dan lingkungan. 
Jika saja, model pertanian organik ini dikembangkan menurut teknik yang tepat, secara ekonomis dapat berkembang, secara kultur pun dapat diterima. Tak hanya itu, sekarang ini pertanian organik dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi kelangkaan pupuk dan ketergantungan petani terhadap input pertanian. Petani sering gagal panen karena tidak mendapat pasokan pupuk, padahal banyak alternatif yang dapat dilakukan sebagai pengganti pupuk kimia.

Dalam dunia pertanian, tanah merupakan bagian terpenting dari proses budidaya pertanian. Tanah yang sehat dan subur akan menjadi tempat tumbuh ideal bagi tanaman. Agar usaha pertanian bisa berkelanjutan, perlu adanya pengelolaan tanah yang baik.
Menghentikan kecenderungan negatif ini, tidak bisa dilakukan hanya dengan memberi pupuk pada tanah. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa sebenarnya yang ‘’diberi makan’’ adalah tanahnya, bukan tanamannya. 

Menjaga kesuburan tanah tak hanya sekadar memperhatikan komposisi unsur-unsur kimia (yang menjadi nutrisi bagi tanaman) di dalam tanah. Lebih dari itu, perlu memperhatikan mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Makhluk renik ini sangat penting keberadaannya. Karena membantu ‘’kehidupan’’  tanah. Mereka membantu proses pelapukan yang menambahkan materi organik ke dalam tanah. Selain menyuburkan, materi organik memperbaiki komposisi air dan udara di dalam tanah. Ini  membuat tanah memiliki struktur dan tekstur yang baik untuk perakaran tanaman. 

Memperbaiki dan memelihara tanah yang ‘’hidup dan subur’’ bisa dilakukan melalui sejumlah teknik pertanian. Misalnya menggunakan sistem tumpang sari, tanaman gilir, penambahan mulsa, menerapkan strategi Tanpa Olah Tanah (TOT) atau melakukan pengomposan  (bokashi) dan daur ulang sumber daya yang  ada di lahan. Seluruh upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kandungan bahan organik di dalam tanah akan membantu tanah menjadi produktif dan OLES (Organik Lestari dan Sehat). 

Dan  Media EM FORUM hadir membawa inovasi baru untuk mengembalikan kesuburan tanah, menjaga lingkungan, mengajarkan ber-ahklak dengan alam raya dan hidup sehat bersama komoditi organik.

Salam
EM FORUM

Salam Redaksi Edisi V

Mengolah Sampah Rumah Tangga

Sampah rumah tangga memang klihatnnya sepele, tapi jangan salah, sampah rumah tangga ini penyumbang terbesar sampah yang menggunung di tempat pembuangan sampah. Seperti di ketahui, untuk wilayah Jakarta saja, setiap hari mengirim 6000 ton sampah ke Tempat Pengiriman Sampah Terpadu Bantar Gebang Bekasi.
Volume produksi sampah  yang besar ini, melebihi kemampuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengolahnya. Untuk itu, sangat diperlukan partisipasi warga masyarakat agar masalah sampah yang tak pernah putus ini, dikit demi sedikit bisa tertangani.
Perlu dicermati, perilaku warga seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, di jalan di sungai dan di tempat lain masih sulit diubah. Berbagai slogan, larangan edukasi ke warga tak henti dilakukan. Namun karena prilaku jelek ini sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit diubah.
Walhasil, masalah sampah rasanya tidak kunjung bisa diselesaikan dengan tuntas. Meskipun sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, LSM yang cinta lingkungan dan lembaga lain yang peduli dengan masalah sampah
Sampai sekarang ini, sampah tetap saja terlihat menumpuk di mana-mana. Masyarakat masih suka membuang sampah sembarangan. Tempat sampah khusus sudah disediakan, misalnya tempat sampah bahan organik,  sampah khusus plastik, dan tempat sampah khusus logam. Anehnya tempat sampah itu sepertinya tidak berfungsi. Tempat sampah organik isinya plastik, sandal, dan sampah-sampah lain campur jadi satu.
Karena itu, masalah sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah khusus saja. Penyelesaian masalah sampah sebaiknya dimulai dari tingkat yang paling rendah yakni penghasil sampah. Cara praktis mengelola sampah rumah tangga itu merupakan alternatif yang mudah bagi warga kota-kota besar dan bermanfaat bagi dunia pertanian.
Dari mengolah sampah sendiri secara bertahap diharapkan terjadi perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan. Masyarakat tidak membuang sampah di selokan atau saluran air. Masyarakat membuang sampah pada tempatnya.
Masyarakat tidak lagi membakar sampah. Dan yang lebih penting muncul ’social control’ dari masyarakat itu sendiri untuk mengelola sampah dengan baik. Misalnya saja ada semacam hukuman sosial jika ada orang yang membuang sampah sembarangan. Atau orang akan menegur orang lain yang membuang sampah sembarangan. Lebih jauh lagi, orang malu dan takut membuang sampah sembarangan.
Cara terbaik mengatasi masalah sampah adalah mengolah sampahnya masing-masing (sampah rumah tangga). Lalu bagaimana mengolah dengan praktis, tentunya dengan teknologi daur ulang sampah yang efektif menggunakan bakteri pengurai yang ramah lingkungan dan terjangkau di masyartakat sambil menciptakan sistem edukasi yang tepat bagi masyarakat.
Justru pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat, dan menyelesaikan sampah sejak dari rumah, sudah bisa memutus mata rantai masalah sampah di perkotaan. Tak ada salahnya kalau masyarakat kota bergerak sendiri untuk mengolah sampahnya sendiri. Maka, marilah beramai-ramai mengelola sampah sendiri.#



Coloum Pak Oles Edisi V

MENGELOLA SAMPAH ADALAH TUGAS KITA BERSAMA
 
Setiap orang, keluarga, unit usaha, industri, masyarakat dan sebagian besar aktivitasnya selalu menghasilkan sampah.  Untuk lebih halusnya sampah disebut limbah.  Produk buangan dari hasil proses menghasilkan sesuatu disebut sampah atau limbah.  Limbah itu harus dikelola dengan baik agar tidak merusak lingkungan dan kehidupan.  Tempat mengelola limbah juga harus terisolir dalam area tertentu  agar tidak bercampur dengan area yang bersih.  Limbah juga harus dipilah antara yang beracun dengan yang tidak beracun, antara yang organik dengan yang anorganik.  Limbah dapur dipisahkan sendiri, demikian juga limbah kaleng, kaca, besi, plastik semuanya dipisah-pisahkan agar gampang mengelolanya.
 
Siapa yang bertanggung jawab terhadap masalah sampah?  Jawabannya adalah masing-masing orang atau kelompok orang yang menghasilkan sampah itulah yang bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri.  Pemerintah mengelolanya dengan membuat peraturan dan menyediakan infrastruktur pengelolaan sampah.  Masing-masing orang, keluarga, unit usaha, pabrik, tempat fasilitas umum, perkantoran, sekolah, rumah sakit, semuanya harus bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.  Dalam skala yang lebih besar pemerintah harus memiliki rancangan besar tentang pengelolaan sampah di daerahnya, dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi.  Rancangan besar ini mencakup penentuan lokasi, luas area, pengangkutan, teknologi pengolahan, sistim daur ulang dan pembiayaan.
 
Masalahnya sekarang adalah masing-masing orang, kelompok orang, organisasi, industri dan pengelola fasilitas umum belum maksimal  bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.  Semuanya lempar batu sembunyi tangan.  Contohnya?  Dari kebiasaan masyarakat yang masih suka membuang sampah sembarangan, merokok dan membuang puntung rokok sembarangan, jalan raya yang kotor, jalan kecil dan gang yang jorok, selokan yang tidak terawat, tempat fasilitas umum yang berbau parfum pesing dan sengak, sampah pasar yang berserakan, pertokoan dan mall yang tidak menyesuaikan jumlah toilet dengan jumlah pengunjungnya, pemulung yang berkeliaran merobek dan mengais sampah yang sudah dibungkus, sampah rumah tangga yang dicampur-campur, semuanya itu membuat kita pusing sendiri.  Ditambah lagi dengan ketidak seriusan pemerintah dalam menangani sampah, sehingga sampah itu merupakan beban besar yang tidak bisa ditangani dengan baik.
 
Apa akibatnya jika sampah tidak dikelola dengan baik?  Fatal!  Pertama, kesehatan masyarakat terganggu, masyarakat bisa sakit dan biaya pengobatan sangat mahal yang harus ditanggung oleh masyarakat itu sendiri dan juga oleh negara.  Kedua, investasi menurun.  Sedikit orang atau pengusaha yang mau berinvestasi di daerah jorok dan kumuh, sehingga perputaran ekonomi menjadi lambat,  lapangan pekerjaan sedikit.  Perkembangan dan pembangunan  daerah menjadi lambat.   Ketiga, daerah jorok dan kumuh merupakan sarang tindak kriminal, kekerasan dan prostitusi.  Keempat, daerah jorok dan kumuh mencerminkan kehidupan masyarakat dan kehidupan pemerintahnya juga jorok dan kumuh.  Oleh karena itu penting sekali dilakukan pengelolaan sampah yang baik, yang terpadu dengan teknologi yang tepat dan efisien, sehingga memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.
 
Dari mana dan kapan memulainya?  Dari diri sendiri dan sekarang.  Masing-masing dari kita harus memiliki komitmen untuk mengelola sampah yang kita hasilkan secara serius.  Masing-masing orang harus memiliki rasa malu untuk jorok dan takut untuk sakit akibat sampah yang tidak dikelola dengan baik.  Pemerintah harus membuat peraturan daerah yang tepat dan bermanfaat untuk mengelola sampah masyarakatnya.  Pemerintah harus serius memikirkan dan merancang gambaran besar pengelolaan sampah daerahnya sendiri.  Pemerintah harus kreatif, inovatif mencari solusi pengelolaan sampah baik dalam jangka pendek, maupan jangka panjang.  Kita semua harus bersatu padu memikirkan dan menyelesaikan pengelolaan sampah dengan baik.  Jangan setengah-setengah, jangan sendiri-sendiri.  Masalah sampah bisa diselesaikan jika kita serius, sinergis dan kontinyu.  Selamat bekerja, semoga sukses. @ 
 

Forum Utama Edisi V


Sulitkah Mengolah Sampah?
Banyak yang beranggapan, sampah merupakan bahan buangan yang tak berharga. Padahal, sampah sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik yang berguna bagi tanaman dan memiliki nilai ekonomis jika dikelola secara baik.

Tak hanya itu, dengan mengolah sampah secara kontinyu, akan mengurangi permasalahan yang terus meningkat seiring perjalanan waktu, terutama disebabkan oleh terus meningkatnya populasi dan kebutuhan manusia secara langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan semakin meningkatnya volume sampah  (limbah) dan tentunya menjadi beban bagi lingkungan.
Aktifitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam selalu meninggalkan sisa (sampah) yang dianggapnya sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukanya sebagai barang buangan.
Sampah akan sangat menjadi bermasalah, untuk kota yang padat penduduknya seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Sebab dengan penduduk yang besar, volume sampah juga akan sangat besar bahkan sampai  malebihi kapasitas daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Tak berlebihan jika permasalahan sampah ini menjadi krusial dan tidak bisa disepelekan. Bahkan, dapat diartikan sebagai masalah kultural karena dampaknya juga bersinggungan dengan berbagai sisi kehidupan, terutama di kota besar. Berdasarkan perkiraan, volume sampah yang dihasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari, sehingga untuk kota besar seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 12 juta orang menghasilkan sampah sekitar 6000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, tanah, dan sumber penyakit.
Sampah sebagai barang yang memiliki nilai tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang menjijikan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan yang berguna lainnya. Pengolahan sampah harus dilakukan dengan efektif dan efisien, yaitu sedekat mungkin dengan sumbernya, seperti RT/RW, sekolah, rumah tangga, walhasil  jumlah sampah dapat dikurangi.
Sampah merupakan sumber daya alam yang sangat besar, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik akan menjadi sangat berguna berupa pupuk yang sangat penting sebagai unsur hara di dalam tanah dan tentunya nutrisi bagi tanaman.
Pengelolaan sampah rumah tangga itu dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair dan pupuk padat organik. Pupuk organik ini sangat baik bagi tanaman dan bermanfaat bagi kesehatan manusia, karena tidak meninggalkan residu dalam tanaman seperti terjadi pada penggunaan pupuk kimia secara serampangan sehingga hasil tanaman akan aman bila dikonsumsi.
Menurut pakar lingkungan dari Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan (IPPL) Jakarta. Prof. Dr. M.  Soerjani, pemanfaatan sumber daya (ruang, air, energi, waktu dan sebagainya) oleh kebanyakan manusia, telah dilupakan efektivitas serta faktor optimalisasi penggunaan sumber daya. manusia telah mendahulukan peningkatan keuntungan yang didorong oleh ketamakan atau kerakusan sehingga terjadi persaingan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
            Hal ini terjadi dengan pengurasan sumber daya secara berlebihan sehingga menghasilkan sisa sumber daya yang sebagian tersia-sia dengan nilai atau mutu yang rendah.  Padahal melalui konsep pemanfaatan sumber daya yang optimal tidak perlu dihasilkan sisa yang berlebihan atau sisa yang tercemar. Oleh karena itu sebenarnya semua sisa pemanfaatan sumber daya harus dipikirkan pemanfaatannya yang memungkinkan. Karena itu yang dituju dalam pengelolaan sumber daya adalah konsep resource cycle atau material cycle.
‘’Misalnya, sisa kertas mungkin masih bisa dipergunakan untuk pembungkus, dan lain-lain. Sisa sayuran di pasar mungkin masih bisa dipergunakan untuk acar dan lain-lain,’’katanya
Soerjani juga mengatakan, limbah kota yang masih berguna, baik dari pasar, kantor, rumah makan  atau dari rumah tangga langsung dibawa ke tempat sampah atau penimbunan limbah secara sia-sia. Padahal, limbah yang masih bisa dimanfaatkan semestinya diupayakan untuk diproses terlebih dahulu. Limbah sisanya yang dapat dibakar dapat dimanfaatkan energinya dengan menggunakan insinerator, misalnya digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik seperti di Jepang. Atau dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian, dengan teknologi fermentasi menggunakan mikroorganisme aktif.
 Untuk itulah dalam memanfaatkan dan mendaur ulang limbah menjadi bahan-bahan lain yang bernilai ekomonis, diperlukan perencanaan yang konseptual, menyeluruh dan penanganan dengan menggunakan teknologi yang memadai. Sehingga permasalahan limbah dapat diatasi dan dapat tercipta lapangan kerja dan wirausaha baru yang profesional berbasis pemanfaatan sampah kota dengan produk utama berupa komoditas pupuk organik, pakan ternak dan lain-lain.
Sementara itu Bagong Suyoto, Ketua Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional mengatakan, pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti yang kita bayangkan. Sampah banyak dijumpai dimana-mana tanpa adanya pengelolaan yang baik. Pengelolaan yang buruk mengakibatkan pencemaran baik pencemaran udara, air di dalam dan atas permukaan, tanah, serta munculnya berbagai macam penyakit yang mengancam kesehatan warga
‘’Keberadaan sampah dikehidupan sehari-hari tak lepas dari tangan manusia yang membuang sampah sembarangan, mereka menganggap barang yang telah dipakai tidak memiliki kegunaan lagi dan membuang dengan seenaknya sendiri. Kurang kesadaran akan pentingnya kebersihan menjadi faktor yang paling dominan, disamping itu kepekaan masyarakat terhadap lingkungan harus dipertanyakan. Mereka tidak mengetahui bahaya apa yang akan terjadi apabila tidak dapat menjaga lingkungan sekitar,’’katanya.
Menurut Bagong, sampah dalam kehidupan sehari-hari memiliki manfaat dan kerugian, bermanfaat jika dimanfaatkan dengan baik dan merugikan jika dibiarkan tanpa ada pengelolaan yang baik. Dampak negatif dari pengelolaan pengolahan sampah yang tidak tepat akan menyebabkan beberapa kerugian.
Pengelolaan yang buruk lanjut Bagong, mengakibatkan pencemaran baik pencemaran udara, air di dalam dan atas permukaan, tanah, serta munculnya berbagai macam penyakit yang mengancam kesehatan warga. Pencemaran diberbagai elemen akan terjadi, sampah yang menumpuk menyebabkan pencemaran udara, sampah yang dibuang sembarangan di sungai menyebabkan pencemaran air, membuang sampah anorganik seperti plastik dan kaleng akan menyebabkan pencemaran tanah karena benda tersebut sulit diuraikan oleh bakteri pengurai tanah.
Pencemaran-pencemaran itu nantinya akan membuat kerugian bagi masyarakat sendiri karena menyebabkan beberapa penyakit. Pola hidup kotor dengan membuang sampah sembarangan yang merupakan salah satu pengelolaan dan pengolahan sampah yang tidak tepat yang kedepannya akan menyebabkan kerugian yang fatal bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Jika sampah dikelola dan diolah dengan baik, akan menghasilkan manfaat positif bagi masyarakat. Lingkungan menjadi bersih, pencemaran dapat diminimalisir, dapat tercipta beberapa barang yang bermanfaat bagi manusia jika di daur ulang, Sampah bisa dimanfaatkan sebagai kompos untuk pupuk organik, selain itu juga bisa diolah menjadi energi bio arang, biomass dan energi untuk listrik. Lebih jauh sampah dapat dijadikan barang-barang aksesoris, barang fungsional dan sebagai bahan bangunan.
Untuk keperluan pupuk organik dari sampah kota ini, apabila rata-rata luas lahan di Kabupaten yang ada di Indonesia minimal 60.000 ha, maka khusus pulau jawa yang mencapai 90 % lahan sawah dan perkebunan yang sudah rusak kandungan bahan organiknya itu membutuhkan pupuk organik antara 5 hingga 10 ton/ha. Dan kebutuhan pupuk organik sebanyak itu jelas tidak akan terpenuhi apabila sampah di kota-kota tidak diolah menjadi pupuk organik.
Sampah kota menjadi masalah di perkotaan namun di desa menjadi tumpuan harapan. Hanya saja kualitas pupuk organiknya harus bagus, kontinuitasnya terjamin, kemudahannya dapat terjangkau oleh petani di pedesaan dan yang pasti harganya harus terjangkau dibawah pupuk anorganik yang kini semakin meningkat.*
Masalah sampah memang bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dengan terlibat secara aktif tentu akan mengurangi beban pemerintah. Sehingga, jika Pemprov DKI merasa kewalahan akibat kekurangan kendaraan pengangkut sampah, volume sampah tidak terlalu menumpuk seperti saat ini. (A)


Forum EM Edisi V


Mengolah Sampah Dengan EM4  

            EM4 Sangat dipercaya dalam mengolah sampah rumah tangga, karena disamping murah, efektif,  cepat dan ramah lingkungan.

Setidaknya ini pengakuan beberapa warga masyarakat dalam sosialisasi sampah rumah tangga di lingkungan RT/RW baik ketika sosialisasi di Kecamatan Sukolilo Surabaya Jawa Timur dan berbagai sosialisasi sampah rumah tangga di Jakarta serta di kota-kota besar lainnya..
Menurut Hadi, memproses sampah menjadi kompos merupakan langkah yang paling positif, apalagi menggunakan teknologi EM4 Pengolahan limbah dalam proses penguraiannya, walhasil lebih cepat, lebih efektif dan ramah lingkungan. ’’Kami memang mempercayakan EM4 sebagai bahan pengurai yang sangat efektif dalam membuat kompos, karena disamping murah, dan ramah lingkungan, kompos atau bokashi yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, ‘’kata Hadi, warga Sukolilo Surabaya ini .

Begitu juga dikatakan Mukri yang hadir dalam sosialisasi pada Program Bintaroku Peduli, Majalah Trubus dan PT. Songgolangit Persada Cabang Jakarta, membuat bokashi dengan EM4 lebih efektif, karena tidak memakan tempat dan dilakukan secara cepat.’’Dengan teknologi ini saya rasa masyarakat akan lebih terdorong dalam upaya mencari  solusi menanggulangi sampah yang akhir-akhir ini meresahkan warga karena menimbulkan bau yang tidak sedap,’’katanya.
Menurut Mukri seorang warga yang peduli dengan lingkungan dari Kecamatan Bintaro ini telah mempraktekkan mendaur ulang sampah menjadi kompos dan berbagai barang-barang bermanfaat lainnya.
 ‘’Di lingkungan kami, warga juga telah memakai dua tong sampah yang berbeda, yakni tong sampah untuk bahan organik dan on organik. Dengan pemisahan tempat pembuangan ini, maka pengelolaan sampah baik di rumah maupun di tempat pembuangan akhir akan lebih mudah,’’katanya.
            Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk kompos, sedangkan sampah non-organik bisa dimanfaatkan untuk didaur ulang menjadi berbagai macam barang. Misalnya, Mukri membuat topi dari kantong plastik bekas pembungkus makanan, sedotan untuk bunga atau taplak meja, dan kantong plastik bekas detergen atau pelembut pakaian untuk tempat sepatu.
‘’Kami menyiapkan satu tong plastik besar untuk menampung sampah organik satu RT. Sejak dari rumah, warga telah memisahkan sampah hijau. Sampah itu lalu disetor ke tong yang besar. Jadi, tidak perlu setiap rumah memiliki tong plastik sendiri untuk membuat kompos,’’katanya.

EM4 dikembangkan oleh Profesor Teruo Higa dari Jepang. Dia adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Ryukyu di Okinawa, Jepang. Di Indonesia, teknologi EM dikembangkan oleh oleh Ir. G N Wididana M.Agr atau Pak Oles yang terhimpun dalam Indonesia Kyusei Nature Farming Societies.
EM4 Pengolahan limbah merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan dengan konsep mutakhir dalam bidang mikrobiology daur ulang limbah untuk memfermentasi limbah organik cair dan padat secara efektif. Sedang manfaat EM4 Pengolahan Limbah ini adalah mempercepat proses penguraian limbah organic cair maupun padat, menekan bau yang tidak sedap ( H2S dan NH3 ), menurunkan kadar BOD dan COD, menekan perkembangan mikroorganisme pathogen dan dapat digunakan untuk mendaur ulang limbah organik menjadi  kompos atau bokashi
EM4 sering digunakan sebagai bioaktivator dalam pembuatan pupuk kompos padat dan juga untuk mengolah limbah cair.
Lalu bagaimana membuat kompos atau bokashi dari sampah rumah tangga? Sampah yang bisa dijadikan kompos adalah sampah apa saja yang berasal dari rumah tangga yang bersifat organik seperti potongan sayuran bayam, kangkung, singkong, jagung, dan sayuran basi, sampah daun-daunan pekarangan rumah dan lain-lain..
Sebelum dijadikan bokashi, sampah harus dipisahkan antara yang organik dan non organik seperti sampah plastik, kardus, kertas, bekas minyak, oli, air sabun, dan sebagainya Untuk membuat kompos atau bokashi skala rumah tangga diperlukan ember plastik atau gentong plastik. Apakah itu bekas kaleng cet yang berdiameter  30 cm, atau yang baru, pokoknya wadah yang bisa ditutup. Dibagian bawah dalam tong tersebut diberi tutup panci yang telah dilobangi atau batu bata agar air lindi yang menjadi pupuk cair bisa terpisah dengan pupuk bokashi padat.  
Setelah tong atau ember siap, sampah hijau berupa sisa sayuran, buah, potongan rumput, daun segar, dan sebagainya bisa dimasukkan. Sebaiknya sampah hijau ini dicincang dulu, atau diiris kecil- kecil agar mempercepat proses penghancuran.
 Untuk menambah pengayaan nutrisi kompos yang dihasilkan bisa juga dicampur serbuk gergaji, sekam, kotoran ternak dan dedak. Bahan-bahan tambahan ini memakai perbandingan 1:1, diaduk dengan bahan kompos tadi
Kemudian disemprotkan larutan EM4 (Effective Microorganism yang sudah dicampur dengan molase (limbah kecap), larutan gula merah, atau gula putih. Pembuatan kompos bisa dilakukan sekaligus, atau selapis demi selapis. Misalnya setiap dua hari ditambah sampah yang baru. Kapasitas komposter ini sekitar 5 - 20 kg. Untuk sekali pengolahan, komposter  bisa menghasilkan kompos sebanyak 5 - 10 kg, tergantung besar kecilnya komposter tersebut . Komposter ini cocok disimpan  di halaman belakang ataupun di halaman depan.  Nah, komposnya bisa langsung dipergunakan untuk pupuk tanaman disekitar rumah dan pupuk cairnya (air lindinya) bisa juga dipakai untuk memupuk tanaman tetapi dicampurkan air terlebih dahulu. ‘’Mudahkan  mengolah sampah rumah tangga dengan EM4?.’’kata Zakky Husein, Staf Ahli dari PT. Songgolangit. (A)  

EM Coner Edisi V

EM4 Perikanan Genjot Produksi Ikan Lele

            Untuk menghasilkan produksi Ikan lele secara cepat dan maksimal, terpenting adalah pemberian pakan yang maksimal dan menjaga kesehatan ikan. Untuk menjaga kesehatannya, perlu teknologi pengurai berbagai macam lemak dan kotoran pada kolam ikan, sehingga oksigen terlalut tetap terpenuhi, gas-gas beracun terurai dan ikan pun terhindar dari penyakit dan stress.
            ‘’Dan yang tepat mengurai kotoran ikan yang menjadi penghambat pertumbuhan ikan itu adalah perlakukan EM4 Perikanan pada media ikan tersebut secara rutin,’’demikian dikatakan Sueng pemilik budidaya Ikan lele dari Desa Cogreg, Ciseeng Parung.
            Menurut Sueng, dengan teknologi EM4 Perikanan, produksi ikan lele bisa terjamin. Apalagi untuk anakan lele, dengan menggunakan EM4 Perikanan air tetap terjaga  Menjaga anakan ikan lele boleh dibilang gampang-gampang susah. Sulitnya, karena anakan sangat sensitif, terutama pada kondisi air. ‘’Saya dulu kesulitan memelihara anakan ikan lele, hampir 5000 anakan dari 10.000 anakan ikan lelenya mati, karena kondisi air yang buruk, namun dengan EM4 sekarang sudah aman, tingkat kematian anakan bisa ditekan,’’jelasnya..
            Dalam sosialisasi yang diadakan Kacab PT. Songgolangit Jakarta, Ir. Agoes Wibisana, memang banyak sekali perlakukan terhadap anakan keliru. Menurut Agues, penggunaan EM4 Perikanan pada anakan ikan leleh sebenarnya sangat mudah, namun terlebih dahulu, perlu diperhatikan kondisi air termasuk pH, suhu air. Bahkan pemberian pakan buatan mengakibatkan menumpuknya kotoran yang menimbulkan  zat-zat berbahaya seperti amoniak,  H2S dan lain-lain.
            Karena itulah  Sueng secara khusus mengundang Tim EM4 Jakarta untuk menangani dan memberikan solusi terbaiknya dalam mengaplikasikan EM4 pada ikan tersebut.
            Menurut Agues, pada analisis awal, terdapat pH yang tidak seimbang, kemungkinan kedua,  ikan lele milik Sueng ini mengalami keracunan air yang mengandung amoniak, CO2, H2S dan gas berbahaya lainnya, sehingga harus diberikan EM4. (A)

Jawa Tengah
Kelinci Teknologi EM4 Lebih Cepat Besar
            Ini dibuktikan Peternak kelinci, Sri Warno dari Kelurahan Patrobangsan, Magelang Utara Jawa tengah, ternak kelinci lebih cepat besar dan mudah berkembang biak.  ‘’Baru tiga bulan saja kelinci sudah besar-besar dan sudah berkembang biak,’’katanyanya.
Menurut Sri, memelihara kelinci gampang-gampang susah. Kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh perhatian dan perawatan peternaknya. Jenis, jumlah dan mutu makanan yang diberikan sangat menentukan pertumbuhan, kesehatan dan perkembangbiakannya termasuk memberikan minum dengan EM4.
Makanan kelinci yang baik adalah yang terdiri dari sayuran hijau, jerami, biji-bijian, umbi dan konsentrat. Makanan hijau yang diberikan antara lain semacam rumput lapangan, sayuran seperti kangkung dan wortel, daun pepaya, daun talas dan lain-lain. ‘’Sayuran hijau yang akan diberikan pada kelinci ini kalau bisa telah dilayukan dan jangan dalam keadaan segar. Proses pelayuan selain untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga untuk menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau mencret,’’Jelas Sri
Dengan rutin memberikan minuman yang telah difermentasi dengan EM4, kelinci terlihat sangat sehat. ‘’Ciri-ciri kelinci sehat bisa dilihat dari penampilannya yang lincah, serta mata yang tajam tidak layu,’’katanya.
Kandang yang dipakai sebaiknya berukuran minimal 60 x 40 sentimeter untuk seekor kelinci. Kandang itu harus bersih, tidak lembab, cukup penyinaran, dan anam dari makhluk predator semisal musang, tikus, dan ular.
Penyakit yang sering diderita kelinci adalah scabbies, sejenis kudis di kulit yang amat gatal. Penyakit ini biasanya muncul bila ia berada di tempat yang lembab tapi bisa diatasi dengan Minyak  Oles Bokashi.
Kebanyakan kelinci yang dipotong dan dimasak begitu adalah yang berasal dari Selandia Baru, atau Australia. Jenis lain adalah Flaam Reuss yang berasal dari eropa. Biasanya berat kelinci ini mencapai 5-6 kg per ekor. ‘’Sebenarnya semua jenis kelinci bisa dipotong, tapi orang sayang karena bulunya yang menarik dan binatangnya lucu. Jadi, kelinci dipelihara saja,’’katanya.(A)

Jawa Timur
Dengan EM4 Melon Berbuah Manis
            Berbeda  dengan tahun lalu, tahun ini buah melon milik Heru Purnomo asal desa Bagorejo, Banyuwangi Jawa Timur. Berbuah banyak, dan besar-besar. Dan yang uniknya rasa manisnya itu sangat berbeda sesali pada tahun lalu. Tahun lalu memang berbeda dengan tahun sekarang, dulu tidak memakai EM4 alias pemupukan konfensional, sekarang menggunakan EM4.
            Dulu berbuah sedikit, sekarang berbuah banyak dan manis. Walhasil, melon Heru banyak diminati masyarakat. Bahkan banyak masyarakat Banyuwangi yang langsung membeli dari ladang Heru yang luasnya sebanyak 1 hektar. Di lahan tersebut tak hanya  Melon tetapi juga  memiliki perkebunan semangka yang terkenal juga manisnya.
            ‘’Sejak saya memakai EM4, rasa buah melon saya lebih manis dan banyak masyarakat yang langsung membeli di ladang. Di ladang ini silahkan saja, konsumen memilih mana yang menurut mereka paling manis,’’katanya bangga.
            Berbeda dengan tahun lalu, Heru mengingat kebunnya ini jarang sekali dikunjungi masyarakat. Karena selain rasanya kurang manis hasil produksinya juga sedikit. ‘’ Saya hanya mengandalkan bokashi padat dan cair untuk pemupukan dan hasilnya cukup memuaskan,’’kata Heru yang juga memiliki ternak ayam potong.
            Apalagi kata Heru, biaya pemupukannya lebih irit dibandngkan menggunakan pupuk kimia sepeti NPK. Dan yang pasti buahnya lebih aman untuk dikonsumsi. ‘’Karena itu banyak masyarakat yang menyukai  buah melon saya ini karena sangat organik,’’katanya.
Disamping memberikan hasil yang baik, penggunaan bokashi juga dapat menekan biaya produksi. Karena penggunaan EM4 itu sangat irit. Dengan menggunakan EM4 tanah menjadi subur, lebih gembur dan perkembangan tanaman melon lebih cepat dan buahnya lebih manis. Heru juga berharap, lahan perkebunan melon nya menjadi percontohan bagi petani yang ingin mengembangan  tanaman ini. (A)



Forum Usaha Edisi V


Belimbing Dewa Organik  Depok
Pilihan Usaha 
            Belimbing Depok kini makin dikenal masyarakat. Bahkan sudah sampai pasaran eropa. Warnanya kuning kemerahan, ukurannya cukup besar (150 gram-350 gram per buah), serta rasanya manis dan segar karena itu tidak salah, buah ini dijadikan maskot Kota Depok sebagai salah satu primadona agrobisnis masyarakat Kota Depok Jawa Barat.
            Varietas Belimbing Dewa-Dewi ini banyak dibudidaya masyarakat Depok di 6 kecamatan yaitu Sawangan, Pancaran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Limo dan Beji. Salah satu petani Belimbing Dewa yang berhasil dari Kecamatan Sawangan adalah Syukron Muchtar  (36th)
Syukron yang asli putra Depok ini merupakan petani belimbing organik yang cukup berhasil. Dengan usaha ini, Syukron yang juga memiliki usaha catering mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Tak hanya itu, Syukron yang  memiliki lahan 1 hektar budidaya Belimbing di percaya memimpin Kelompok Tani Prima Nusantara (KTPN) yang ada diwilayah itu. Kelompok ini beranggotakan petani Belimbung, petani Buah Jambu Merah dan peternak hewan kambing.
‘’Ketertarikan saya  memulai usaha bididaya belimbing dan jamu merah ini terdorong karena pemanfaatan limbah dari usaha catering yang saya jadikan pupuk organik bokashi dengan teknologi EM4. Dulu saya sanksi dengan pupuk organik, namun setelah ditritmen buah belimbing berbuah lebih lebat, pohon kelihatan sehat, buahnya besar-besar, lebih manis, tahan lama, dan organik tentunya,’’katanya. Budidaya Tanaman Belimbing, (Averrhoa Carambola) memang tak mudah Perlu dilakukan perawatan. Untuk mendapatkan buah belimbing yang bagus, penampilannya mulus, dan rasanya manis, tanaman butuh perawatan yang memadai. Perawatan  tanaman dimulai sejak bibit ditanam hingga tanaman tersebut terus berproduksi (25 - 30 tahun).  Perawatan itu meliputi penyiraman,  pemangkasan, dan penjarangan buah dan yang tak kalah pentingnya adalah pemupukan.‘’Saya merasakan pupuk organik dengan teknologi EM4 mampu memberikan hasil yang berkualitas disamping bebas residu kimia,’’jelasnya. 
Untuk memenuhi keperluan pupuk organik, baik bokashi padat maupun bokashi cair, Sukron membuatnya sendiri.’’Saya memiliki 100 ternak kambing yang siap menghasilkan pupuk organik, tak hanya itu air seni ternakpun saya manfaatkan untuk pupuk cairnya,’’katanya Penggunaan bokashi juga sedikit, untuk satu lubang bibit buah belimbing jarak 6 x 6 cm hanya 20 kg bokashi selama 1 tahun, kemudian setiap seminggu sekali disirami pupuk cair yang telah difermentasi. Setelah umur 2 tahun diberi pupuk  bokashi padat kembali perpohon 30 kg dan pupuk cair fermentasi air seni ternak yang telah diencerkan dengan air 1 liter / pohon. Setelah usia 3 tahun belimbing sudah aktif berproduksi. ‘’Sebetulnya satu tahun juga sudah mulai belajar berbuah tapi untuk menghasilkan produksi yang bagus, diusia 3 tahun 1 pohon  belimbing bisa menghasilkan antara 100 -150 buah. Sedang pada usia 4 dan selanjutnya, 1 pohon belimbing bisa menghasilkan 200 – 500 buah bahkan lebih. Menurut Pria bersahaja ini, budidaya belimbing sangat menguntungkan, apalagi dengan menggunakan pupuk organik. Karena biayanya lebih murah dengan hasil yang berkualitas tentunya. ‘’Jadi Belimbing Dewa dewi organik memiliki beberapa kelebihan diantaranya kandungan air lebih tinggi daripada belimbing-belimbing lain, sehingga  lebih tahan lama. Dalam ruangan sejuk, belimbing ini mampu mempertahankan kesegarannya hingga satu minggu, sedangkan yang lain hanya dua hingga tiga hari,’’katanya.

Analisis Usaha Budidaya
Potensi produksi buah belimbing yang ditanam di kebun secara permanen dan dipelihara intensif, dengan jarak tanam antara  6x 6 m, bila populasi tanaman belimbing per hektar antara 250–400 pohon dengan potensi produktivitas 150–300 buah/pohon/tahun, dan berat per buah rata-rata 160 gram, maka dapat dihasilkan/tingkat produksi per hektar mencapai 6–19 ton buah belimbing.
Pada panen raya belimbing, harga belimbing rata-rata mencapai Rp. 5.000,- per kg. Maka kita dapat menghitung berapa Rupiah besar penghasilan yang didapat dalam 1 hektar per tahun. Tentunya setelah dikurangi biaya-biaya produksi yang dikeluarkan, seperti: pembibitan, pemeliharaan, pemupukan, panen/pascapanen, dan lain-lain.
Prospek pemasaran belimbing di dalam negeri diperkirakan makin baik. Hal ini antara lain disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan semakin banyaknya konsumen menyadari pentingnya kecukupan gizi dari buah-buahan. Maka untuk mencapai kecukupan gizi yang sesuai dengan anjuran FAO menargetkan rata-rata 60 Kg per kapita per tahun.
Salah satu jenis buah potensial yang mudah dibudidayakan untuk mendukung pencapaian target tersebut adalah belimbing. Perkiraan permintaan setiap tahun semakin meningkat, peningkatan permintaan tersebut adalah sebesar 6,1 %/tahun (1995–2000), 6,5 %/tahun (2000–2005), 6,8 %/tahun (2005–2010), dan mencapai 8,9 %/tahun (2010 - 2015).
        Jelaslah bahwa prospek usahatani (agribisnis) belimbing amat cerah bila dikelola secara 
intensif dan komersial, baik dalam bentuk kultur perkebunan, pekarangan, maupun Tabulampot.*